
Abu Jahal dan Ikrimah: Ayah Memusuhi Islam, Anak Mendapat Hidayah

Hidayah tidak selalu berjalan mengikuti garis keturunan. Dalam keluarga besar Bani Makhzum ada Al-Walid bin Al-Mughirah dan keponakannya, Abu Jahal, yang sama-sama menentang dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; tetapi dari keluarga yang sama Allah memberi hidayah kepada Khalid bin Al-Walid dan Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhuma. Kisah ini menunjukkan bahwa nasab dapat diwariskan, tetapi iman dan hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah.
Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal masih satu keluarga dekat
Sebelum memasuki kisah Abu Jahal, ada hubungan keluarga yang penting untuk diketahui.
Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal sama-sama berasal dari Bani Makhzum, salah satu keluarga besar Quraisy.
Nasab Al-Walid adalah:
Al-Walid bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.
Adapun nama asli Abu Jahal adalah:
‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.
Dengan demikian, Hisyam bin Al-Mughirah, ayah Abu Jahal, adalah saudara Al-Walid bin Al-Mughirah. Artinya, Al-Walid bin Al-Mughirah adalah paman Abu Jahal.
Hubungannya dapat digambarkan secara sederhana:
Al-Mughirah bin ‘Abdillah
- Al-Walid bin Al-Mughirah → Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu
- Hisyam bin Al-Mughirah → Abu Jahal (‘Amr bin Hisyam) → Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhu
Ibnu Hisyam ketika menyebut para tokoh Quraisy yang menunjukkan permusuhan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuliskan nasab Abu Jahal dan Al-Walid bin Al-Mughirah dalam satu rangkaian pembahasan. Dari nasab tersebut tampak jelas bahwa keduanya bertemu pada Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.
Di kemudian hari, Khalid bin Al-Walid dikenal sebagai putra Al-Walid bin Al-Mughirah. Nasab Khalid disebutkan,
خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ مَخْزُومٍ
“Khalid bin Al-Walid bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum.”
Jadi, kita sedang berbicara tentang satu keluarga besar Bani Makhzum yang kelak memperlihatkan akhir perjalanan iman yang sangat berbeda.
Al-Walid lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi berikutnya
Al-Walid bin Al-Mughirah berasal dari generasi yang lebih tua daripada Abu Jahal. Hal ini sudah tampak dari hubungan nasab: Al-Walid adalah saudara kakek garis ayah Abu Jahal—tepatnya saudara Hisyam, ayah Abu Jahal.
Al-Walid adalah seorang pemuka Quraisy yang telah berusia lanjut ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwah. Adapun Abu Jahal berada pada generasi sesudahnya dan hidup pada masa yang berdekatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sumber-sumber klasik tidak memberikan tahun kelahiran Al-Walid dan Abu Jahal dengan ketepatan seperti informasi mengenai umur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, lebih aman mengatakan bahwa Al-Walid adalah generasi yang lebih tua, sedangkan Abu Jahal berada pada generasi setelahnya, tanpa memastikan angka tahun kelahiran mereka.
Yang jauh lebih penting daripada angka usia adalah kenyataan bahwa keduanya mendapatkan kesempatan mendengar dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, keduanya memilih menentangnya.
Nabi Muhammad berada di tengah keluarga besar Quraisy yang mengenalnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan orang asing bagi masyarakat Quraisy.
Beliau lahir, tumbuh, dan hidup bersama mereka. Sebelum kenabian, mereka mengenal beliau sebagai seorang yang jujur dan dapat dipercaya.
Al-Walid bin Al-Mughirah merupakan salah seorang tokoh senior Quraisy ketika dakwah Islam muncul. Abu Jahal juga termasuk pemimpin Quraisy yang memiliki kedudukan kuat.
Artinya, penolakan mereka bukan karena tidak pernah mendengar siapa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mereka mengenal pribadi beliau.
Mereka mendengar Al-Qur’an.
Mereka menyaksikan dakwah beliau.
Namun, mengenal kebenaran belum tentu membuat seseorang tunduk kepada kebenaran.
