
Bahaya Mengikuti Syahwat dan Cara Mengendalikannya

Mengapa seseorang sulit meninggalkan maksiat meskipun mengetahui hukumnya? Mengapa pula kenikmatan yang terus dikejar justru sering membuat hati semakin gelisah? Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah dengan menuruti seluruh keinginan, melainkan dengan ilmu, iman, dan kemampuan mengendalikan syahwat.
Mengenal Syahwat dan Bahayanya
Manusia diciptakan Allah dengan berbagai keinginan. Ada keinginan untuk makan, minum, menikah, memiliki harta, memperoleh kedudukan, dan menikmati kehidupan. Semua itu merupakan bagian dari fitrah manusia.
Namun, masalah muncul ketika keinginan tersebut tidak lagi dikendalikan oleh iman dan ilmu. Seseorang bisa mengetahui bahwa suatu perbuatan dilarang Allah, tetapi tetap melakukannya karena tidak mampu menahan syahwatnya.
Allah Ta’ala berfirman,
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.“(QS. Ali Imran: 14)
Ayat ini tidak menunjukkan bahwa seluruh keinginan tersebut haram. Justru Islam mengajarkan manusia untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya melalui jalan yang halal.
Makan merupakan kebutuhan. Menikah adalah ibadah apabila dilaksanakan sesuai syariat. Memiliki harta juga dapat menjadi sarana untuk memperoleh pahala.
Yang berbahaya bukanlah keberadaan syahwat, melainkan ketika syahwat menjadi pemimpin dan agama hanya dijadikan pengikut.
Secara bahasa, syahwat (الشَّهْوَةُ) adalah keinginan atau kecenderungan yang kuat terhadap sesuatu yang dianggap menyenangkan.
Dalam pembahasan akhlak dan penyucian jiwa, syahwat yang tercela adalah keinginan yang mendorong seseorang melanggar batasan Allah atau melalaikan kewajibannya.
Syahwat yang Paling Berbahaya: Ketika Hawa Nafsu Menjadi Tuhan
Allah Ta’ala berfirman,
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Inilah keadaan yang sangat berbahaya: seseorang mengetahui kebenaran, tetapi lebih memilih keinginan dirinya.
Syahwat yang perlu diwaspadai tidak terbatas pada syahwat seksual. Ada syahwat terhadap harta, jabatan, pujian, popularitas, kekuasaan, dan berbagai kenikmatan dunia.
Di antara bentuk syahwat yang sangat berat fitnahnya adalah ketertarikan seksual yang mengantarkan kepada perbuatan haram.
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku meninggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih membahayakan bagi kaum laki-laki daripada wanita.”
Takhrij hadis: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 5096, dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab An-Nikah; dan Muslim, no. 2740, dalam Shahih Muslim, Kitab Ar-Riqaq. Hadis ini sahih dan muttafaq ‘alaih.
Hadis ini secara khusus memperingatkan laki-laki tentang beratnya ujian ketertarikan terhadap perempuan. Bukan berarti perempuan merupakan sumber keburukan, karena laki-laki pun dapat menjadi ujian bagi perempuan.
Karena itu, laki-laki dan perempuan sama-sama diperintahkan menjaga pandangan dan kehormatan sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nur ayat 30–31.
Dalam kehidupan sekarang, fitnah ini semakin mudah dijumpai melalui layar ponsel. Seseorang tidak perlu keluar rumah untuk melihat sesuatu yang dilarang. Bahkan, ketika sedang sendirian di kamar, berbagai pintu maksiat dapat terbuka melalui media sosial, film, dan tontonan digital.
Pertanyaannya, apakah seseorang akan terus mengikuti keinginannya, atau justru melatih dirinya agar mampu mengendalikan syahwat?
Nasihat Ibnul Qayyim: Orang yang Diperbudak Syahwat Sulit Meraih Ilmu
Dalam Miftah Dar As-Sa’adah, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu golongan manusia yang terhalang dari tingginya kedudukan ilmu, yaitu mereka yang terlalu sibuk mengejar kenikmatan.
Berikut dua nukilan yang disampaikan secara utuh sesuai teks Arab yang menjadi bahan tulisan ini, disertai terjemahan.
Golongan Ketiga: Pengejar Kenikmatan – Diperbudak Syahwat
الصِّنْفُ الثَّالِثُ: رَجُلٌ نَهْمَتُهُ فِي نَيْلِ لَذَّتِهِ، فَهُوَ مُنْقَادٌ لِدَاعِي الشَّهْوَةِ أَيْنَ كَانَ، وَلَا يَنَالُ دَرَجَةَ وِرَاثَةِ النُّبُوَّةِ مَعَ ذَلِكَ، وَلَا يَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِهَجْرِ اللَّذَّاتِ وَتَطْلِيقِ الرَّاحَةِ.
