Menjamu Tamu

بسم الله الرحمن الرحيم
Nabi ﷺ bersabda :
مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللَّهِ واليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ، قالوا: وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رسول اللَّه؟ قَالَ: يَومُه وَلَيْلَتُهُ، والضِّيَافَةُ ثَلاثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذلكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah memuliakan tamu (dalam penjamuannya)"
Mereka bertanya, "Apa yang dimaksud dengan menjamunya wahai Rasulullah ?"
Beliau bersabda :
"Yaitu pada siang dan malam harinya.
Menjamu tamu itu (sampai) tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah atas tuan rumah."
(Hadits Muttafaqun 'alaih)
Syaikh Bin Baz rahimahullah menjelaskan :
وجائزته هي يومه وليلته، يعني: غداءه وعشاءه، والضِّيافة الكاملة ثلاثة أيام.
"Memberi jamuan sehari semalam artinya menghidangkan makan siang dan malamnya. Penjamuan yang sempurna itu hingga 3 hari."
📚 Syarah Riyadhus Shalihin – Syaikh Bin Baz.
Semoga Allah memberkahi para tamu dan tuan rumah.
Barakallahu fikum.
Semilir Sumpiuh — Ustadz Tamim Suherman, Pengajar Ponpes Ibnu Taimiyyah.