Kampungku Bukan di Sini

Ungkapan “Hujan dulu baru pelangi” benar juga. Indah dan manis itu tidak datang tiba-tiba, namun ada proses sebelumnya. Dan proses itu jarang yang mulus tanpa drama, banyak kelok dan turun mendaki. Makanya dalam proses kita butuh motivasi. Semisal orang yang berkata, “Sabar sementara, nanti biar
jadi cerita”
Yang paling merasakan ini adalah mereka yang siap lepas dari zona nyaman, demi sukses di masa depan. Tak jarang harus berpisah dengan kampung halaman, keluarga tercinta dan kawan-kawan. Banyak dari mereka yang kini menikmati, dulunya menempuh jalan ini. Mereka dipaksa untuk kuat, bertanggung jawab dan mandiri.
Mereka orang-orang pergi membawa janji, dan bertekad pulang menggenggam mimpi. Pantang bagi mereka pulang, tanpa membawa kebanggaan. Mereka tak mau menjalani masa tua tersia-sia jika masa muda bermanja-manja. Dengan inilah mereka tak peduli dengan segala tantangan yang harus dihadapi
Di perantauan, mereka berani berhujan-hujan sambil menunggu terbitnya pelangi. Makan seadanya, berbagi kamar sempit dengan beberapa kawan. Pakaian dan perabotan sebatas yang fungsional saja. Aksesoris dan gengsi tidak masuk dalam hitungan mereka. Rupiah demi rupiah benar-benar
dijaga, agar kelak menjadi lebih berharga. Konsep bersakit-sakit dahulu, bersenang-sengang kemudian benar benar tertanam.
Ketika warga pribumi saling bersaing, mereka merasa berdiri di luar arena. Tidak terpancing dengan perilaku mereka. Bukan mereka putus asa dengan keadaaan yang ada, namun karena mereka punya arena perlombaan yang berbeda.
Seorang perantau memimpikan masa kembali yang bahagia. Maka dari tiap tetes keringat dan air mata di negeri orang, adalah tetes-tetes tabungan di kampung halaman.
Apa yang diperebutan warga pribumi di sini, bukan tidak ia minati. Karena diam-diam, ia pun berusaha untuk memilliki, bahkan ia ingin yang lebih baik lagi, namun bukan di sini. Ia siapkan untuk di kampung halaman nanti.
Sadar tidak sedang di kampung sendiri dan harus pulang di suatu hari nanti, benar-benar menjadikan mereka kuat bertahan.
Demikian agaknya persepsi mereka yang menyadari dunia ada negeri perantauan. Ketika berkorban
waktu untuk amal ketaatan, mereka meyakini sedang menyiapkan hidup setelah kepulangan. Saat menyisihkan sebagian hasil kerja di jalan kebaikan, mereka meyakini tengah menabung untuk hidup di kampung halaman.
Dan dia menyadari, berapa dan bagamana yang ia sisihkan kini, akan sangat berpengaruh pada kemegahan tempat tinggal di akhirat nanti. Hingga untuk yang seperti ini, ia tak hanya mengandalkan sisa kebutuhan sehari-hari. Namun ia jadikan sebagai mata anggaran yang harus diprioritaskan.
Mereka sangat mengerti, semahal apapun yang ia tanam di negeri perantauan ini, adalah sesuatu yang harus ditinggalkan saat kepulangan nanti. Dan sangat disayangkan kalau itu terjadi.
Allah berfirman,
“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, sungguh,
mereka akan Kami tempatkan pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga.” (QS Al-‘Ankabut ayat 58).
Belajar dari prinsip mereka, kita melihat pada diri kita terkadang ada kontradiksi. Kita begitu sigap merespon gangguan fasilitas hidup di dunia ini, sehingga segera kita perbaiki. Namun untuk kenyamana di akhirat sana, kita sering menomorduakannya.
Para ulama mengamati, fenomena kurangnya persiapan inilah yanag menjadikan manusia tidak suka berbicara kematian. Seorang dari mereka, Salamah bin Dinar, ditanya oleh raja yang berkuasa ketika itu,
“Wahai Abu Hazim, mengapa kita membenci kematian?”
Beliau menjawab, “Karena kita memakmurkan dunia kita dan menelantarkan akhirat kita. Dan sangat
wajar jika kita benci keluar dari kemakmuran menuju kehancuran.”
Hmm… Kita sibuk menata rumah yang akan kita tinggalkan, tapi lupa menyiapkan rumah tempat kita akan tinggal selamanya.
Penulis : Ustadz Bambang Susilo
Pengajar Ponpes Ibnu Taimiyyah Sumpiuh