Kesyirikan yang Mengancam Akal

Daftar Isi
Besarnya gelombang informasi membawa berbagai macam pemikiran ke kehidupan kita. Ada yang membersihkan dan memperbaiki, tetapi ada juga yang mengotori bahkan meracuni. Tak jarang dari tren pemikiran itu justru bertentangan dengan Islam bahkan di level asasi.
Islam merupakan syariat yang menjaga lima perkara fundamental, salah satunya adalah akal manusia. Tauhid sebagai pondasi syariat memiliki fungsi penjagaan akal, sedangkan syirik justru menciderai akal pemikiran, meski disenangi oleh banyak orang cerdas.
Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, mufti Arab Saudi saat ini, ketika menjelaskan tentang bahaya syirik, beliau mengatakan,
إذاً: هذا خطرٌ عظيم، يجب عليك أن تعرفه قبل أي خطر، لأن الشرك ضلّت فيه أفهام وعقول
“Oleh karena itu, (kesyirikan) ini adalah bahaya yang amat besar. Dan Anda harus mengetahuinya sebelum bahaya lainnya, karena kesyirikan dapat menyesatkan pikiran dan akal budi.” (Syarh Qawaidil Arba’)
Berbuat syirik adalah kebodohan
Memang Allah ﷻ yang mengatakan bahwa orang yang berbuat syirik adalah orang yang bodoh. Allah ﷻ berfirman,
قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ
“Katakanlah, ‘Apakah kalian menyuruh aku menyembah kepada selain Allah, wahai orang-orang yang jahil (bodoh)?’” (QS. Az-Zumar: 64)
Thahir Ibnu Asyur rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan mengapa mereka dipanggil bodoh,
والجَهْلُ هُنا ضِدُّ العِلْمِ لِأنَّهم جَهِلُوا دَلالَةَ الدَّلائِلِ المُتَقَدِّمَةِ، فَلَمْ تُفِدْ مِنهم شَيْئًا. فَعَمُوا عَنْ دَلائِلِ الوَحْدانِيَّةِ الَّتِي هي بِمَرْأًى مِنهم ومَسْمَعٍ. فَجَهِلُوا دَلالَتَها عَلى الصّانِعِ الواحِدِ
“Kebodohan di sini adalah kebalikan dari ilmu. Karena mereka tidak mengetahui arti penting dari bukti-bukti sebelumnya, sehingga mereka tidak memperoleh apa pun darinya. Mereka buta terhadap bukti-bukti keesaan Allah, yang berada tepat di depan mata dan telinga mereka, dan dengan demikian mereka tidak mengetahui petunjuk tentang Sang Pencipta Yang Esa.”
Sederhananya, menurut Syekh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya, mereka bodoh atas dua hal:
Pertama: Hakikat zat Allah ﷻ dan sifat-Nya yang menjadikan-Nya layak untuk disembah;
Kedua: Konsekuensi dari perbuatan kesyirikan tersebut.
Kebodohan mereka akan dua hal inilah yang membuat mereka disebut orang yang bodoh.
Tidak ada orang cerdas yang menggabungkan penyembahan antara Zat Tunggal Yang Maha Kuasa dengan makhluk tiada daya. Tidak ada orang cerdas yang sudah dipenuhi kehidupannya lantas ia berkhianat kepada Sang Pemberi Kehidupan. Setidaknya, ia berada dalam dua pilihan: antara bodoh atau jahat. Oleh karena itu, pantaslah ia masuk neraka, baik karena kebodohannya apalagi sebab perilaku jahatnya yang tidak tahu terima kasih.
Kok ada orang pintar yang tidak bertauhid?
Kita sendiri melihat dampak kesyirikan membuat orang cerdas sekalipun menjadi bodoh. Sebagian orang yang pintar urusan dunia itu justru percaya dengan hal mistis, hasil ramalan tarot, penggandaan uang, atau perkara kesyirikan lainnya. Keyakinan syirik ini akan menutupi akal mereka dari menerima argumentasi rasional. Ayat dari surah Az-Zumar tadi sekaligus menjadi jawaban atas kebingungan kita, “Kok ada orang pintar yang masih percaya hal klenik?”
Andai pun mereka tidak terjatuh kepada hal klenik, tetapi sebagian dari mereka justru jatuh kepada kesalahan bernalar atas adanya Tuhan. Mereka dengan akal cerdasnya melakukan simulasi dengan berbagai asumsi tentang eksistensi Tuhan. Kesimpulan mereka, dunia ada dengan permulaan, tetapi tidak ada yang memulakan. Mereka mengira bahwa seluruh semesta ini ada begitu saja.
