Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 4): Balasan atas Buruknya Perilaku Orang Kafir Kepada Kaum Muslimin di Dunia

Pada tafsir sebelumnya, kita telah membaca bagaimana balasan kebaikan yang Allah janjikan bagi jiwa-jiwa yang taat, serta berbuat kebaikan untuk kehidupan bermasyarakat, serta Allah tutup dengan motivasi untuk berlomba mengejar balasan surga tersebut.
Pada tafsir potongan surah Al-Mutaffifin ayat 29-36 ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana busuknya perilaku kehidupan bersosial orang-orang kafir, dimana mereka menghina dan menertawakan kaum muslimin karena iman yang ada pada hari mereka. Setelah itu, Allah jelaskan balasan setimpal yang akan diterima orang-orang kafir di dunia karena keburukan yang telah mereka lakukan di dunia. Tujuan akhir dari potongan ayat ini adalah memberikan hiburan bagi kaum muslimin, yang pada kehidupan di dunia mendapatkan kesulitan hidup karena direndahkan dan disakiti oleh orang-orang kafir. Nanti di hari kiamat, Allah akan balik roda kehidupan tersebut, dimana kaum muslimin akan mentertawakan orang-orang kafir yang sedang dibakar dan disiksa di neraka.
Adapun sebab turunnya ayat ini adalah karena segerombolan pembesar orang musyrik Makkah seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah, atau Al-Ash bi Wail menertawakan orang-orang lemah dari golongan kaum muslimin. Mereka menertawakan kesulitan hidup yang dihadapi orang-orang lemah ini, serta merendahkannya karena merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi karena banyaknya harta dunia yang dimiliki.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelasakan tentang empat perilaku busuk orang kafir yang mereka timpakan kepada kaum muslimin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ
“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu selalu menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 29)
Orang-orang berdosa yang Allah bahas dalam ayat ini adalah orang-orang kafir Quraisy dan orang kafir secara umum yang memiliki perilaku busuk menghina dan menertawakan orang-orang yang beriman. Mereka melakukan yang demikian, di antara sebabnya adalah karena merasa kedudukannya lebih tinggi, bisa jadi karena jabatan yang tinggi, harta yang banyak, pengikut yang setia, dan semisalnya.
Orang-orang kafir ini, dengan sesembahan mereka yang banyak selain Allah, juga merasa bahwa merekalah yang berada di atas kebenaran, karena mereka telah mempraktekkan agama mereka selama puluhan atau mungkin ratusan tahun lamanya. Sedangkan orang-orang muslim yang membawa cahaya hidayah, malah mereka anggap sebagai orang-orang yang tersesat.
Dalam Tafsir Mahasinut Takwil dijelaskan bahwa ketika Allah Ta’ala menganugerahkan umat ini dengan diutusnya Nabi Akhir zaman, yaitu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, gaung kebenaran yang beliau suarakan pada awal Islam masih begitu sayup dan sepi. Beliau mulanya mendakwahkan secara sembunyi-sembunyi kepada keluarga terdekat, serta orang-orang berhati lembut yang beliau kenal dan punya potensi besar menerima kebenaran. Orang-orang berhati lembut ini kebanyakan adalah dari golongan orang-orang yang lemah, dimana hingar bingar kekayaan harta benda duniawi belum merusak fitrah mereka yang murni. Mereka bisa mengenali hidayah dengan hati mereka, kemudian melepaskan semua kesyirikan yang membebani punggung mereka tanpa ada rasa kesulitan sedikitpun.
Berbeda halnya dengan para pembesar, orang-orang kaya dan berkuasa, yang mereka senantiasa ingin mempertahankan jabatan, kebesaran, dan harta dunia mereka, selalu ingin berada dalam status quo, tidak ingin “diusik” ketenangan mereka. Mereka merendahkan dan menghina orang lain untuk semakin menaikkan kedudukan mereka. Semakin keras pengingkaran mereka kepada setiap orang yang mengajak keluar dari kebiasaan lama yang sudah mengakar kuat pada diri mereka, terlebih lagi jika yang menyeru kedudukannya lebih lemah fisiknya, hartanya, serta lebih sedikit jumlahnya.
