Ibadah Apa yang Paling Utama? Ini Jawaban Ibnul Qayyim

Banyak orang bertanya, ibadah apa yang paling utama di sisi Allah? Apakah shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, sedekah, menuntut ilmu, membantu orang lain, ataukah berzikir? Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan jawaban yang sangat mendalam: ibadah terbaik tidak selalu sama, tetapi mengikuti apa yang paling Allah kehendaki dari kita pada waktu tersebut.
Baca juga: Kaedah Penting: Ibadah Paling Afdal itu Dilihat dari Waktu dan Tugas
Manakah Amalan yang Paling Utama?
Di antara penjelasan paling lengkap tentang amal yang paling utama adalah perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Dalam kitab Madārij as-Sālikīn, beliau menyebutkan perbedaan pendapat para ulama tentang ibadah yang paling utama, menjelaskan alasan dari masing-masing pendapat, kemudian menerangkan pendapat yang lebih kuat dengan penjelasan yang sesuai dengan pentingnya masalah ini.
Secara ringkas beliau menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar mewujudkan makna firman Allah, “Hanya kepada-Mu kami beribadah,” memiliki empat pandangan tentang ibadah manakah yang paling utama, paling bermanfaat, dan paling layak untuk didahulukan. Karena itu, mereka terbagi menjadi empat kelompok.
ـ الصِّنْفُ الْأَوَّلُ: عِنْدَهُمْ أَنَّ أَنْفَعَ الْعِبَادَاتِ وَأَفْضَلَهَا أَشَقُّهَا عَلَى النُّفُوسِ وَأَصْعَبُهَا.
Kelompok pertama: Mereka berpendapat bahwa ibadah yang paling bermanfaat dan paling utama adalah ibadah yang paling berat dan paling sulit bagi jiwa.
Artinya, menurut kelompok ini, semakin berat suatu ibadah untuk dilakukan oleh seseorang, semakin besar pula keutamaannya.
Baca juga: Kaedah Fikih: Semakin Sulit dan Banyak, Semakin Besar Pahala
ـ الصِّنْفُ الثَّانِي: قَالُوا: أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ التَّجَرُّدُ وَالزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا.
Kelompok kedua: Mereka mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah melepaskan ketergantungan hati dari dunia dan menjalani kehidupan dengan zuhud.
Maksudnya, mereka memandang bahwa menjauhkan hati dari kecintaan berlebihan kepada dunia dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat merupakan bentuk ibadah yang paling utama.
ـ الصِّنْفُ الثَّالِثُ: رَأَوْا أَنَّ أَنْفَعَ الْعِبَادَاتِ وَأَفْضَلَهَا مَا كَانَ فِيهِ نَفْعٌ مُتَعَدٍّ، فَرَأَوْهُ أَفْضَلَ مِنْ ذِي النَّفْعِ الْقَاصِرِ، فَرَأَوْا خِدْمَةَ الْفُقَرَاءِ، وَالِاشْتِغَالَ بِمَصَالِحِ النَّاسِ، وَقَضَاءَ حَوَائِجِهِمْ، وَمُسَاعَدَتَهُمْ بِالْمَالِ وَالْجَاهِ وَالنَّفْعِ أَفْضَلَ.
Kelompok ketiga: Mereka berpendapat bahwa ibadah yang paling bermanfaat dan paling utama adalah ibadah yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain. Mereka menilai amal seperti ini lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya hanya kembali kepada pelakunya sendiri.
Karena itu, mereka memandang bahwa melayani orang miskin, membantu kemaslahatan masyarakat, memenuhi kebutuhan orang lain, serta menolong mereka dengan harta, kedudukan, tenaga, dan berbagai bentuk manfaat lainnya adalah amal yang lebih utama.
Baca juga: Amalan Qaashir dan Muta’addi
Yang Paling Tepat: Ibadah Terbaik Melihat pada Tuntutan dan Tugas
ـ الصِّنْفُ الرَّابِعُ: قَالُوا: إِنَّ أَفْضَلَ الْعِبَادَةِ الْعَمَلُ عَلَى مَرْضَاةِ الرَّبِّ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِمَا هُوَ مُقْتَضَى ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتُهُ.
Kelompok keempat: Mereka mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah melakukan amal yang mendatangkan keridaan Allah pada setiap waktu, yaitu dengan mengerjakan apa yang menjadi tuntutan dan tugas pada waktu tersebut.
