
Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Teladan bagi Generasi Muslim

Di tengah generasi yang mudah terpukau oleh popularitas, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari iman, kesetiaan, dan amal yang tulus. Ia adalah lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺ, sahabat beliau di dalam gua, orang yang dipercaya mengimami kaum Muslimin ketika Nabi ﷺ sakit, serta sosok yang berlomba dalam berbagai pintu kebaikan. Mengenal keutamaan Abu Bakar bukan sekadar membaca sejarah, melainkan menemukan standar keteladanan yang sangat dibutuhkan kaum Muslimin hari ini.
Siapakah Abu Bakar Ash-Shiddiq?
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bernama Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka‘ab bin Sa‘d bin Taim bin Murrah Al-Qurasyi At-Taimi. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah ﷺ pada Murrah bin Ka‘ab. Beliau adalah sahabat dekat Rasulullah ﷺ, pendamping beliau ketika hijrah, serta khalifah pertama setelah wafatnya Nabi ﷺ.
Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,
وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيفَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَهُوَ أَفْضَلُ الْخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ.
“Diyakini keutamaan khalifah Rasulullah ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah manusia terbaik dan terpilih setelah Nabi ﷺ.”
Baca juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq
1. Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ
Para sahabat sendiri telah mengetahui kedudukan Abu Bakar sejak Rasulullah ﷺ masih hidup. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرَ، ثُمَّ عُثْمَانَ.
“Kami memilih siapa yang terbaik di antara manusia pada zaman Nabi ﷺ. Kami memilih Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman.” (HR. Bukhari, no. 3655)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga menyatakan ketika ditanya oleh putranya, Muhammad bin Al-Hanafiyyah, bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Karena itu, Ahlusunah menetapkan bahwa sahabat paling utama setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Menariknya, keutamaan Abu Bakar tidak baru diakui setelah beliau menjadi khalifah. Kedudukannya telah dikenal dan diakui para sahabat ketika Nabi ﷺ masih berada di tengah-tengah mereka.
2. Sahabat yang diabadikan Allah dalam kisah hijrah
Salah satu kemuliaan terbesar Abu Bakar adalah dipilih menjadi pendamping Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah yang sangat berbahaya. Bahkan, persahabatan tersebut diabadikan Allah di dalam Al-Qur’an.
Allah Ta‘ala berfirman,
ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“… sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’” (QS. At-Taubah: 40)
Yang dimaksud dengan “sahabatnya” dalam ayat tersebut adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan sahabat Nabi ﷺ dalam ayat ini adalah Abu Bakar tanpa ada perselisihan.
Inilah persahabatan sejati. Abu Bakar bukan hanya hadir ketika keadaan aman dan menyenangkan, tetapi menemani Rasulullah ﷺ ketika nyawa menjadi taruhan.
3. Lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺ
Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,
أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: «عَائِشَةُ». قُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ: «أَبُوهَا».
“Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Aku bertanya, “Kalau dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.” (HR. Bukhari, no. 3662; Muslim, no. 2384)
Hadis ini menunjukkan bahwa dari kalangan laki-laki, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling dicintai Rasulullah ﷺ.
Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda,
لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا، وَلَكِنَّهُ أَخِي وَصَاحِبِي.
“Seandainya aku menjadikan seseorang sebagai khalil, niscaya aku menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Namun, ia adalah saudara dan sahabatku.” (HR. Muslim, no. 2383)
Khalil menunjukkan tingkat kecintaan yang sangat tinggi dan khusus. Rasulullah ﷺ tidak menjadikan seorang manusia pun sebagai khalil karena Allah telah menjadikan beliau sebagai khalil-Nya, tetapi seandainya hal itu diberikan kepada seorang manusia, Abu Bakarlah orangnya.
4. Orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan harta
Menjelang wafatnya, Rasulullah ﷺ mengenang jasa Abu Bakar. Beliau bersabda,
إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ.
“Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Abu Bakar memberikan dua hal besar untuk dakwah: dirinya dan hartanya. Ia tidak hanya mengatakan bahwa dirinya mencintai Nabi ﷺ, tetapi cintanya mempunyai bukti nyata.
Ketika Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat berinfak, Umar radhiyallahu ‘anhu datang membawa setengah hartanya. Abu Bakar justru datang membawa seluruh harta yang dimilikinya. Ketika ditanya apa yang ditinggalkan untuk keluarganya, Abu Bakar menjawab,
أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ.
