Seumur Hidup Sekali ?

بسم الله الرحمن الرحيم
Hajatan sih boleh saja.
Resepsi ramai dan meriah juga tak mengapa.
Tapi hak tetangga harus tetap dijaga.
Bunyi keras soundsystem hingga larut malam, apa itu membanggakan?
Lantas bagaimana tetangga kanan kiri yang butuh istirahat dengan nyaman?
Hajatan seumur hidup sekali tak berarti harus memperturutkan apa maunya hati .
Sabda Nabi ﷺ berikut semoga bisa mengetuk nurani ;
واللَّهِ لا يُؤْمِنُ، واللَّهِ لا يُؤْمِنُ، واللَّهِ لا يُؤْمِنُ ، قِيلَ: مَنْ يا رسولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذي لا يأْمنُ جارُهُ بَوَائِقَهُ .
"Demi Allah dia tidak beriman". (beliau ucapkan sampai 3x).
Ditanyakan kepada beliau, "Siapa dia ya Rasulullah?".
Beliau bersabda, "Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya".
(HR. Al Bukhari dan Muslim)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyebutkan diantara bentuk mengganggu tetangga adalah ;
كالذين يفتحون الراديو أو التلفزيون أو غيرهما مما يُسمع فيزعج الجيران، فإن هذا لا يحل له،
"Seperti orang yang menyetel radio atau televisi atau selain keduanya, diperdengarkan dan membisingkan para tetangga.
Ini tidaklah halal."
(Syarah Riyadhus Shalihin)
Semoga yang akan gelar hajatan Allah mudahkan. Lingkungan sekitar pun tetap nyaman dari gangguan.
Barakallahu fikum.
Semilir Sumpiuh — Ustadz Tamim Suherman, Pengajar Ponpes Ibnu Taimiyyah.