قَالَ مُسْلِمٌ فِي «صَحِيحِهِ»: «قَالَ يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ: لَا يُنَالُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ».
وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ: «أَجْمَعَ عُقَلَاءُ كُلِّ أُمَّةٍ أَنَّ النَّعِيمَ لَا يُدْرَكُ بِالنَّعِيمِ، وَمَنْ آثَرَ الرَّاحَةَ فَاتَتْهُ الرَّاحَةُ».
فَمَا لِصَاحِبِ اللَّذَّاتِ وَمَا لِدَرَجَةِ وِرَاثَةِ الْأَنْبِيَاءِ!
فَدَعْ عَنْكَ الْكِتَابَةَ لَسْتَ مِنْهَا … وَلَوْ سَوَّدْتَ وَجْهَكَ بِالْمِدَادِ
فَإِنَّ الْعِلْمَ صِنَاعَةُ الْقَلْبِ وَشُغْلُهُ؛ فَمَا لَمْ يَتَفَرَّغْ لِصِنَاعَتِهِ وَشُغْلِهِ لَمْ يَنَلْهَا، وَلَهُ وِجْهَةٌ وَاحِدَةٌ؛ فَإِذَا وُجِّهَتْ وِجْهَتُهُ إِلَى اللَّذَّاتِ وَالشَّهَوَاتِ انْصَرَفَتْ عَنِ الْعِلْمِ.
وَمَنْ لَمْ تَغْلِبْ لَذَّةُ إِدْرَاكِهِ لِلْعِلْمِ وَشَهْوَتُهُ عَلَى لَذَّةِ جِسْمِهِ وَشَهْوَةِ نَفْسِهِ لَمْ يَنَلْ دَرَجَةَ الْعِلْمِ أَبَدًا، فَإِذَا صَارَتْ شَهْوَتُهُ فِي الْعِلْمِ وَلَذَّتُهُ فِي إِدْرَاكِهِ رُجِيَ لَهُ أَنْ يَكُونَ مِنْ جُمْلَةِ أَهْلِهِ.
Golongan ketiga adalah orang yang seluruh keinginannya tertuju pada memperoleh kenikmatan. Ia selalu mengikuti ajakan syahwat ke mana pun syahwat itu mengarah.
Dengan keadaan demikian, ia tidak akan mencapai derajat sebagai pewaris kenabian. Sebab, ilmu tidak dapat diraih kecuali dengan meninggalkan berbagai kenikmatan dan melepaskan diri dari kebiasaan bersantai.
Imam Muslim menyebutkan dalam kitab Shahih-nya perkataan Yahya bin Abi Katsir,
“Ilmu tidak dapat diraih dengan tubuh yang selalu bersantai.”
Ibrahim Al-Harbi juga berkata,
“Orang-orang berakal dari setiap umat telah sepakat bahwa kenikmatan tidak dapat diperoleh dengan terus-menerus menikmati kesenangan. Siapa yang lebih mengutamakan istirahat, justru akan kehilangan kesempatan memperoleh ketenangan.”
Lantas, bagaimana mungkin orang yang hanya mengejar kenikmatan dapat mencapai kedudukan sebagai pewaris para nabi?
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah syair,
“Tinggalkanlah kegiatan menulis, karena engkau bukan termasuk ahlinya, meskipun engkau telah menghitamkan wajahmu dengan tinta.”
Sesungguhnya ilmu merupakan pekerjaan dan kesibukan hati. Selama hati tidak menyediakan dirinya untuk pekerjaan tersebut, seseorang tidak akan memperoleh ilmu sebagaimana mestinya.
Hati hanya memiliki satu arah perhatian yang utama. Apabila seluruh perhatiannya diarahkan kepada kenikmatan dan syahwat, perhatiannya akan berpaling dari ilmu.
Siapa yang kenikmatan memahami ilmu dan keinginannya untuk memperoleh ilmu tidak mampu mengalahkan kenikmatan jasmani serta syahwat dirinya, ia tidak akan mencapai derajat ilmu yang tinggi.
Namun, apabila keinginannya telah tertuju kepada ilmu dan kenikmatannya terletak pada memahami ilmu, diharapkan ia termasuk golongan orang yang benar-benar berilmu.