Anehnya, argumen mereka ini hanya berlaku kepada paradigma Tuhan mereka saja. Ketika diterapkan pada penemuan titik awal galaksi, makhluk biologi perdana, dan lain sebagainya; mereka semua meyakini bahwa segala sesuatu memiliki permulaan dan ada yang memulakan. Bahkan dengan santai mengatakan, “Ketidaktahuan akan informasi penyebab tersebut bukan berarti menunjukkan ketiadaan sebabnya.” Mereka jadikan ini sebagai acuan paradigmatik dalam proses ilmiah. Namun, lagi-lagi, ketika membahas Tuhan, ini semua dilepaskan.
Orang-orang di kalangan kafir Quraisy juga bukanlah orang sembarangan. Lihatlah asalnya Abu Jahal itu digelari Abul Hakam karena kecerdasannya. Abu Jahal ini mulanya menjadi tempat peraduan manusia menyelesaikan berbagai permasalahan dan pertikaian, karena ia tidak hanya memiliki kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan. Namun, ketika dihadapkan dengan seruan Islam, semua kedahsyatan akal itu sirna.
Apa sebabnya? Sebabnya adalah akal yang tidak tertuntun cahaya, sehingga gelap dan tersesat.
Allah ﷻ berfirman,
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Sedangkan orang-orang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257)
Fokus kepada ayat, يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ, yang ditafsirkan oleh Ibnu Asyur sebagai berikut,
فالمُرادُ بِالنُّورِ نُورُ البُرْهانِ والحَقِّ، وبِالظُّلُماتِ ظُلُماتُ الشُّبُهاتِ والشَّكّ
“Cahaya yang dimaksud adalah cahaya bukti dan kebenaran, dan kegelapan yang dimaksud adalah kegelapan kerancuan dan keraguan.” (Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir)
Hidayah dan kesesatan adalah perkara yang diusahakan
Jangan mengira bodoh dan cerdas dalam konteks ini hanyalah takdir Allah ﷻ semata yang tidak ada andil usaha kita di dalamnya. Sesungguhnya ia merupakan perkara yang ada di tangan kita. Usaha kita yang mengundang datangnya petunjuk atau justru mengantarkan kesesatan. Thahir Ibnu Asyur rahimahullah berkata dalam tafsirnya,
فاللَّهُ يَزِيدُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى لِأنَّ اتِّباعَهُمُ الإسْلامَ تَيْسِيرٌ لِطُرُقِ اليَقِينِ، فَهم يَزْدادُونَ تَوَغُّلًا فِيها يَوْمًا فَيَوْمًا
“Allah menambah petunjuk bagi orang-orang yang mendapat petunjuk karena ketaatan mereka pada Islam memudahkan jalan menuju kepastian, sehingga mereka semakin mendalami Islam dari hari ke hari.”
Begitupula dengan kesesatan, sesungguhnya kesesatan itu adalah usaha dan pilihan seseorang. Allah ﷻ kemudian semakin menyesatkan orang-orang seperti ini. Perhatikan kata yang digunakan Ibnu Asyur berikut,
وبِعَكْسِهِمُ الَّذِينَ اخْتارُوا الكُفْرَ عَلى الإسْلامِ فَإنَّ اخْتِيارَهم ذَلِكَ دَلَّ عَلى خَتْمٍ ضُرِبَ عَلى عُقُولِهِمْ فَلَمْ يَهْتَدُوا فَهم يَزْدادَونَ في الضَّلالِ يَوْمًا فَيَوْمًا
“Sebaliknya, orang-orang yang memilih kekafiran daripada Islam, pilihan mereka menunjukkan adanya segel yang diletakkan pada pikiran mereka, sehingga mereka tidak mendapat petunjuk dan semakin tersesat.”
Dari keterangan ini kita dapat belajar bahwa hidayah dan kesesatan itu perkara yang dapat diusahakan. Untuk mendapatkan tambahan hidayah, seseorang harus berusaha, ia tidak bisa hanya ongkang kaki lalu menantang Allah ﷻ untuk mendatangkan hidayah. Justru perbuatan ini akan membuatnya kian terjerumus ke dalam kesesatan. Meskipun demikian, hidayah tetaplah hak prerogatif Allah ﷻ. Kita hanya bisa mengundangnya dengan usaha. Adapun keputusan finalnya, ini semua adalah urusan Allah ﷻ. Tidak ada satupun yang bisa memaksakannya, bahkan Nabi ﷺ sekalipun.
إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)
Dai tauhid memperjuangkan keselamatan akal
Salah satu hikmah dari pelajaran ini adalah seorang penyeru tauhid sangat berkepentingan dengan ilmu dialektika syubhat kesyirikan. Seorang dai tidak hanya berkepentingan mengenali tauhid, tetapi juga mengenali kesyirikan secara detail sebagaimana yaang dikatakan oleh Syekh Shalih Al-Fauzan,
ما دام أنك عرفت التوحيد وهو: إفراد الله بالعبادة، يجب أن تعرف ما هو الشرك، لأن الذي لا يعرف الشيء يقع فيه، فلا بد أنك تعرف أنواع الشرك من أجل أن تتجنبها
“Setelah Anda mengetahui arti tauhid, yaitu: mengesakan Allah ﷻ dalam peribadatan, Anda juga harus mengetahui apa itu kesyirikan. Karena siapapun yang tidak mengetahui sesuatu, maka ia berpotensi jatuh ke dalamnya. Oleh karena itu, Anda harus mengetahui jenis-jenis kesyirikan agar dapat menghindarinya.”
Keterangan Syekh Al-Fauzan dalam perkara ini menyiratkan bahwa seorang muslim khususnya para dai harus mendetail dalam mempelajari kesyirikan untuk menghindarinya. Beragam jenis kesyirikan ini tidak terbatas pada penyembahan berhala, tetapi juga keyakinan sesat kontemporer berupa ateisme dan agnotisisme.
Di zaman ini, syubhat terus berkembang, salah satunya dari pintu pemikiran dan isme yang datang dari barat. Maka, wasiat Syekh di sini dapat diartikan untuk mempelajari beragam argumentasi mereka sehingga dapat terhindar dari kerancuan berpikir tersebut. Seorang dai juga dapat memperingatkan umat dari bahayanya pemikiran rusak yang demikian. Dan ini termasuk ke dalam dakwah tauhid.
Sehingga seorang muslim, khususnya para dai, hendaknya bersemangat dalam menyelamatkan akal kaum muslimin agar tidak terjerat dengan jerat kerancuan berpikir. Pemikiran sesat dari barat sangatlah menggoda bagi anak muda. Ia seakan menjadi oase di tengah kegamangan hidup, padahal sejatinya ia hanyalah fatamorgana. Sedangkan ketenangan hidup semuanya sudah terliput dalam Al-Quran dan As-Sunah.
فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku (Al-Quran dan As-Sunnah), niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 38)
Maka bersemangatlah untuk mengajak umat meraih kebahagiaan hidup dan akal sehat dengan Al-Quran dan As-Sunah.
Memahami kerancuan syirik dari pondasinya
Akan tetapi, memang semua proses belajar itu hendaknya bertahap dari yang paling dasar. Syekh Al-Fauzan mengingatkan untuk mengenali kesyirikan dari pondasi Al-Quran dan As-Sunah,
فالواجب أن نعرف ما هو الشرك من الكتاب والسنة، الله ما حذر من شيء إلا ويبينه، وما أمر بشيء، إلا ويبينه للناس، فهو لم يحرم الشرك ويتركه مجملاً، بل بينه في القرآن العظيم وبينه الرسول –صلى الله عليه وسلم- في السنة، بياناً شافياً
“Oleh karena itu, kita harus memahami apa itu kesyirikan menurut Al-Quran dan As-Sunah. Allah tidaklah memperingatkan sesuatu tanpa menjelaskannya terlebih dahulu, dan Dia tidak memerintahkan sesuatu tanpa menjelaskannya kepada manusia. Dia tidak sekadar melarang kesyirikan dan membiarkannya mengawang begitu saja. Namun, Dia menjelaskannya dalam Al-Quran yang mulia, dan Rasulullah ﷺ menjelaskannya dengan jelas dalam As-Sunah.” (Syarah Qawaidil Arba)
Baca penjelasan berkaitan panduan menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam dialog pemikiran pada seri berikut:
https://muslim.or.id/113342-menggunakan-al-quran-dan-as-sunah-dalam-dialog-eksistensi-tuhan-bag-1.html
Meskipun kita berusaha memahami syubhat ahli syirik ini, jangan sampai kita justru tenggelam dalam paradigma mereka. Hal ini dapat mengaburkan tema dan pemaknaan syirik itu sendiri dari dalam tubuh Islam. Inilah hikmah yang kita dapatkan dari perkataan Syekh,
فإذا أردنا أن نعرف ما هو الشرك نرجع إلى الكتاب والسنة حتى نعرف الشرك، ولا نرجع إلى قول فلان وفلان
“Jika kita ingin mengetahui apa itu kesyirikaan, kita harus merujuk pada Al-Quran dan As-Sunah untuk memahaminya, bukan dengan merujuk ucapan si fulan A dan B.” (Syarah Qawaidil Arba)
Baca juga: Kebodohan Kita terhadap Bahaya Syirik
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, karya Thahir Ibnu Asyur, dilansir dari tafsir.app.
Tafsir Taisir Karimir Rahman, karya Al-Allamah As-Sa’dy, cet. Muassasah Ar-Risalah.
Syarah Qawaidil Arba’, karya Syekh Shalih Al-Fauzan, cet. Muassasah Ar-Risalah.
Sumber: Muslim.or.id