Akan tetapi, kita dapati sebagian orang kaya dan berkedudukan tinggi dapat dengan mudahnya menerima Islam, sebut saja seperti istri Nabi Khadijah, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu Ustman bin Affan, beliau-beliau adalah di antara pembesar Quraisy yang dengan mudah menerima Islam. Semuanya karena nikmat hidayah dari Allah, kemudian dikarenakan baiknya interaksi sosial mereka sebelum Islam menyapa mereka, sehingga Allah juga menyayangi mereka dan memudahkan hidayah masuk, serta menyelamatkan mereka.
Ibnu Abbas menafsirkan bahwa orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini ketika turunnya ayat, yang merendahkan dan menertawakan kaum muslimin adalah Walid bin Mughirah, Uqbah bin Abi Mu’aith, Al-Ash bin Wail, Al-Ash bin Hisyam, Abu Jahal, dan semisal mereka. Adapun orang-orang lemah kaum muslimin yang mereka tertawakan semisal keluarga Ammar, Khabbab, Shuhaib, serta Bilal radhiyallahu ‘anhum ajmain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ
“Apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 30)
Allah menjelaskan kebusukan perilaku orang-orang kafir yang kedua, yaitu apabila orang-orang muslim melintas melewati tempat berkumpulnya mereka, maka mereka akan saling mengedip-ngedipkan mata dan saling memandang satu sama lain. Ini adalah bentuk penghinaan dan perendahan orang lain.
Dalam Tafsir Al-Iklil disebutkan bahwa ayat ini menjadi dalil larangan merendahkan, menertawakan, serta mengedip-ngedipkan mata dengan bentuk menghina kepada kaum muslimin. Allah melarang ini bagi kaum kafir, bukan berarti larangan ini hanya khusus bagi mereka, namun sesama kaum muslimin juga terlarang untuk melakukan ketiga perbuatan buruk ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا انْقَلَبُوْٓا اِلٰٓى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَۖ
“Apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria (dan sombong).” (QS. Al-Muṭaffifīn: 31)
Allah jelaskan kebusukan orang kafir yang lebih jauh lagi, yaitu perendahan mereka kepada kaum muslimin tidak hanya berhenti pada tempat nongkrong dan kongkow mereka saja, akan tetapi bahkan berlanjut ke rumah mereka. Ketika mereka selesai dari majelis batil mereka, lalu pulang ke rumah, akan mereka ceritakan apa yang mereka lakukan tadi kepada keluarga mereka, lalu mereka semua tertawa bersama, menertawakan kaum muslimin. Suatu tertawa yang Allah siapkan neraka Jahanam untuk membakar mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ , وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ
“Apabila melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,” padahal mereka (orang-orang yang berdosa itu) tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin).” (QS. Al-Muṭaffifīn: 32-33)
Kaum musyrik Quraisy memberikan label kesesatan kepada orang-orang yang beriman, dikarenakan Islam dianggap agama yang menyempal dari agama nenek moyang mereka, berbeda dengan akidah dan keyakinan yang mereka yakini. Kaum muslimin juga dianggap sesat karena meninggalkan banyak kenikmatan dunia yang bisa mereka petik hari ini untuk mengejar pahala di akhirat, sedangkan orang-orang musyrik tidak percaya adanya balasan kebaikan setelah kematian. Serta dianggap sesat karena mengikuti Nabi Muhammad yang dikatakan membawa agama baru yang merusak agama lama mereka.
Kemudian Allah membantah klaim mereka atas vonis sesat yang diberikan, yaitu Allah katakan padahal orang-orang musyrik itu tidaklah diutus sebagai pengawas ucapan dan amal yang dilakukan kaum muslimin, lantas mengapa mereka bisa mengatakan kaum muslimin berada dalam kesesatan?
Allah meminta setiap person untuk memandang ke dalam urusan diri mereka masing-masing, menjalankan sesuai jalur lurus aturan yang telah Allah gariskan, lalu meluruskan apa yang bengkok dari perbuatan mereka, bukan malah sibuk mencari kesalahan dan vonis pada orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ
“Pada hari ini (hari kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 34)
Pada ayat ini, Allah sebutkan tentang bagaimana roda kehidupan akan berputar di dunia dan akhirat. Ketika kaum muslimin di dunia merasakan tekanan berat dikarenakan kezaliman yang dilakukan orang-orang kafir, kaum mukminin banyak yang disiksa dan dibunuh dalam invasi militer yang dilakukan para zionis ke negara-negara muslim, kemudian direndahkan, dihina, serta ditertawakan karena menjaga keimanan yang kokoh dalam hati mereka. Maka saat kemudian nanti di hari kiamat, Allah balik keadaannya.