1. Saatnya Berjihad, Ibadahnya adalah Jihad
فَأَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ فِي وَقْتِ الْجِهَادِ الْجِهَادُ، وَإِنْ آلَ إِلَى تَرْكِ الْأَوْرَادِ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ، بَلْ وَمِنْ تَرْكِ إِتْمَامِ صَلَاةِ الْفَرْضِ كَمَا فِي حَالَةِ الْأَمْنِ.
Ibadah yang paling utama ketika tiba waktu jihad adalah berjihad, meskipun hal itu menyebabkan seseorang meninggalkan wirid rutinnya, seperti shalat malam dan puasa sunnah pada siang hari. Bahkan, dalam keadaan tertentu, ia boleh tidak menyempurnakan tata cara shalat wajib sebagaimana ketika kondisi aman.
Maksudnya, bentuk ibadah yang utama dapat berubah sesuai keadaan. Ketika ada tuntutan syariat yang lebih besar, amal sunnah yang biasa dilakukan dapat ditinggalkan.
2. Saat Tamu Datang, Melayani Tamu, Juga Saat Bersama Pasangan dan Keluarga
وَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ حُضُورِ الضَّيْفِ مَثَلًا الْقِيَامُ بِحَقِّهِ، وَالِاشْتِغَالُ بِهِ عَنِ الْوِرْدِ الْمُسْتَحَبِّ، وَكَذَلِكَ فِي أَدَاءِ حَقِّ الزَّوْجَةِ وَالْأَهْلِ.
Ketika tamu datang, misalnya, yang lebih utama adalah menunaikan hak tamu dan menyibukkan diri untuk melayaninya daripada meneruskan wirid sunnah. Demikian pula ketika tiba waktunya menunaikan hak istri dan keluarga.
Jadi, melayani keluarga pada saat mereka membutuhkan bukan berarti meninggalkan ibadah. Justru pada keadaan tertentu, itulah ibadah yang lebih Allah kehendaki.
Baca juga: Hadits Arbain #15: Berkata yang Baik, Memuliakan Tamu dan Tetangga
3. Saat Waktu Sahur, Ibadahnya adalah Shalat, Tilawah Quran, Berdoa, Dzikir
وَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ السَّحَرِ الِاشْتِغَالُ بِالصَّلَاةِ وَالْقُرْآنِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالِاسْتِغْفَارِ.
Adapun pada waktu sahur, yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, dan beristigfar.
4. Saat Ada yang Membutuhkan Ilmu, Mengajar dan Memberikan Perhatian
وَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ اسْتِرْشَادِ الطَّالِبِ وَتَعْلِيمِ الْجَاهِلِ الْإِقْبَالُ عَلَى تَعْلِيمِهِ وَالِاشْتِغَالُ بِهِ.
Ketika seorang penuntut ilmu membutuhkan bimbingan atau orang yang belum tahu perlu diajari, yang lebih utama adalah menghadap kepadanya, mengajarinya, dan memberikan perhatian kepadanya.
Baca juga: Keutamaan Mengajarkan Ilmu
5. Saat Azan Berkumandang, Menjawab Azan
وَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ الْأَذَانِ تَرْكُ مَا هُوَ فِيهِ مِنْ وِرْدِهِ، وَالِاشْتِغَالُ بِإِجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ.
Ketika azan berkumandang, yang lebih utama adalah meninggalkan sementara wirid yang sedang dikerjakan lalu menyibukkan diri dengan menjawab azan muazin.
Baca juga: Menjawab Azan dan Keutamaannya
6. Saat Waktu Shalat Lima Waktu Tiba, Segera Melaksanakannya dan Berjamaah
وَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْجِدُّ وَالنُّصْحُ فِي إِيقَاعِهَا عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ، وَالْمُبَادَرَةُ إِلَيْهَا فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ، وَالْخُرُوجُ إِلَى الْجَامِعِ، وَإِنْ بَعُدَ كَانَ أَفْضَلَ.
Ketika tiba waktu shalat lima waktu, yang lebih utama adalah bersungguh-sungguh menunaikannya dengan sebaik dan sesempurna mungkin, bersegera melaksanakannya pada awal waktu, serta berangkat menuju masjid untuk berjamaah. Bahkan, jika masjid itu cukup jauh, pergi ke sana bisa lebih utama.
Baca juga: Uzur Tidak Menghadiri Shalat Berjamaah di Masjid
7. Saat Ada yang Membutuhkan Pertolongan, Menyibukkan Diri untuk Membantu
وَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ ضَرُورَةِ الْمُحْتَاجِ إِلَى الْمُسَاعَدَةِ بِالْجَاهِ أَوِ الْبَدَنِ أَوِ الْمَالِ الِاشْتِغَالُ بِمُسَاعَدَتِهِ وَإِغَاثَةِ لَهْفَتِهِ، وَإِيثَارُ ذَلِكَ عَلَى أَوْرَادِكَ وَخَلْوَتِكَ.