Di sinilah letak pelajaran besar mengenai hidayah.
Al-Walid bin Al-Mughirah mendengar Al-Qur’an, tetapi tidak beriman
Al-Walid bin Al-Mughirah termasuk orang yang mendengar bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah mengabadikan gambaran sikap seorang penentang yang memikirkan cara untuk memberikan label terhadap Al-Qur’an,
إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ثُمَّ نَظَرَ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ
“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Lalu dia bermuka masam dan merengut. Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’” (QS. Al-Muddatstsir: 18–25)
Allah kemudian memberikan ancaman,
سَأُصْلِيهِ سَقَرَ
“Kelak Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 26)
Dalam kitab-kitab tafsir, ayat-ayat ini masyhur dikaitkan dengan Al-Walid bin Al-Mughirah.
Ia mendengar Al-Qur’an, memikirkan apa yang didengarnya, tetapi kemudian memilih kesombongan dan penolakan.
Keponakannya, Abu Jahal, juga memilih jalan permusuhan
Abu Jahal bernama ‘Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Sebelum Islam ia berkunyah Abu Al-Hakam, tetapi dalam sejarah Islam ia lebih dikenal sebagai Abu Jahal.
Ia bukan sekadar orang yang tidak mau masuk Islam.
Permusuhannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat keras.
Menariknya, Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal bukan dua tokoh yang tidak memiliki hubungan.
Al-Walid adalah pamannya.
Keduanya sama-sama berasal dari Bani Makhzum.
Keduanya sama-sama memiliki kedudukan di tengah Quraisy.
Keduanya sama-sama berhadapan dengan dakwah seorang nabi yang mereka kenal, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, keduanya tidak mendapat hidayah.
Abu Jahal tahu apa yang dibawa Nabi, tetapi kesombongan menghalanginya
Dalam riwayat sirah disebutkan bahwa Abu Jahal bersama beberapa pemuka Quraisy pernah mendengarkan bacaan Al-Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sembunyi-sembunyi.
Ketika ditanya mengenai apa yang didengarnya, Abu Jahal mengungkapkan persoalan persaingan kemuliaan antara kaumnya dan Bani ‘Abdi Manaf.
Ia berkata,
تَنَازَعْنَا نَحْنُ وَبَنُو عَبْدِ مَنَافٍ الشَّرَفَ، أَطْعَمُوا فَأَطْعَمْنَا، وَحَمَلُوا فَحَمَلْنَا، وَأَعْطَوْا فَأَعْطَيْنَا، حَتَّى إِذَا تَجَاثَيْنَا عَلَى الرُّكَبِ، وَكُنَّا كَفَرَسَيْ رِهَانٍ، قَالُوا: مِنَّا نَبِيٌّ يَأْتِيهِ الْوَحْيُ مِنَ السَّمَاءِ، فَمَتَى نُدْرِكُ هَذِهِ؟ وَاللَّهِ لَا نُؤْمِنُ بِهِ أَبَدًا وَلَا نُصَدِّقُهُ.
“Kami dan Bani ‘Abdi Manaf bersaing dalam kemuliaan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka menanggung beban, kami pun menanggung beban. Mereka memberi, kami pun memberi. Sampai ketika kami telah sejajar seperti dua kuda pacuan, mereka berkata, ‘Dari kalangan kami ada seorang nabi yang menerima wahyu dari langit.’ Kapan kami dapat menyamai hal ini? Demi Allah, kami tidak akan beriman kepadanya selama-lamanya dan tidak akan membenarkannya.”
Ini termasuk berita sirah, sehingga tidak ditempatkan setingkat dengan hadis sahih dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Namun, berita tersebut menggambarkan satu penyakit hati yang berbahaya: seseorang bisa mengetahui kebenaran, tetapi gengsi, fanatisme kelompok, persaingan, dan kesombongan membuatnya enggan tunduk.