Pelajaran penting:
Ibnul Qayyim tidak sedang mengharamkan seluruh kesenangan. Beliau sedang menjelaskan bahwa untuk memperoleh sesuatu yang mulia, seseorang harus bersedia mengorbankan sebagian kesenangan yang lebih rendah.
Seorang penuntut ilmu tidak mungkin berhasil apabila seluruh waktunya dihabiskan untuk bermain, menonton, bersantai, dan mengikuti berbagai keinginan.
Nasihat ini sangat relevan bagi generasi muda. Ada yang sanggup menghabiskan berjam-jam untuk melihat video pendek, tetapi merasa berat membaca Al-Qur’an selama beberapa menit. Ada pula yang mampu mengikuti serial film hingga larut malam, tetapi mengantuk ketika mengikuti kajian.
Masalahnya bukan semata-mata kekurangan waktu, melainkan ke mana hati mengarahkan perhatian dan kesenangannya.
Tiga Jenis Kenikmatan Menurut Ibnul Qayyim
Imam Ibnul Qayyim melanjutkan pembahasannya dengan membedakan tiga bentuk kenikmatan, yaitu kenikmatan ruhani, kenikmatan jasmani, dan kenikmatan yang bersifat setani.
وَلَذَّةُ الْعِلْمِ لَذَّةٌ عَقْلِيَّةٌ رُوحَانِيَّةٌ مِنْ جِنْسِ لَذَّةِ الْمَلَائِكَةِ، وَلَذَّةُ شَهَوَاتِ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ وَالنِّكَاحِ لَذَّةٌ حَيَوَانِيَّةٌ يُشَارِكُ الْإِنْسَانَ فِيهَا الْحَيَوَانَ، وَلَذَّةُ الشَّرِّ وَالظُّلْمِ وَالْفَسَادِ وَالْعُلُوِّ فِي الْأَرْضِ شَيْطَانِيَّةٌ يُشَارِكُ صَاحِبَهَا فِيهَا إِبْلِيسُ وَجُنُودُهُ.
وَسَائِرُ اللَّذَّاتِ تَبْطُلُ بِمُفَارَقَةِ الرُّوحِ الْبَدَنَ، إِلَّا لَذَّةُ الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ، فَإِنَّهَا تَكْمُلُ بَعْدَ الْمُفَارَقَةِ؛ لِأَنَّ الْبَدَنَ وَشَوَاغِلَهُ كَانَ يَنْقُصُهَا وَيُقَلِّلُهَا وَيَحْجُبُهَا، فَإِذَا انْطَوَتِ الرُّوحُ عَنِ الْبَدَنِ التَذَّتْ لَذَّةً كَامِلَةً بِمَا حَصَّلَتْهُ مِنَ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ؛ فَمَنْ طَلَبَ اللَّذَّةَ الْعُظْمَى، وَآثَرَ النَّعِيمَ الْمُقِيمَ، فَهُوَ فِي الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ اللَّذَيْنِ بِهِمَا كَمَالُ سَعَادَةِ الْإِنْسَانِ.
وَأَيْضًا؛ فَإِنَّ تِلْكَ اللَّذَّاتِ سَرِيعَةُ الزَّوَالِ، وَإِذَا انْقَضَتْ أَعْقَبَتْ هَمًّا وَغَمًّا وَأَلَمًا يَحْتَاجُ صَاحِبُهَا أَنْ يُدَاوِيَهُ بِمِثْلِهَا دَفْعًا لِأَلَمِهِ، وَرُبَّمَا كَانَ مُعَاوَدَتُهُ لَهَا مُؤْلِمًا لَهُ كَرِيهًا إِلَيْهِ، لَكِنْ يَحْمِلُهُ عَلَيْهِ مُدَاوَاةُ ذَلِكَ الْغَمِّ وَالْهَمِّ.
فَأَيْنَ هَذَا مِنْ لَذَّةِ الْعِلْمِ، وَلَذَّةِ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ، وَمَحَبَّتِهِ، وَالْإِقْبَالِ عَلَيْهِ، وَالتَّنَعُّمِ بِذِكْرِهِ؟! فَهَذِهِ هِيَ اللَّذَّةُ الْحَقِيقِيَّةُ.
Kenikmatan ilmu merupakan kenikmatan akal dan ruhani yang sejenis dengan kenikmatan para malaikat.
Adapun kenikmatan syahwat berupa makan, minum, dan hubungan suami istri merupakan kenikmatan jasmani yang juga dirasakan oleh hewan.