Ketika ada orang yang sangat membutuhkan pertolongan melalui kedudukan, tenaga, atau harta kita, yang lebih utama adalah menyibukkan diri untuk membantunya dan meringankan kesulitannya. Amal ini didahulukan daripada wirid sunnah dan kegiatan menyendiri untuk beribadah.
8. Saat Membaca Al-Quran, Berusaha Menghadirkan Hati dan Tadabur
وَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ جَمْعِيَّةُ الْقَلْبِ وَالْهِمَّةِ عَلَى تَدَبُّرِهِ وَتَفَهُّمِهِ، حَتَّى كَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَاطِبُكَ بِهِ.
Ketika membaca Al-Qur’an, yang paling utama adalah menghadirkan hati dan memusatkan seluruh perhatian untuk mentadaburi serta memahami kandungannya, seakan-akan Allah Ta‘ala sedang berbicara langsung kepadamu melalui ayat-ayat itu.
Baca juga: Mana yang Lebih Utama: Shalat, Membaca Al-Qur’an, Dzikir, atau Doa?
9. Saat Wukuf di Arafah, Fokus Berdoa dan Dzikir
وَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ الِاجْتِهَادُ فِي التَّضَرُّعِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ، دُونَ الصَّوْمِ الْمُضْعِفِ عَنْ ذَلِكَ.
Ketika sedang wukuf di Arafah, yang lebih utama adalah bersungguh-sungguh merendahkan diri kepada Allah, memperbanyak doa dan zikir. Karena itu, bagi orang yang sedang berhaji, tidak berpuasa lebih utama jika puasa membuatnya lemah sehingga tidak maksimal dalam berdoa dan berzikir.
10. Saat Sepuluh Awal Dzulhijjah, Perbanyak Ibadah daripada Jihad
وَالْأَفْضَلُ فِي أَيَّامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ الْإِكْثَارُ مِنَ التَّعَبُّدِ، لَا سِيَّمَا التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّحْمِيدَ، فَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ الْجِهَادِ غَيْرِ الْمُتَعَيِّنِ.
Pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang lebih utama adalah memperbanyak ibadah, terutama takbir, tahlil, dan tahmid. Amal-amal tersebut lebih utama daripada jihad yang tidak menjadi kewajiban individual.
11. Saat Sepuluh Terakhir Ramadhan, Utamanya adalah Iktikaf daripada Menyibukkan Diri dengan Ilmu
وَالْأَفْضَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ لُزُومُ الْمَسْجِدِ فِيهِ، وَالْخَلْوَةُ وَالِاعْتِكَافُ، دُونَ التَّصَدِّي لِمُخَالَطَةِ النَّاسِ وَالِاشْتِغَالِ بِهِمْ، حَتَّى إِنَّهُ أَفْضَلُ مِنَ الْإِقْبَالِ عَلَى تَعْلِيمِهِمُ الْعِلْمَ وَإِقْرَائِهِمُ الْقُرْآنَ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ.
Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, yang lebih utama adalah menetap di masjid, mengurangi kesibukan dengan manusia, serta melakukan iktikaf. Bahkan, menurut banyak ulama, pada waktu tersebut iktikaf lebih utama daripada menyibukkan diri mengajarkan ilmu dan mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang lain.
12. Saat Saudara Sakit atau Meninggal Dunia, Utamanya adalah Menjenguknya atau Menghadiri Jenazahnya
وَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ مَرَضِ أَخِيكَ الْمُسْلِمِ أَوْ مَوْتِهِ عِيَادَتُهُ، وَحُضُورُ جَنَازَتِهِ، وَتَشْيِيعُهُ، وَتَقْدِيمُ ذَلِكَ عَلَى خَلْوَتِكَ وَجَمْعِيَّتِكَ.
Ketika saudara Muslim kita sakit atau meninggal dunia, yang lebih utama adalah menjenguknya ketika sakit, menghadiri jenazahnya, dan mengantarkannya hingga pemakaman. Hal itu didahulukan daripada menyendiri untuk beribadah dan memusatkan diri pada amalan pribadi.
13. Saat Diganggu Manusia, Utamanya adalah Bersabar daripada Melarikan Diri dan Menjauh
وَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ نُزُولِ النَّوَازِلِ وَأَذِيَّةِ النَّاسِ لَكَ أَدَاءُ وَاجِبِ الصَّبْرِ مَعَ خِلْطَتِكَ بِهِمْ دُونَ الْهَرَبِ مِنْهُمْ، فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ لِيَصْبِرَ عَلَى أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُهُمْ وَلَا يُؤْذُونَهُ.
