Ibnu Taimiyyah Sumpiuh
Pondok Pesantren
Ibnu Taimiyyah Sumpiuh
Ilmu | Adab | Amal | Generasi Qur'ani
●Sumpiuh, Banyumas
Jawa Tengah
PSB 2027/2028 →
Jejak Islam

Berbagai Metode Kaum Musyrikin Quraisy dalam Menentang Dakwah Rasulullah ﷺ

●
AdminPonpes Ibnu Taimiyyah Sumpiuh

Daftar Isi

Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas bagaimana rencana jahat musyrikin Quraisy dalam menghalangi dakwah Rasulullah ﷺ saat musim haji. Pada artikel kali ini, kita akan membahas berbagai metode yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy dalam menentang dakwah Rasulullah ﷺ sebagaimana dipaparkan oleh Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri rahimahullah.

Setelah musim haji usai, kaum musyrikin Quraisy mulai memikirkan kembali bagaimana cara melenyapkan dakwah Rasulullah ﷺ dari akar-akarnya. Syekh Shafiyurrahman memaparkan beberapa metode yang dilakukan kaum musyrikin Quraisy. Di antaranya adalah tiga metode berikut.

Ejekan, penghinaan, dan pendustaan

Tujuan kaum musyrikin dengan semua itu adalah melemahkan kaum muslimin dan meruntuhkan kekuatan mental mereka. Mereka melontarkan tuduhan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan tuduhan yang menggelikan dan makian-makian yang bodoh. Mereka menyebut beliau sebagai orang gila, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

“Dan mereka berkata, ‘Wahai orang yang kepadanya diturunkan Al-Qur’an, sesungguhnya engkau benar-benar orang gila.’” (QS. Al-Hijr: 6)

Mereka juga memberi cap kepada beliau sebagai penyihir dan pendusta. Allah Ta’ala menceritakan,

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

“Dan mereka merasa heran karena seorang pemberi peringatan datang kepada mereka dari kalangan mereka sendiri. Orang-orang kafir berkata, ‘Ini adalah seorang penyihir lagi pendusta.’” (QS. Shad: 4)

Mereka mengiringi dan menyambut beliau dengan tatapan mata yang menyala penuh kebencian dan perasaan yang bergolak penuh kemarahan. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

“Dan sungguh, orang-orang kafir itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mata mereka ketika mereka mendengar Al-Qur’an, dan mereka berkata, ‘Sesungguhnya dia benar-benar orang gila.’” (QS. Al-Qalam: 51)

Ketika beliau duduk dikelilingi para sahabat beliau yang berasal dari kalangan lemah, mereka mengejek mereka seraya berkata, “Inikah orang-orang yang Allah beri karunia di antara kami?” Yang dimaksud Syekh Shafiyurrahman adalah firman Allah Ta’ala,

وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا

“Demikianlah Kami menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, agar mereka berkata, ‘Orang-orang semacam inikah yang diberi karunia oleh Allah di antara kita?’” (QS. Al-An‘am: 53)

Padahal Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

“Bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?” (QS. Al-An‘am: 53)

Mereka semakin banyak melakukan ejekan dan penghinaan. Sedikit demi sedikit mereka semakin menambah celaan dan menjadikan beliau sebagai bahan tertawaan, sampai hal tersebut mempengaruhi perasaan Rasulullah ﷺ, yaitu membuat dada beliau terasa sempit. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ

“Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka ucapkan.” (QS. Al-Hijr: 97)

Kemudian Allah meneguhkan beliau dan memerintahkannya melakukan sesuatu yang dapat menghilangkan kesempitan tersebut. Di antaranya adalah bertasbih dan banyak beribadah. Allah Ta’ala berfirman,

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ، وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah termasuk orang-orang yang bersujud. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.” (QS. Al-Hijr: 98–99)

Allah juga mengabarkan bahwa Dia akan mencukupkan beliau dari gangguan orang-orang yang memperolok-olok tersebut.

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ، الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya Kami telah mencukupimu dari orang-orang yang memperolok-olok, yaitu orang-orang yang menjadikan sesembahan lain bersama Allah. Kelak mereka akan mengetahui.” (QS. Al-Hijr: 95–96)

Allah juga memberitahukan Rasulullah ﷺ bahwa perbuatan mereka tersebut kelak akan berbalik menjadi bencana bagi diri mereka sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Dan sungguh, para Rasul sebelum engkau pun telah diperolok-olok. Maka orang-orang yang mengejek mereka ditimpa oleh apa yang dahulu mereka perolok-olokkan.” (QS. Al-An‘am: 10)

Baca juga: Fir’aun Mendustakan Allah Berada di Atas Langit

Menuduh Al-Qur’an dengan berbagai propaganda dusta

Kaum musyrikin Quraisy sangat banyak melakukan hal ini dan membuat berbagai macam bentuknya, sehingga orang-orang awam tidak memiliki kesempatan untuk merenungkan dakwah beliau dan memikirkannya.