Sementara itu, kenikmatan melakukan kejahatan, kezaliman, kerusakan, dan kesombongan di muka bumi merupakan kenikmatan setani. Orang yang menikmatinya memiliki kesamaan dengan Iblis dan bala tentaranya dalam hal tersebut.
Seluruh kenikmatan lainnya akan terputus ketika ruh berpisah dari badan, kecuali kenikmatan ilmu dan iman. Kenikmatan keduanya justru menjadi sempurna setelah perpisahan tersebut.
Hal itu karena badan beserta berbagai kesibukannya dahulu dapat mengurangi, membatasi, dan menghalangi kenikmatan ilmu dan iman.
Ketika ruh telah berpisah dari badan, ruh akan merasakan kenikmatan yang sempurna berkat ilmu bermanfaat dan amal saleh yang telah diperolehnya.
Oleh karena itu, siapa yang mencari kenikmatan paling agung dan lebih memilih kebahagiaan yang abadi, hendaklah ia mencarinya melalui ilmu dan iman. Dengan keduanya, kebahagiaan manusia mencapai kesempurnaannya.
Selain itu, berbagai kenikmatan tersebut cepat sekali menghilang. Ketika telah berlalu, terkadang kenikmatan itu meninggalkan kegelisahan, kesedihan, dan penderitaan.
Orang yang mengalaminya kemudian merasa perlu mengobati penderitaan tersebut dengan kembali mencari kenikmatan serupa.
Bahkan, terkadang mengulangi kenikmatan tersebut justru terasa menyakitkan dan tidak disukainya. Namun, ia tetap melakukannya karena ingin menghilangkan kegelisahan dan kesedihan yang dirasakannya.
Lantas, bagaimana mungkin kenikmatan seperti itu dibandingkan dengan kenikmatan ilmu, kenikmatan beriman kepada Allah, mencintai-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, dan merasakan keindahan berzikir kepada-Nya?
Inilah kenikmatan yang sesungguhnya.
Memahami tiga kenikmatan dalam kehidupan sehari-hari
| Jenis kenikmatan | Contoh | Penilaian |
|---|---|---|
| Ruhani (رُوحَانِيَّةٌ) | Ilmu bermanfaat, iman, zikir, cinta kepada Allah | Kenikmatan mulia yang mendekatkan kepada Allah |
| Jasmani (حَيَوَانِيَّةٌ) | Makan, minum, hubungan suami istri | Pada asalnya boleh, bahkan dapat bernilai ibadah |
| Setani (شَيْطَانِيَّةٌ) | Kezaliman, kesombongan, kerusakan, menikmati kemaksiatan | Kenikmatan tercela yang harus dijauhi |
Istilah hayawaniyyah dalam perkataan Ibnul Qayyim bukan berarti makan, minum, atau hubungan suami istri merupakan perbuatan hina. Maksudnya, kenikmatan tersebut juga dimiliki makhluk hidup selain manusia.
Seorang muslim bahkan memperoleh pahala dari hubungan intim dengan pasangan yang sah.
Rasulullah ﷺ bersabda,
وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
“Pada hubungan intim salah seorang di antara kalian terdapat sedekah.”
Takhrij hadis: HR. Muslim, no. 1006, dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Hadis sahih.
Dengan demikian, Islam tidak mengajarkan manusia untuk mematikan seluruh keinginan jasmaninya. Islam justru mengajarkan agar keinginan tersebut ditempatkan pada jalan yang benar.
Kenikmatan yang rendah dapat menjadi ibadah apabila ditempuh secara halal dengan niat yang benar. Sebaliknya, kenikmatan yang dikejar melalui jalan haram dapat menjadi sebab rusaknya hati.
Syahwat dan Syubhat: Dua Penyakit yang Merusak Hati
Syahwat dan syubhat sama-sama dapat menjerumuskan manusia, tetapi keduanya memiliki cara kerja yang berbeda.
| Aspek | Syahwat (الشَّهْوَةُ) | Syubhat (الشُّبْهَةُ) |
|---|---|---|
| Pengertian | Keinginan yang mendorong seseorang mengikuti hawa nafsu | Kerancuan yang mengaburkan kebenaran |
| Bagian yang terutama terganggu | Kemauan dan pengendalian diri | Pemahaman dan keyakinan |
| Contoh | Mengetahui zina haram, tetapi tetap mendekatinya | Menganggap zina halal karena penafsiran agama yang keliru |
| Penyembuhan utama | Takwa, sabar, mujahadah, tobat | Ilmu yang benar, dalil, dan bimbingan ulama |
Perbedaan ini penting karena seseorang dapat mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengamalkannya. Sebaliknya, ada pula orang yang ingin beribadah, tetapi keliru karena tidak memahami tuntunan agama.
