PT Prodia Diagnostic Line Tbk atau Proline menjadi salah satu calon emiten baru yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan ini bergerak di bidang pembuatan dan pengolahan alat kesehatan terkait diagnosa medis, khususnya produk In Vitro Diagnostic / IVD.
Sektor kesehatan memang menarik karena kebutuhan layanan diagnostik terus berkembang. Namun, seperti biasa, setiap IPO tetap perlu dianalisis dari sisi bisnis, penggunaan dana, kinerja keuangan, valuasi, dan risikonya.
Profil Singkat Perusahaan
PT Prodia Diagnostic Line Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang alat kesehatan diagnostik. Kegiatan usahanya meliputi produksi alat kesehatan, jasa kalibrasi, pengujian alat kesehatan, serta perdagangan alat laboratorium, alat farmasi, dan alat kedokteran.
Perusahaan ini masih memiliki hubungan dengan Grup Prodia. Setelah IPO, pemegang saham utama tetap terdiri dari PT Prodia Utama, PT Prodia Widyahusada Tbk, dan DiaSys Diagnostic Systems GmbH.
Detail Penawaran IPO
Dalam IPO ini, Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 522.900.000 saham baru atau setara dengan 30% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.
Harga penawaran awal berada di kisaran Rp100 sampai Rp120 per saham. Dengan harga tersebut, dana yang berpotensi dihimpun Perseroan mencapai maksimal Rp62,748 miliar.
Penjamin pelaksana emisi efek dalam IPO ini adalah PT Sucor Sekuritas.
Jadwal IPO
Tahapan
Jadwal
Masa Penawaran Awal
18–23 Juni 2026
Tanggal Efektif
29 Juni 2026
Masa Penawaran Umum
1–7 Juli 2026
Tanggal Penjatahan
7 Juli 2026
Distribusi Saham
8 Juli 2026
Pencatatan di BEI
9 Juli 2026
Jadwal ini masih dapat berubah mengikuti proses efektif dari OJK dan ketentuan penawaran umum.
Penggunaan Dana IPO
Pertama, sekitar 62,57% digunakan untuk pelunasan pokok fasilitas kredit kepada Bank Central Asia Tbk dan Bank Pan Indonesia Tbk.
Kedua, sekitar 28,92% digunakan untuk belanja modal, antara lain pembelian mesin dan peralatan kalibrasi, kendaraan, system software, relayout area produksi, serta penambahan AHU Lab Biomolekuler.
Ketiga, sisanya sekitar 8,51% akan digunakan sebagai modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, biaya pengembangan produk, serta selling and marketing.
Dari sini terlihat bahwa sebagian besar dana IPO digunakan untuk pelunasan utang, bukan sepenuhnya untuk ekspansi usaha.
Kinerja Keuangan
Secara kinerja, Proline mencatatkan perbaikan pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2024.
Keterangan
2025
2024
2023
Pendapatan
Rp74,37 M
Rp58,66 M
Rp111,78 M
Laba Bersih
Rp16,99 M
Rp10,00 M
Rp35,78 M
Total Aset
Rp194,43 M
Rp184,08 M
Rp125,14 M
Total Liabilitas
Rp111,37 M
Rp117,90 M
Rp68,96 M
Total Ekuitas
Rp83,06 M
Rp66,18 M
Rp56,18 M
Pendapatan tahun 2025 tumbuh sekitar 26,79% dibanding 2024. Laba bersih juga naik sekitar 69,93%. Namun, jika dibandingkan dengan tahun 2023, pendapatan dan laba 2025 masih lebih rendah.
Rasio keuangan 2025: ROE 20,45%, ROA 8,74%, Current Ratio 2,14x, DER 1,34x.
Valuasi IPO
Setelah IPO, jumlah saham menjadi sekitar 1,74 miliar. Dengan laba bersih 2025 sebesar Rp16,99 miliar, EPS setelah IPO diperkirakan ±Rp9,75 per saham.
Harga IPO
Estimasi PER
Rp100
±10,3x
Rp120
±12,3x
Dari sisi PER, valuasi Proline masih terlihat cukup wajar, terutama jika dibandingkan dengan beberapa IPO lain yang sering kali memiliki PER jauh lebih tinggi. Namun, valuasi ini tetap perlu dibandingkan dengan prospek pertumbuhan bisnis ke depan.
Risiko Utama
Risiko utama yang disebutkan dalam prospektus adalah ketergantungan terhadap belanja pemerintah pada sektor kesehatan. Jika anggaran atau realisasi belanja pemerintah menurun, permintaan terhadap produk perusahaan bisa terdampak.
Selain itu, terdapat risiko lain seperti fluktuasi permintaan, persaingan usaha, perubahan teknologi, risiko operasional, kelangkaan sumber daya, klaim produk, tanggung jawab hukum, dan risiko lingkungan.
Kesimpulan
IPO PT Prodia Diagnostic Line Tbk menarik untuk dicermati karena perusahaan berada di sektor kesehatan, memiliki pertumbuhan pendapatan dan laba pada tahun 2025, serta valuasi PER yang masih terlihat cukup masuk akal di kisaran 10–12x.
Namun, investor tetap perlu berhati-hati. Sebagian besar dana IPO digunakan untuk pelunasan utang, dan risiko utama perusahaan adalah ketergantungan terhadap belanja pemerintah di sektor kesehatan.
Menurut saya, IPO ini layak masuk watchlist, terutama jika harga final berada di level yang tidak terlalu tinggi. Tetapi keputusan membeli tetap perlu mempertimbangkan prospektus final, kondisi pasar, minat investor, serta manajemen risiko masing-masing.
📌 Jika artikel ini bermanfaat, silahkan bagikan kepada rekan investor lainnya. Semoga menjadi referensi yang berguna dalam pengambilan keputusan investasi.