Abu Jahal hendak menginjak leher Nabi ketika beliau shalat
Permusuhan Abu Jahal tidak berhenti pada perkataan.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Abu Jahal berkata,
هَلْ يُعَفِّرُ مُحَمَّدٌ وَجْهَهُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟
“Apakah Muhammad masih meletakkan wajahnya di tanah di tengah-tengah kalian?”
Maksudnya, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih shalat dan bersujud di hadapan mereka.
Mereka menjawab, “Ya.”
Abu Jahal berkata,
وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى، لَئِنْ رَأَيْتُهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ لَأَطَأَنَّ عَلَى رَقَبَتِهِ، أَوْ لَأُعَفِّرَنَّ وَجْهَهُ فِي التُّرَابِ.
“Demi Latta dan ‘Uzza, jika aku melihatnya melakukan hal itu, sungguh aku akan menginjak lehernya atau membenamkan wajahnya ke tanah.”
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat, Abu Jahal benar-benar mendekat untuk menjalankan ancamannya. Namun, ia tiba-tiba mundur sambil melindungi dirinya dengan kedua tangannya.
Ketika ditanya, ia menyebut bahwa antara dirinya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat parit api, sesuatu yang menakutkan, dan sayap-sayap.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ دَنَا مِنِّي لَاخْتَطَفَتْهُ الْمَلَائِكَةُ عُضْوًا عُضْوًا.
“Seandainya ia mendekat kepadaku, sungguh para malaikat akan menyambarnya anggota demi anggota.” (HR. Muslim, no. 2797)
Kisah tersebut berkaitan dengan firman Allah,
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ
“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat?” (QS. Al-‘Alaq: 9–10)
Kemudian Allah berfirman,
كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ
“Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti, niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka.” (QS. Al-‘Alaq: 15–16)
Allah menutup surah itu dengan firman-Nya,
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
“Sekali-kali jangan! Janganlah engkau patuh kepadanya. Bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah.” (QS. Al-‘Alaq: 19)
Abu Jahal ingin menghentikan sujud Nabi.
Allah justru memerintahkan Nabi-Nya terus bersujud dan semakin mendekat kepada-Nya.
Nabi dihina ketika sedang bersujud
‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu juga menceritakan salah satu gangguan berat kaum Quraisy.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersujud di dekat Ka‘bah, ‘Uqbah bin Abi Mu‘aith membawa isi perut unta lalu meletakkannya di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Para pembesar Quraisy menertawakan beliau.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersujud sampai Fathimah radhiyallahu ‘anha datang dan membersihkannya.
Setelah selesai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebinasaan sejumlah pemuka Quraisy, termasuk Abu Jahal.
Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu kemudian menyaksikan mereka terbunuh di Perang Badar. (HR. Bukhari, no. 3854; Muslim, no. 1794)
Ini menunjukkan betapa berat gangguan yang diterima Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang-orang yang sebenarnya telah lama mengenal beliau.
Permusuhan Abu Jahal berlanjut hingga Perang Badar.
Ketika kafilah Abu Sufyan sudah berhasil selamat, sebenarnya alasan utama pasukan Quraisy untuk terus maju telah hilang.
Namun, Abu Jahal bersikeras melanjutkan perjalanan menuju Badar.
Dalam riwayat sirah Ibn Ishaq disebutkan bahwa Abu Jahal berkata,
وَاللَّهِ لَا نَرْجِعُ حَتَّى نَرِدَ بَدْرًا، فَنُقِيمَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَنَنْحَرَ الْجُزُرَ، وَنُطْعِمَ الطَّعَامَ، وَنَسْقِيَ الْخَمْرَ، وَتَعْزِفَ عَلَيْنَا الْقِيَانُ، وَتَسْمَعَ بِنَا الْعَرَبُ وَبِمَسِيرِنَا وَجَمْعِنَا، فَلَا يَزَالُونَ يَهَابُونَنَا أَبَدًا.
“Demi Allah, kita tidak akan kembali hingga sampai di Badar. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari, menyembelih unta, menyediakan makanan, minum khamar, dan para penyanyi akan memainkan musik untuk kita. Orang-orang Arab akan mendengar perjalanan dan kekuatan pasukan kita sehingga mereka akan terus takut kepada kita selama-lamanya.”