Ibnul Qayyim: Hati Diserang Dua Pasukan Kebatilan
Dalam Miftah Dar As-Sa’adah, Ibnul Qayyim menjelaskan,
وَالْقَلْبُ يَتَوَارَدُهُ جَيْشَانِ مِنَ الْبَاطِلِ: جَيْشُ شَهَوَاتِ الْغَيِّ، وَجَيْشُ شُبُهَاتِ الْبَاطِلِ.
“Hati didatangi dua pasukan kebatilan: pasukan syahwat yang menjerumuskan kepada penyimpangan dan pasukan syubhat yang membawa kebatilan.”
Beliau melanjutkan,
فَأَيُّمَا قَلْبٍ صَغَا إِلَيْهَا، وَرَكَنَ إِلَيْهَا، تَشَرَّبَهَا وَامْتَلَأَ بِهَا.
“Hati mana pun yang condong dan bersandar kepada keduanya akan menyerapnya hingga dipenuhi oleh keduanya.”
Rujukan: Ibnul Qayyim, Miftah Dar As-Sa’adah, jilid 1, sekitar hlm. 140 dalam edisi yang dirujuk IslamQA.
Ini memberikan pelajaran bahwa syahwat dan syubhat sama-sama berbahaya karena keduanya dapat merusak hati dari arah yang berbeda.
Orang yang terkena syahwat bisa berkata, “Saya tahu ini dosa, tetapi sulit sekali meninggalkannya.”
Sementara itu, orang yang terkena syubhat bisa berkata, “Saya yakin perbuatan ini benar,” padahal keyakinannya dibangun di atas pemahaman yang keliru.
Bahkan, keduanya dapat berkumpul pada satu orang. Ia mula-mula mengikuti syahwat, kemudian mencari-cari pembenaran agama untuk mempertahankan perbuatannya.
Hadis tentang fitnah yang menghitamkan hati
Rasulullah ﷺ bersabda,
تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ.
“Berbagai fitnah akan dihadapkan kepada hati seperti anyaman tikar, satu demi satu. Hati mana pun yang menyerapnya akan diberi satu titik hitam. Adapun hati yang mengingkarinya akan diberi satu titik putih.”
Takhrij hadis: HR. Muslim, no. 144, dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu. Hadis sahih. Lafaz di atas merupakan bagian awal hadis yang lebih panjang.
Hadis ini menunjukkan bahwa membiarkan fitnah terus memasuki hati bukanlah perkara ringan.
Semakin sering seseorang menikmati kemaksiatan tanpa bertobat, semakin besar bahaya kerusakan hatinya.
Namun, seseorang yang menolak fitnah dan terus berusaha menjaga ketaatan akan memperoleh kebaikan dengan pertolongan Allah.
Nasihat Ibnul Qayyim: Hati Harus Diobati dari Syahwat dan Syubhat
Dalam kitab Al-Fawaid, Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan nasihat yang sangat menyentuh.
الْعَجَبُ مِمَّنْ تَعْرِضُ لَهُ حَاجَةٌ فَيَصْرِفُ رَغْبَتَهُ وَهِمَّتَهُ فِيهَا إِلَى اللَّهِ لِيَقْضِيَهَا لَهُ، وَلَا يَتَصَدَّى لِلسُّؤَالِ لِحَيَاةِ قَلْبِهِ مِنْ مَوْتِ الْجَهْلِ وَالْإِعْرَاضِ، وَشِفَائِهِ مِنْ دَاءِ الشَّهَوَاتِ وَالشُّبُهَاتِ، وَلَكِنْ إِذَا مَاتَ الْقَلْبُ لَمْ يَشْعُرْ بِمَعْصِيَتِهِ.
“Sungguh mengherankan orang yang ketika memiliki suatu kebutuhan, ia mengarahkan keinginan dan kesungguhannya kepada Allah agar Allah memenuhi kebutuhannya. Namun, ia tidak bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar hatinya dihidupkan dari kematian akibat kebodohan dan berpaling dari kebenaran, serta disembuhkan dari penyakit syahwat dan syubhat. Padahal, apabila hati telah mati, seseorang tidak lagi merasakan buruknya kemaksiatan yang dilakukannya.”
Sumber: Ibnul Qayyim, Al-Fawaid, hlm. 112 menurut edisi yang dikutip IslamQA.
Perkataan ini mengandung pelajaran yang sangat penting.
Betapa sering manusia memohon kepada Allah agar diberikan harta, pekerjaan, pasangan, rumah, atau kesembuhan dari penyakit.
