Pakai Topi

بسم الله الرحمن الرحيم
Topi (hat-bukan peci) dalam bahasa Arab disebut al-barnithah (البرْنيطة) atau al-qubba’ah (القُبَّعة).
Apa hukum memakainya ?
Para ulama berselisih pendapat.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan :
وإذا لم يكن من عادتهم بل كان شائعاً بين الناس يلبسه الكفار والمسلمون فلا بأس.
"Jika (suatu pakaian) bukan merupakan adat (kekhususan ) orang kafir , bahkan telah merata di kalangan manusia, dipakai oleh orang kafir dan kaum muslimin, maka tidak mengapa mengenakannya."
Penjelasan beliau ini mirip dengan burnus (baju yang bertudung kepala) yang dahulu hukumnya diperselisihkan.
Imam Ibnu Hajar rahimahullah menuturkan ;
وقد كره بعض السلف لبس البرنس؛ لأنه كان من لباس الرهبان، وقد سئل مالك عنه، فقال: لا بأس به. قيل: فإنه من لبوس النصارى. قال: كان يلبس ها هنا.
"Sebagian ulama salaf membenci memakai burnus, karena pakaian ini biasa dikenakan oleh pendeta.
(Tetapi) Imam Malik rahimahullah ditanya tentang hal ini, jawab beliau, "Tak mengapa."
Dikatakan kepada beliau, "Itu pakaian Nasrani."
Maka beliau berkata, "Burnus sudah biasa dipakai di sini."
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memberikan nasihat terkait pakaian yang biasa dikenakan di masyarakat (selagi tidak terlarang oleh syariat),
لا ينبغي أن تخرج عن عادة البلد ، دون الإنكار عليه
"Tidak semestinya engkau keluar dari kebiasaan negerimu, (dan) tidak mengingkarinya."
📚 Fathul Bari, Liqa' Bab al Maftuh
Wallahu a'lam.
Barakallahu fikum
Semilir Sumpiuh — Ustadz Tamim Suherman, Pengajar Ponpes Ibnu Taimiyyah.