Pada hari kiamat, Allah akan membuat kaum muslimin merasakan kenikmatan besar berupa menertawakan orang-orang kafir yang dahulu menzalimi dan menyakiti mereka. Ketika malaikat menyiksa dan membakar orang-orang kafir sampai hangus tak bersisa, ketika mereka berteriak-teriak dan menangis karena tidak kuat atas siksaan yang diberikan, Allah tambah siksaan fisik tersebut dengan siksaan batin, yaitu ditertawakan orang kaum muslimin. Ditertawakan, dihina, direndahkan, sambil terus dibakar oleh para malaikat. Suatu siksaan fisik dan batin yang sangat mengerikan.
And tidak perlu merasa heran dengan nikmat ini, tidak perlu Anda bertanya, “Wah, apa tidak kasihan mereka ditertawakan demikian dalam keadaan disiksa? Apa boleh yang seperti ini?” Anda tidak perlu risau dengan nikmat ini yang Allah berikan kepada kaum mukminin di akhirat. Jika Anda risau, maka tengoklah bagaimana kejinya orang-orang kafir membantai kaum muslimin, bagaimana genosida yang mereka lakukan, bagaimana mereka menghancurkan rumah dan negeri kaum muslimin, bagaimana mereka memperkosa wanita-wanita kaum muslimin yang menjaga dirinya. Tengoklah kebusukan mereka, lalu tengoklah bahwa banyak di antara para penjahat tersebut yang sampai hari ini masih hidup bebas dengan harta rampasan perang yang mereka ambil dari kaum muslimin. Setelah mengingat itu, Anda pasti akan merasa bahwa menertawakan kaum kafir di akhirat adalah bentuk keadilan dari Allah
Bacalah bagaimana orang-orang Kristen dahulu membantai kaum muslimin yang ada di Granada Andalusia, bacalah genosida dan penghancuran etnis muslim yang terjadi Bosnia tahun 1995, bacalah bagaimana genosida yang dilakukan oleh zionis Israel kepada rakyat Palestina yang masih terjadi sampai hari ini. Begitu kejamnya mereka, bersatu padu menghancurkan Islam. Namun Allah senantiasa menjaga Islam sampai hari kiamat. Dengan melihat kebengisan mereka, kita jadi bisa sangat mengerti tentang nikmat pada ayat ini yaitu, “Pada hari ini (hari kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ
“Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 35)
Kaum muslimin diberikan nikmat berupa dipan-dipan, ranjang serta permadani yang empuk, ditemani istri mereka dan para bidadari yang cantik jelita, semua makanan paling enak dihidangkan. Ketika bersandar pada dipan-dipan ini, Allah berikan kesempatan mereka bisa melihat orang-orang kafir disiksa hingga hancur, lalu ditertawakan.
Imam Qurthubi menjelasakan bahwa penguni neraka merasa sangat tersiksa, sehingga mereka mencari-cari cara supaya bisa keluar darinya. Suatu saat pintu neraka dibuka, lalu penghuni neraka melihatnya dan berbondong-bondong untuk menaiki tebing neraka untuk bisa naik sampai pintunya. Mereka menaiki tebing tersebut dengan penuh kesakitan dan kepanasan. Ketika mereka hampir sampai pintu tersebut, serta harapan untuk bisa keluar sudah sangat besar, lalu Allah menutup pintu neraka sehingga hancurlah harapan mereka, sehingga semakin tersiksalah psikis mereka karena harapan palsu ini. Maka orang-orang mukmin penghuni surga diberi “tontonan” pemandangan ini, lalu mereka tertawa atas apa yang terjadi pada orang-orang kafir tersebut dan sama sekali tidak menyimpan rasa iba pada mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ࣖ
“Apakah orang-orang kafir itu telah diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang selalu mereka perbuat?” (QS. Al-Muṭaffifīn: 36)
Allah menutup surah ini dengan memberikan pertanyaan, akan tetapi bermakna taqrir atau penetapan dan penegasan atas apa yang dikandung oleh makna ayat. Yaitu, apakah orang-orang kafir telah diberikan balasan setimpal atas segala ejekan, perendahan, dan hinaan yang mereka timpakan kepada orang-orang beriman? Jawabnya: Tentu benar! Semoga Allah melindungi kita semua.
[Selesai]
KEMBALI KE BAGIAN 3
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Sumber: Muslim.or.id