Namun, berapa sering ia secara sungguh-sungguh memohon agar Allah menyembuhkan hatinya dari keinginan melakukan maksiat?
Padahal, sakitnya badan hanya berkaitan dengan kehidupan dunia, sedangkan rusaknya hati dapat membahayakan kehidupan dunia dan akhirat.
Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak hanya berdoa agar urusan dunianya dimudahkan, tetapi juga memohon agar Allah membersihkan hatinya dari syahwat yang haram dan syubhat yang menyesatkan.
Dalam kitab Risalah Ibn Al-Qayyim ila Ahad Ikhwanih, beliau mengatakan:
وَجَمَعَ سُبْحَانَهُ بَيْنَ الصَّبْرِ وَالْيَقِينِ؛ إِذْ هُمَا سَعَادَةُ الْعَبْدِ، وَفَقْدُهُمَا يُفْقِدُهُ سَعَادَتَهُ، فَإِنَّ الْقَلْبَ تَطْرُقُهُ طَوَارِقُ الشَّهَوَاتِ الْمُخَالِفَةِ لِأَمْرِ اللَّهِ، وَطَوَارِقُ الشُّبُهَاتِ الْمُخَالِفَةِ لِخَبَرِهِ، فَبِالصَّبْرِ يَدْفَعُ الشَّهَوَاتِ، وَبِالْيَقِينِ يَدْفَعُ الشُّبُهَاتِ.
“Allah menggabungkan antara kesabaran dan keyakinan karena keduanya merupakan sumber kebahagiaan seorang hamba. Kehilangan keduanya berarti kehilangan kebahagiaannya.
Sesungguhnya hati dapat didatangi berbagai godaan syahwat yang bertentangan dengan perintah Allah dan berbagai syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya.
Dengan kesabaran, seseorang dapat menolak syahwat. Dengan keyakinan, seseorang dapat menolak syubhat.”
Referensi: Ibnul Qayyim, Risalah Ibn Al-Qayyim ila Ahad Ikhwanih, hlm. 18–19, terbitan ‘Atha’at Al-‘Ilm.
Allah Ta’ala berfirman,
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)
Ayat ini menggabungkan dua sifat:
الصَّبْرُ (Ash-Shabr): Kesabaran untuk menjalankan ketaatan dan menahan diri dari syahwat yang haram.
الْيَقِينُ (Al-Yaqin): Keyakinan terhadap kebenaran wahyu sehingga seseorang tidak mudah terpengaruh syubhat.
Ilmu yang benar menjadi landasan untuk mencapai keyakinan tersebut. Namun, sekadar mengetahui hukum belum tentu cukup untuk mengalahkan syahwat. Seseorang juga membutuhkan kesabaran untuk mengamalkan pengetahuannya.
Cara Mengendalikan Syahwat pada Zaman Gadget dan Media Sosial
Menjaga diri dari syahwat merupakan kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan.
Terutama pada zaman ketika berbagai tontonan dapat diakses dengan mudah melalui ponsel pribadi. Seorang muslim perlu memiliki langkah nyata untuk menjaga dirinya.
1. Menjaga pandangan sebelum syahwat semakin menggelora
Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)
Pada ayat berikutnya, Allah juga memerintahkan perempuan beriman untuk menjaga pandangan dan kehormatannya.
Perhatikan bahwa perintah menjaga pandangan disebutkan sebelum menjaga kemaluan.
Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga pintu-pintu yang dapat mengantarkan kepada perbuatan haram.
Dalam praktik penggunaan gadget, menjaga pandangan dapat dilakukan dengan tidak mengikuti akun yang menampilkan aurat, tidak mencari tontonan yang membangkitkan syahwat, dan segera meninggalkan konten yang tidak pantas.
Seseorang tidak seharusnya terus menguji kekuatan imannya dengan sengaja melihat sesuatu yang dilarang.
2. Jangan mendekati zina, termasuk pintu-pintu yang mengantarkan kepadanya
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Allah tidak sekadar melarang perbuatan zina, tetapi juga melarang mendekatinya.
Oleh karena itu, seorang muslim perlu menjauhi berbagai sarana yang secara nyata dapat mengantarkannya kepada zina.
Misalnya, sengaja menikmati pornografi, membangun komunikasi intim yang tidak pantas dengan lawan jenis yang bukan pasangan sah, atau melakukan pertemuan berduaan yang dilarang syariat.
Bagi generasi muda, komunikasi digital pun harus dijaga. Percakapan yang awalnya biasa dapat berkembang menjadi hubungan yang melanggar batasan agama apabila tidak dikendalikan.