“Aku meninggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Umar pun mengakui bahwa ia tidak akan mampu mengungguli Abu Bakar dalam perkara tersebut. Riwayat ini dinilai hasan.
Namun, hal ini bukan berarti setiap orang dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya hingga keluarga terlantar. Rasulullah ﷺ menerima tindakan Abu Bakar karena mengetahui kuatnya iman, kesabaran, dan tawakal beliau, sedangkan kepada sebagian sahabat lain beliau justru memerintahkan agar tetap menyisakan sebagian hartanya.
5. Dipercaya menggantikan Rasulullah ﷺ sebagai imam
Ketika sakit Rasulullah ﷺ semakin berat, beliau tetap memikirkan salat kaum Muslimin. Beliau bersabda,
مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ.
“Perintahkan Abu Bakar agar mengimami orang-orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Aisyah radhiyallahu ‘anha sempat menyampaikan bahwa Abu Bakar adalah seorang yang berhati sangat lembut dan banyak menangis sehingga apabila berdiri menggantikan Rasulullah ﷺ, orang-orang bisa kesulitan mendengar bacaannya. Namun, Rasulullah ﷺ tetap menegaskan agar Abu Bakar yang menjadi imam.
Perintah ini menunjukkan besarnya kepercayaan Rasulullah ﷺ kepada Abu Bakar pada salah satu urusan agama yang paling agung, yaitu memimpin salat kaum Muslimin. Para ulama juga melihat peristiwa ini sebagai salah satu isyarat kuat tentang kedudukan Abu Bakar dan kelayakannya memimpin umat setelah Rasulullah ﷺ.
6. Hatinya lembut ketika membaca Al-Qur’an
Abu Bakar bukan orang yang keras hatinya meskipun dikenal tegas dalam membela agama. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan tentang ayahnya,
وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَجُلًا بَكَّاءً، لَا يَمْلِكُ عَيْنَيْهِ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ.
“Abu Bakar adalah seorang yang banyak menangis. Ia tidak mampu menahan kedua matanya ketika membaca Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)
Bahkan ketika Abu Bakar membaca Al-Qur’an dan salat di halaman rumahnya di Makkah, para wanita dan anak-anak kaum musyrikin berkumpul memperhatikannya. Mereka takjub melihat bacaan dan tangisnya, sampai para pemuka Quraisy merasa khawatir pengaruhnya akan masuk ke hati keluarga mereka.
Keutamaan ini penting direnungkan. Kedekatan dengan Al-Qur’an tidak hanya diukur dari banyaknya bacaan, hafalan, atau kemampuan menyampaikan tafsir, tetapi juga dari sejauh mana wahyu Allah melembutkan hati.
7. Tidak puas dengan satu jenis amal saleh
Suatu hari Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat siapa yang sedang berpuasa. Abu Bakar menjawab, “Saya.” Beliau kemudian bertanya siapa yang telah mengiringi jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit pada hari itu. Semua pertanyaan tersebut kembali dijawab oleh Abu Bakar, “Saya.”
Rasulullah ﷺ kemudian bersabda,
مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Tidaklah semua amalan itu terkumpul pada seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Muslim, no. 1028)
Abu Bakar tidak hanya unggul dalam satu bidang ibadah. Salat, puasa, sedekah, pelayanan sosial, dan perhatian kepada orang sakit berkumpul pada dirinya.
Tidak mengherankan ketika Abu Bakar bertanya apakah ada orang yang kelak dipanggil dari seluruh pintu surga, Rasulullah ﷺ menjawab,
نَعَمْ، وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ.
“Ya. Aku berharap engkau termasuk di antara mereka.” (HR. Bukhari, no. 1897; Muslim, no. 1027)
8. Mampu memaafkan orang yang menyakiti keluarganya
Ujian memaafkan menjadi jauh lebih berat ketika yang disakiti adalah anak sendiri. Misthah bin Utsatsah termasuk orang yang turut berbicara dalam peristiwa fitnah terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha. Padahal, Abu Bakar selama ini membantu nafkah Misthah karena hubungan kekerabatan dan kemiskinannya.
Karena sangat marah, Abu Bakar bersumpah tidak akan lagi memberikan bantuan kepadanya. Allah kemudian menurunkan firman-Nya,
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22)
Mendengar ayat tersebut, Abu Bakar berkata,
بَلَى وَاللَّهِ، إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي.