Tentang Al-Qur’an, mereka mengatakan bahwa ia hanyalah mimpi-mimpi yang kacau atau dibuat-buat oleh Rasulullah ﷺ sendiri.

بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ

“Bahkan mereka berkata, ‘Itu adalah mimpi-mimpi yang kacau. Bahkan dia mengada-adakannya.” (QS. Al-Anbiya’: 5)

Mereka juga pernah menuduh bahwa ada orang-orang yang membantu Rasulullah ﷺ membuat Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman menceritakan perkataan mereka,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ ۖ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا

“Ini tidak lain hanyalah kebohongan yang dia ada-adakan, dan orang lain telah membantunya membuatnya.” (QS. Al-Furqan: 4)

Mereka juga pernah menyebut Al-Qur’an sebagai dongeng orang-orang terdahulu. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Mereka berkata, ‘Dongeng-dongeng orang-orang dahulu yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)

Terkadang mereka mengatakan bahwa beliau mempunyai jin atau setan yang turun kepadanya, sebagaimana jin dan setan turun kepada dukun. Namun Allah membantah tuduhan tersebut dengan berfirman,

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ، تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ

“Maukah Aku beritakan kepadamu kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak berdosa.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 221–222)

Padahal Rasulullah ﷺ tidak pernah melakukan kedustaan dan kefasikan. Bagaimana mungkin bisa setan turun kepada beliau?

Menghalangi manusia dari mendengarkan Al-Qur’an

Mereka mengusir orang-orang, membuat keributan dan kegaduhan, bernyanyi, dan bermain-main apabila melihat Nabi Muhammad ﷺ bersiap untuk berdakwah atau ketika melihat beliau sedang salat dan membaca Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Orang-orang kafir berkata, ‘Janganlah kalian mendengarkan Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya agar kalian dapat mengalahkannya.’” (QS. Fushshilat: 26)

Sampai-sampai Nabi Muhammad ﷺ tidak dapat membacakan Al-Qur’an kepada mereka di tempat-tempat pertemuan dan majelis mereka kecuali pada akhir tahun kelima kenabian. Itu pun beliau melakukannya secara tiba-tiba, tanpa mereka mengetahui maksud beliau sebelum bacaan dimulai.

An-Nadhr bin al-Harits (النضر بن الحارث), salah seorang tokoh jahat Quraisy, pernah pergi ke Hirah. Di sana ia mempelajari cerita-cerita tentang raja-raja Persia dan kisah Rustam (رستم) dan Isfandiyar (اسفنديار). Setiap kali Rasulullah ﷺ duduk dalam suatu majelis untuk mengingatkan manusia kepada Allah dan memperingatkan mereka dari azab-Nya, an-Nadhr kemudian mengambil tempat setelah beliau dan berkata, “Demi Allah, wahai kaum Quraisy, aku lebih pandai bercerita daripada dia.”

Kemudian ia menceritakan kepada mereka kisah raja-raja Persia, Rustam, dan Isfandiyar. Setelah itu ia berkata, “Dalam hal apa Muhammad lebih baik ceritanya daripada aku?”

Demikianlah beberapa metode yang digunakan kaum musyrikin Quraisy dalam menentang dakwah Rasulullah ﷺ. Mereka tidak hanya mengejek dan mencela, tetapi juga menyebarkan syubhat, membuat propaganda dusta, menghalangi manusia dari mendengarkan Al-Qur’an, dan menandinginya dengan cerita-cerita yang melalaikan. Dari sini kita belajar bahwa dakwah kebenaran akan selalu menghadapi berbagai bentuk penentangan. Namun, sebagaimana Rasulullah ﷺ tetap teguh dalam menyampaikan risalah, kaum muslimin pun hendaknya tetap bersabar, tidak gentar, dan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah.

Baca juga: Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin Ibadah

***

Penulis: Fajar Rianto

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri edisi revisi penulis 1415 H/1994 M.


Sumber: Muslim.or.id

Share