Yang mendorongnya bukan sekadar kepentingan militer.
Ada gengsi, kebanggaan kelompok, dan keinginan mempertontonkan kekuatan.
Namun, justru di Badarlah kebesaran yang dibanggakannya berakhir.
Dua pemuda Anshar menyerang Abu Jahal
Dalam Perang Badar, dua pemuda Anshar sangat ingin menemukan Abu Jahal karena mereka mendengar bagaimana ia mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa salah seorang dari keduanya berkata,
يَا عَمِّ، أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ.
“Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal.”
Ketika ‘Abdurrahman menunjukkan Abu Jahal, kedua pemuda itu segera menyerangnya hingga ia mengalami luka sangat parah.
Mereka adalah dua putra ‘Afra’ radhiyallahu ‘anhuma.
Ibnu Mas‘ud menemukan Abu Jahal dalam keadaan sekarat
Setelah peperangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,
مَنْ يَنْظُرُ مَا صَنَعَ أَبُو جَهْلٍ؟
“Siapakah yang mau melihat apa yang terjadi pada Abu Jahal?”
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,
مَنْ يَنْظُرُ مَا صَنَعَ أَبُو جَهْلٍ؟ فَانْطَلَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوَجَدَهُ قَدْ ضَرَبَهُ ابْنَا عَفْرَاءَ حَتَّى بَرَدَ، قَالَ: أَأَنْتَ أَبُو جَهْلٍ؟ قَالَ: فَأَخَذَ بِلِحْيَتِهِ، قَالَ: وَهَلْ فَوْقَ رَجُلٍ قَتَلْتُمُوهُ، أَوْ رَجُلٍ قَتَلَهُ قَوْمُهُ؟
“Ibnu Mas‘ud pun pergi mencarinya. Ia mendapati Abu Jahal telah dihantam oleh dua putra ‘Afra’ hingga sangat lemah dan mendekati kematian. Ibnu Mas‘ud berkata, ‘Apakah engkau Abu Jahal?’ Lalu ia memegang janggutnya. Abu Jahal berkata, ‘Adakah sesuatu yang lebih dari seorang laki-laki yang kalian bunuh, atau seorang laki-laki yang dibunuh oleh kaumnya?’” (HR. Bukhari, no. 3962; Muslim, no. 1800)
Begitulah akhir Abu Jahal.
Ia hidup bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengetahui dakwah beliau, lalu menghabiskan hidupnya untuk menentang beliau sampai akhirnya terbunuh di Badar.
Cerita lengkapnya, ada dalam riwayat berikut dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata,
إِنِّي لَفِي الصَّفِّ يَوْمَ بَدْرٍ، إِذِ الْتَفَتُّ فَإِذَا عَنْ يَمِينِي وَعَنْ يَسَارِي فَتَيَانِ حَدِيثَا السِّنِّ، فَكَأَنِّي لَمْ آمَنْ بِمَكَانِهِمَا، إِذْ قَالَ لِي أَحَدُهُمَا سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ: يَا عَمِّ، أَرِنِي أَبَا جَهْلٍ، فَقُلْتُ: يَا ابْنَ أَخِي، وَمَا تَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: عَاهَدْتُ اللَّهَ إِنْ رَأَيْتُهُ أَنْ أَقْتُلَهُ أَوْ أَمُوتَ دُونَهُ. فَقَالَ لِي الْآخَرُ سِرًّا مِنْ صَاحِبِهِ مِثْلَهُ. قَالَ: فَمَا سَرَّنِي أَنِّي بَيْنَ رَجُلَيْنِ مَكَانَهُمَا، فَأَشَرْتُ لَهُمَا إِلَيْهِ، فَشَدَّا عَلَيْهِ مِثْلَ الصَّقْرَيْنِ حَتَّى ضَرَبَاهُ، وَهُمَا ابْنَا عَفْرَاءَ.