3. Berpuasa ketika belum mampu menikah
Rasulullah ﷺ bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu menikah, hendaklah ia menikah. Sesungguhnya menikah lebih membantu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa karena puasa menjadi pengendali syahwat baginya.”
Takhrij hadis: HR. Al-Bukhari, no. 5066, dan Muslim, no. 1400, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Hadis sahih, muttafaq ‘alaih.
Hadis ini memberikan dua solusi penting, yaitu menikah bagi yang telah mampu dan berpuasa bagi yang belum mampu.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga melatih seseorang untuk mengendalikan keinginan dirinya.
4. Membatasi penggunaan gadget dan memilih tontonan
Ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan oleh muslimah maupun Gen-Z.
Menghapus atau berhenti mengikuti akun yang sering menampilkan konten tidak pantas.
Mengaktifkan penyaringan konten dan pembatasan aplikasi.
Menghindari kebiasaan menggunakan ponsel sendirian hingga larut malam untuk menonton konten yang menggoda.
Mengganti waktu menonton yang berlebihan dengan membaca, belajar, berolahraga, dan kegiatan bermanfaat.
Memilih lingkungan pertemanan yang membantu menjaga agama dan kehormatan.
Langkah-langkah ini merupakan penerapan praktis dari perintah menjaga pandangan dan menjauhi jalan menuju maksiat, bukan aturan khusus yang masing-masing disebutkan secara langsung dalam hadis.
Yang perlu dipahami, mengendalikan syahwat tidak cukup hanya dengan menahan keinginan ketika godaan sudah memuncak. Seseorang juga harus mengurangi sebab-sebab yang membangkitkan keinginan tersebut.
5. Mengisi hati dengan ilmu dan iman
Dalam pembahasan sebelumnya, Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ilmu merupakan pekerjaan hati.
Apabila perhatian hati terus diarahkan kepada syahwat dan kenikmatan, seseorang akan semakin sulit memberikan perhatian kepada ilmu.
Karena itu, salah satu cara memperbaiki diri adalah membangun kesenangan baru yang lebih bermanfaat.
Biasakan membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian, menghafal hadis, mempelajari agama, dan bergaul dengan orang-orang saleh.
Tujuannya bukan sekadar membuat jadwal menjadi padat, melainkan mengarahkan hati agar semakin mencintai kebaikan.
6. Memperbanyak doa agar hati dijaga Allah
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa seorang pemuda pernah datang kepada Rasulullah ﷺ meminta izin untuk berzina.
Nabi ﷺ tidak membenarkan keinginannya. Beliau memberikan nasihat yang menyentuh akalnya, kemudian mendoakannya.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ.
“Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”
Takhrij hadis: HR. Ahmad dalam Al-Musnad, dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai sahih oleh para peneliti Musnad Ahmad dan Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah. Lihat pembahasan IslamQA no. 302793.
Doa ini sangat baik diamalkan ketika seseorang ingin menjaga kesucian hatinya.
Hadis tersebut juga mengajarkan bahwa orang yang sedang bergumul dengan syahwat membutuhkan nasihat, pendidikan, dan doa, bukan sekadar celaan.
Bagaimana Muslimah Menjaga Diri dari Syahwat?
Muslimah menghadapi berbagai ujian yang terkadang berbeda bentuknya dengan ujian laki-laki.
Ada ujian dalam menjaga pandangan, hubungan dengan lawan jenis, keinginan mendapatkan perhatian, kecenderungan membandingkan kehidupan dengan orang lain, serta godaan menampilkan sesuatu yang seharusnya dijaga.
Tidak setiap keinginan untuk tampil cantik, dicintai, atau diperhatikan merupakan perbuatan tercela. Namun, keinginan tersebut harus dikendalikan agar tidak membawa kepada perkara yang dilarang.
Di antara bentuk penjagaan diri adalah menjaga aurat, membatasi interaksi yang tidak diperlukan dengan lawan jenis, tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan hidup, dan tidak menggantungkan harga diri pada pujian manusia.
Bagi muslimah yang belum menikah, menjaga kehormatan merupakan bagian dari ibadah. Bagi yang sudah menikah, menjaga kehormatan juga mencakup memelihara kesetiaan dan batasan hubungan dengan selain pasangan.
Semua itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah, bukan sekadar upaya menjaga penilaian manusia.
Kenikmatan Syahwat Itu Sementara, Kenikmatan Iman Lebih Mulia
Rasulullah ﷺ bersabda,
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ.
“Surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai syahwat.”