“Benar, demi Allah. Sungguh, aku ingin Allah mengampuniku.”
Abu Bakar kemudian kembali memberikan nafkah kepada Misthah dan tidak memutus bantuannya.
Inilah puncak kelapangan hati. Abu Bakar tidak menunggu perasaannya benar-benar nyaman untuk taat kepada ayat Allah. Begitu perintah Allah datang, ia tunduk dan mengalahkan sakit hatinya.
9. Teguh ketika umat terguncang oleh wafatnya Rasulullah ﷺ
Ketika Rasulullah ﷺ wafat, kaum Muslimin mengalami guncangan luar biasa. Bahkan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu sempat tidak mampu menerima kenyataan bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat.
Abu Bakar datang, memastikan wafatnya Rasulullah ﷺ, kemudian keluar menemui manusia. Dengan penuh keteguhan ia berkata,
مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ، فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ.
“Siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak mati.”
Lalu Abu Bakar membacakan firman Allah,
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
“Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul.” (QS. Ali ‘Imran: 144)
Pada saat banyak hati diliputi kesedihan, Abu Bakar mengembalikan umat kepada wahyu. Keteguhan itu menunjukkan bahwa lembutnya hati tidak berarti lemahnya jiwa. Orang yang menangis ketika membaca Al-Qur’an justru bisa menjadi orang yang paling kokoh ketika datang musibah besar.
Rahasia keunggulan Abu Bakar: ada sesuatu yang besar dalam hatinya
Abu Bakar Al-Muzani rahimahullah berkata,
مَا فَاقَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ بِصَوْمٍ وَلَا صَلَاةٍ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ كَانَ فِي قَلْبِهِ.
“Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak mengungguli para sahabat Muhammad ﷺ semata-mata dengan puasa atau salat, tetapi dengan sesuatu yang ada dalam hatinya.”
Ibnu ‘Aliyyah rahimahullah menjelaskan,
الَّذِي كَانَ فِي قَلْبِهِ الْحُبُّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالنَّصِيحَةُ فِي خَلْقِهِ.
“Yang ada dalam hatinya adalah cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keinginan memberikan kebaikan kepada makhluk-Nya.”
Jadi, rahasia Abu Bakar bukan sekadar banyaknya aktivitas. Ada iman, cinta kepada Allah, kejujuran, ketulusan, dan keinginan memberi manfaat yang menghidupkan seluruh amalnya.
Baca juga: Karamah pada Abu Bakar dengan Makanan yang Banyak
Delapan teladan Abu Bakar untuk generasi saat ini
Pertama: jadilah orang yang benar ketika banyak orang mengikuti arus. Abu Bakar memiliki prinsip yang kokoh dalam membenarkan Rasulullah ﷺ. Generasi Muslim hari ini perlu belajar agar ukuran kebenaran bukan viral atau tidak viral, populer atau tidak populer, melainkan kesesuaiannya dengan wahyu.
Kedua: jadilah sahabat yang hadir ketika keadaan sulit. Abu Bakar menemani Nabi ﷺ bukan hanya ketika Islam telah menang, tetapi ketika hijrah penuh risiko. Persahabatan yang baik terlihat ketika seseorang membantu temannya tetap taat dan hadir saat ia membutuhkan pertolongan.
Ketiga: dekatilah Al-Qur’an sampai hati ikut berubah. Abu Bakar membaca Al-Qur’an dengan hati yang hidup hingga air matanya sulit ditahan. Jangan sampai generasi hari ini mempunyai aplikasi Al-Qur’an di setiap gawai, tetapi hati tetap jauh dari petunjuknya.
Keempat: berlombalah dalam amal, bukan sekadar pencapaian dunia. Dalam sehari, Abu Bakar dapat mengumpulkan puasa, mengiringi jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit. Semangat kompetisi generasi Muslim selayaknya diarahkan pula kepada siapa yang paling cepat menolong, bersedekah, belajar agama, dan memberikan manfaat.
Kelima: jadikan harta sebagai alat membela agama dan menolong manusia. Abu Bakar tidak diperbudak hartanya. Namun, teladannya harus diterapkan sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing sehingga infak tidak menyebabkan orang yang menjadi tanggungan justru terlantar.