“Pada Perang Badar, aku berada di dalam barisan pasukan. Ketika aku menoleh, ternyata di sebelah kanan dan kiriku ada dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku pun merasa kurang tenang karena berada di antara keduanya.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata kepadaku secara diam-diam agar tidak didengar temannya, ‘Wahai paman, tunjukkan kepadaku Abu Jahal.’
Aku bertanya, ‘Wahai anak saudaraku, apa yang hendak engkau lakukan terhadapnya?’
Ia menjawab, ‘Aku telah berjanji kepada Allah, jika aku melihatnya, aku akan membunuhnya atau aku mati dalam usaha melawannya.’
Kemudian pemuda yang satunya lagi juga mengatakan kepadaku secara diam-diam hal yang sama.
‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku tidak akan merasa lebih senang seandainya berada di antara dua orang selain mereka.’
Kemudian aku menunjukkan Abu Jahal kepada keduanya. Keduanya pun segera menerjang Abu Jahal seperti dua ekor elang yang menyambar mangsanya, hingga keduanya berhasil menyerangnya. Kedua pemuda itu adalah dua putra ‘Afra’.”
(HR. Bukhari, no. 3988; Muslim, no. 1752; Ahmad, no. 1673; dan Ath-Thahawi dalam Syarh Ma‘ani Al-Atsar, no. 5196 dengan redaksi semakna).
Dua tokoh Bani Makhzum menolak Islam, dua anak mereka mendapat hidayah
Di sinilah hubungan antara Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahal, Khalid, dan Ikrimah menjadi sangat menarik.
Al-Walid bin Al-Mughirah menolak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, putranya, Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu, kemudian masuk Islam.
Abu Jahal juga menjadi salah seorang musuh terbesar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, putranya, Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhu, akhirnya juga mendapat hidayah.
Dalam satu keluarga Bani Makhzum kita mendapati:
Al-Walid bin Al-Mughirah → menolak Islam
Khalid bin Al-Walid → mendapat hidayah
Abu Jahal → memusuhi Islam sampai mati
Ikrimah bin Abi Jahl → mendapat hidayah
Betapa jelas bahwa iman bukan perkara garis darah.
Ikrimah dahulu mengikuti jalan ayahnya
Pada mulanya, Ikrimah bin Abi Jahl memang mengikuti jalan ayahnya.
Ia termasuk orang Quraisy yang keras memusuhi kaum muslimin.
Ketika terjadi Fathu Makkah, Ikrimah melarikan diri menuju laut.
Dalam perjalanan, kapal yang ditumpanginya menghadapi bahaya. Orang-orang yang berada di atas kapal berkata,
أَخْلِصُوا، فَإِنَّ آلِهَتَكُمْ لَا تُغْنِي عَنْكُمْ شَيْئًا هَاهُنَا.
“Murnikanlah doa kalian kepada Allah karena sesembahan-sesembahan kalian tidak berguna sedikit pun bagi kalian di sini.”
Ucapan itu menyentuh hati Ikrimah.
Ia berkata,
وَاللَّهِ لَئِنْ لَمْ يُنَجِّنِي فِي الْبَحْرِ إِلَّا الْإِخْلَاصُ، لَا يُنَجِّينِي فِي الْبَرِّ غَيْرُهُ.
“Demi Allah, jika di laut tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain memurnikan ibadah kepada Allah, maka di daratan pun tidak ada yang dapat menyelamatkanku selain Dia.”
Allah menyelamatkannya.
Ikrimah kemudian kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuk Islam.
Ayahnya meninggal ketika memerangi Rasulullah.
Anaknya justru datang kepada Rasulullah untuk menerima Islam.
Khalid pun tidak mengikuti akhir kehidupan ayahnya
Hal yang serupa terjadi pada Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu.
Ayahnya, Al-Walid bin Al-Mughirah, termasuk tokoh Quraisy yang menolak Nabi.
Namun, Khalid kemudian memperoleh hidayah.