Takhrij hadis: HR. Muslim, no. 2822, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Hadis sahih. Hadis semakna juga diriwayatkan Al-Bukhari, no. 6487, dengan lafaz yang berbeda.
Hadis ini mengingatkan bahwa tidak semua hal yang menyenangkan akan membawa kebaikan.
Ada kesenangan yang harus ditinggalkan karena mengantarkan kepada neraka. Ada pula amalan yang terasa berat, tetapi menjadi jalan menuju surga.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)
Ayat ini memberikan harapan besar bagi siapa pun yang sedang berjuang melawan syahwat.
Seseorang mungkin merasa berat meninggalkan kebiasaan buruk. Ia mungkin harus berulang kali melatih dirinya agar tidak kembali kepada perbuatan yang dilarang.
Namun, kesungguhan menahan diri karena takut kepada Allah merupakan bagian dari jalan menuju surga.
Dari Menahan Syahwat di Dunia Menuju Kebahagiaan di Akhirat
Pembahasan ini memiliki hubungan yang indah dengan firman Allah dalam Surah Al-Insan.
Allah menggambarkan orang-orang beriman yang takut kepada hari kiamat.
إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا
“Sesungguhnya kami takut akan azab Tuhan kami pada suatu hari yang penuh kesulitan.” (QS. Al-Insan: 10)
Kemudian Allah berfirman,
فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا
“Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan.” (QS. Al-Insan: 11)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,
وَلَقَّاهُمْ أَيْ: أَكْرَمَهُمْ وَأَعْطَاهُمْ نَضْرَةً فِي وُجُوهِهِمْ وَسُرُورًا فِي قُلُوبِهِمْ، فَجَمَعَ لَهُمْ بَيْنَ نَعِيمِ الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ.
“Allah memuliakan mereka dan memberikan keceriaan pada wajah mereka serta kegembiraan dalam hati mereka. Dengan demikian, Allah mengumpulkan bagi mereka kenikmatan lahir dan batin.”
Sumber: Tafsir As-Sa’di, QS. Al-Insan: 11.
Kemudian Allah menyebutkan balasan atas kesabaran mereka,
وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا
“Dan Dia memberikan balasan kepada mereka karena kesabarannya berupa surga dan pakaian sutra.” (QS. Al-Insan: 12)
Rangkaian ayat ini memberikan pelajaran bahwa kesabaran dalam menaati Allah, menjauhi maksiat, dan menghadapi ujian memiliki balasan yang sangat agung.
Di dunia, seseorang mungkin harus menahan pandangannya dari sesuatu yang menarik. Ia mungkin harus meninggalkan hubungan yang dilarang, menjauhi tontonan yang membangkitkan syahwat, atau mengorbankan sebagian waktu istirahat untuk menuntut ilmu.
Namun, semua pengorbanan tersebut tidaklah sia-sia apabila dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Allah.
Inilah yang sejalan dengan penjelasan Ibnul Qayyim bahwa kenikmatan ilmu, iman, cinta kepada Allah, dan mengingat-Nya jauh lebih mulia daripada kenikmatan syahwat yang sementara.
Penutup: Jangan Menukar Kenikmatan Abadi dengan Kesenangan Sesaat
Syahwat merupakan bagian dari kehidupan manusia. Islam tidak memerintahkan kita menghilangkan seluruh keinginan, tetapi mengajarkan agar keinginan itu dikendalikan dengan iman dan ilmu.
Seseorang yang berhasil mengendalikan syahwatnya bukan berarti tidak pernah tergoda. Ia tetap manusia yang memiliki keinginan, tetapi berusaha mendahulukan keridaan Allah daripada kesenangan sesaat.
Nasihat Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ilmu dan iman memberikan kenikmatan yang jauh lebih mulia daripada sekadar kesenangan jasmani.
Karena itu, jangan sampai waktu, pikiran, dan hati kita dihabiskan hanya untuk mengejar sesuatu yang segera berlalu.
Jangan biarkan syahwat menentukan arah hidup kita. Jadikan ilmu sebagai penerang, iman sebagai kekuatan, dan keridaan Allah sebagai tujuan.
Semoga Allah menjaga hati kita dari syahwat yang menyesatkan dan syubhat yang merusak keyakinan.
Wallahu a’lam.
—
Ditulis pada Senin pagi, 7 Jumadal Ula 1448 H, 19 Oktober 2026, di perjalanan menuju Masjid RS JIH (Khadijah Community) dari Darush Sholihin Panggang Gunungkidul
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com

Sumber: Rumaysho.com