Keenam: jangan biarkan sakit hati menghalangi ketaatan. Abu Bakar mampu kembali membantu orang yang pernah ikut menyakiti kehormatan putrinya karena ia lebih menginginkan ampunan Allah daripada mempertahankan dendam. Ini sangat relevan pada zaman ketika konflik keluarga, pertemanan, dan pertengkaran di media sosial sering berlangsung panjang.
Ketujuh: ketika krisis datang, kembalilah kepada wahyu. Saat wafatnya Rasulullah ﷺ mengguncang kaum Muslimin, Abu Bakar tidak larut dalam kepanikan. Ia mengembalikan manusia kepada Al-Qur’an dan membuat mereka kembali melihat kenyataan dengan iman.
Kedelapan: jangan mengejar jabatan, tetapi siapkan kelayakan untuk memikul amanah. Abu Bakar tidak menjadi mulia karena mengejar kekuasaan. Kepercayaan, ilmu, ibadah, pengorbanan, kedekatan dengan Rasulullah ﷺ, dan pengakuan para sahabat telah lebih dahulu berbicara tentang kualitas dirinya. Perintah Nabi ﷺ agar Abu Bakar mengimami kaum Muslimin pada hari-hari terakhir kehidupan beliau merupakan salah satu tanda kuat kedudukannya.
Nasihat terakhir
Generasi sekarang mudah mengukur keberhasilan dari jumlah pengikut, pengaruh, kekayaan, atau jabatan. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa nilai seorang hamba justru bermula dari iman yang kokoh, hati yang hidup, dan pengorbanan yang ikhlas. Jadilah orang yang lembut ketika membaca wahyu, dermawan ketika memiliki harta, pemaaf ketika disakiti, dan teguh ketika datang ujian. Jika ingin menjadi generasi terbaik, jangan hanya mengagumi Abu Bakar, tetapi berusahalah meniru jalan kebaikannya sesuai kemampuan.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صِدْقَ الْإِيمَانِ، وَحُسْنَ الِاتِّبَاعِ، وَرِقَّةَ الْقُلُوبِ، وَالْمُسَارَعَةَ فِي الْخَيْرَاتِ، وَاجْمَعْنَا مَعَ نَبِيِّكَ وَصَحْبِهِ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى.
ALLAHUMMARZUQNA SHIDQAL-IMAN, WA HUSNAL-ITTIBA’, WA RIQQATAL-QULUB, WAL-MUSARA’ATA FIL-KHAIRAT, WAJMA’NA MA’A NABIYYIKA WA SHAHBIHI FIL-FIRDAUSIL-A’LA.
Artinya: “Ya Allah, karuniakan kepada kami kejujuran iman, kebaikan dalam mengikuti tuntunan, kelembutan hati, kesegeraan dalam melakukan kebaikan, dan kumpulkanlah kami bersama Nabi-Mu dan para sahabatnya di Firdaus yang tertinggi.”
Referensi
- Ad-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis perintah kepada Abu Bakar untuk mengimami manusia. Sumber
- Ad-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis tentang amal-amal Abu Bakar dalam satu hari. Sumber
- Ad-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis Abu Bakar dan pintu-pintu surga. Sumber
- Ad-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Wafatnya Rasulullah dan sikap Abu Bakar. Sumber
- IslamQA. (2017, 10 Mei). Man ahabbu an-nas muthlaqan ila an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? IslamQA
- IslamQA. (2018, 13 November). Nubdzah yasirah ‘an husni khuluqi Abi Bakr wa ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. IslamQA
- IslamQA. (2022, 14 Desember). Al-ayat Al-Qur’aniyyah allati nazalat fi haqqi Abi Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. IslamQA
- Islamweb. (n.d.). Bab fadhl Abi Bakr ba‘da An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Islamweb
- Islamweb. (2006). ‘Uluw al-himmah fi hubbillah. Islamweb
- Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Qur’an Kemenag. Kementerian Agama RI
- Shamela.org. (n.d.). Ash-shahib wa al-khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq [PDF]. Shamela
- Tuasikal, M. A. (2015, 14 Agustus). Delapan pintu surga. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com
- Tuasikal, M. A. (2021, 16 Januari). Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com
- Tuasikal, M. A. (2026, 7 Agustus). Perang Tabuk: Ujian keimanan dan pengorbanan terbesar di masa Nabi ﷺ. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com
—
@ Kajian Malam Selasa Musholla Al-Amin Imogiri Timur Bantul Jogja, 7 September 2026
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com

Sumber: Rumaysho.com