Ia hijrah setelah Hudaibiyah bersama ‘Amr bin Al-‘Ash dan ‘Utsman bin Thalhah. Setelah masuk Islam, Khalid menjadi salah seorang sahabat yang memiliki peran besar dalam perjuangan kaum muslimin.
Maka dalam Bani Makhzum terjadi perubahan yang luar biasa.
Generasi sebelumnya berusaha menghalangi Islam.
Sebagian generasi setelahnya justru mengorbankan tenaga dan jiwa untuk Islam.
Orang tua dan anak bisa berbeda jalan
Inilah pelajaran besar bagi setiap orang tua.
Kita tidak boleh merasa bahwa kesalehan akan otomatis diwariskan hanya karena anak lahir dari keluarga baik.
Sebaliknya, kita juga tidak boleh berputus asa terhadap seorang anak hanya karena ia tumbuh dari lingkungan yang buruk.
Allah Ta‘ala berfirman,
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”(QS. Al-Qashash: 56)
Lihatlah keluarga Bani Makhzum.
Al-Walid tidak beriman, tetapi Khalid beriman.
Abu Jahal mati dalam kekufuran, tetapi Ikrimah mendapatkan hidayah.
Maka, siapa pun tidak berhak memastikan masa depan iman seseorang hanya dengan melihat keluarganya hari ini.
Hidayah tidak diwariskan melalui nasab
Kisah ini juga memberikan pelajaran penting tentang pendidikan anak.
Orang tua dapat memberikan pendidikan.
Orang tua dapat menunjukkan jalan.
Orang tua dapat menjadi teladan.
Orang tua dapat mendoakan.
Namun, orang tua tidak memiliki hati anaknya.
Allah-lah yang membolak-balikkan hati.
Karena itu, tugas orang tua adalah berusaha semaksimal mungkin dalam mendidik anak di atas iman, sambil menyadari bahwa hasil akhirnya membutuhkan taufik dari Allah.
Nasab dapat diwariskan. Harta dapat diwariskan. Kedudukan dapat diwariskan. Nama besar keluarga dapat diwariskan. Namun, iman tidak otomatis diwariskan. Hidayah adalah karunia Allah.
Pelajaran dari Al-Walid, Abu Jahal, Khalid, dan Ikrimah
- Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Jahal berasal dari keluarga dekat Bani Makhzum; Al-Walid adalah paman Abu Jahal.
- Keduanya mengenal masyarakat dan pribadi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi menolak dakwah beliau.
- Mendengar Al-Qur’an belum tentu memberi manfaat jika hati dikuasai kesombongan.
- Gengsi, fanatisme kelompok, dan perebutan kedudukan dapat menjadi penghalang hidayah.
- Seorang anak tidak harus mengulangi kesalahan orang tuanya.
- Khalid bin Al-Walid mendapat hidayah meskipun ayahnya menolak Islam.
- Ikrimah mendapat hidayah meskipun ayahnya adalah Abu Jahal.
- Jangan memvonis masa depan seseorang hanya dari latar belakang keluarganya.
- Orang tua wajib mendidik dan mendoakan, tetapi hidayah berada di tangan Allah.
- Selama seseorang masih hidup, pintu hidayah belum tertutup.
Referensi
- Al-Bukhari, M. ibn I. (n.d.). Sahih al-Bukhari (Hadis no. 3854, 3962).
- Ibn Hisham, ‘A. al-M. (n.d.). Al-Sirah al-Nabawiyyah. Islamweb.
- Islamweb. (n.d.). Siyar al-salaf al-salihin: Khalid ibn al-Walid al-Makhzumi.
- Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Sahih Muslim (Hadis no. 1794, 1800, 2797).
- Al-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-Hadithiyyah: Man yanzhuru ma shana‘a Abu Jahl?
- Al-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-Hadithiyyah: Ancaman Abu Jahal terhadap Rasulullah ketika shalat.
—–
Malam Ahad, 24 Rabiul Awal 1448 H, 5 September 2027 @ Salatiga, Jawa Tengah
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com

Sumber: Rumaysho.com