Ketika terjadi berbagai cobaan dan kita mendapatkan gangguan dari manusia, yang lebih utama adalah menunaikan kewajiban bersabar sambil tetap berinteraksi dengan mereka, bukan segera melarikan diri dan menjauh.
Sebab, seorang mukmin yang bergaul dengan manusia lalu bersabar menghadapi gangguan mereka lebih utama daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia sehingga ia tidak mendapatkan gangguan dari mereka.
Bergaul dengan Manusia itu Lebih Utama
وَالْأَفْضَلُ خِلْطَتُهُمْ فِي الْخَيْرِ، فَهِيَ خَيْرٌ مِنِ اعْتِزَالِهِمْ فِيهِ، وَاعْتِزَالُهُمْ فِي الشَّرِّ هُوَ أَفْضَلُ مِنْ خِلْطَتِهِمْ فِيهِ، فَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ إِذَا خَالَطَهُمْ أَزَالَهُ أَوْ قَلَّلَهُ فَخِلْطَتُهُمْ حِينَئِذٍ أَفْضَلُ مِنِ اعْتِزَالِهِمْ.
Bergaul bersama manusia dalam kebaikan lebih utama daripada menjauhi mereka ketika sedang melakukan kebaikan. Sebaliknya, menjauhi mereka ketika mereka berada dalam keburukan lebih utama daripada ikut bercampur bersama mereka dalam keburukan tersebut.
Namun, apabila seseorang mengetahui bahwa dengan berada di tengah mereka ia mampu menghilangkan atau setidaknya mengurangi keburukan itu, maka bergaul bersama mereka pada saat tersebut lebih utama daripada menjauh.
Kaidah Ibnul Qayyim: Amalan Dilihat dari Kewajiban, Tugas, dan Tuntutan
فَالْأَفْضَلُ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحَالٍ إِيثَارُ مَرْضَاةِ اللَّهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَالْحَالِ، وَالِاشْتِغَالُ بِوَاجِبِ ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتِهِ وَمُقْتَضَاهُ.
Maka, amal yang paling utama pada setiap waktu dan keadaan adalah mendahulukan keridaan Allah pada waktu dan keadaan tersebut, serta menyibukkan diri dengan kewajiban, tugas, dan tuntutan yang sesuai dengannya.
وَهَؤُلَاءِ هُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ، وَالْأَصْنَافُ قَبْلَهُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُقَيَّدِ.
Mereka inilah yang disebut sebagai orang-orang yang memiliki penghambaan yang menyeluruh (at-ta‘abbud al-muthlaq). Adapun kelompok-kelompok sebelumnya adalah orang-orang yang membatasi penghambaan pada bentuk tertentu.
فَمَتَى خَرَجَ أَحَدُهُمْ عَنِ النَّوْعِ الَّذِي تَعَلَّقَ بِهِ مِنَ الْعِبَادَةِ وَفَارَقَهُ، يَرَى نَفْسَهُ كَأَنَّهُ قَدْ نَقَصَ وَتَرَكَ عِبَادَتَهُ، فَهُوَ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى وَجْهٍ وَاحِدٍ.
Ketika orang yang penghambaan dirinya terikat pada satu bentuk ibadah tertentu harus meninggalkan ibadah tersebut, ia merasa seakan-akan ibadahnya telah berkurang atau bahkan seolah ia telah meninggalkan ibadah.
Hal itu karena ia terbiasa beribadah kepada Allah hanya melalui satu bentuk ibadah tertentu.
وَصَاحِبُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ لَيْسَ لَهُ غَرَضٌ فِي تَعَبُّدٍ بِعَيْنِهِ يُؤْثِرُهُ عَلَى غَيْرِهِ، بَلْ غَرَضُهُ تَتَبُّعُ مَرْضَاةِ اللَّهِ تَعَالَى أَيْنَ كَانَتْ.
Adapun orang yang memiliki penghambaan secara menyeluruh tidak terpaku pada satu jenis ibadah tertentu yang selalu ia dahulukan daripada yang lainnya.
Tujuannya adalah mencari keridaan Allah di mana pun keridaan itu berada.
فَمَدَارُ تَعَبُّدِهِ عَلَيْهَا، فَهُوَ لَا يَزَالُ مُتَنَقِّلًا فِي مَنَازِلِ الْعُبُودِيَّةِ، كُلَّمَا رُفِعَتْ لَهُ مَنْزِلَةٌ عَمِلَ عَلَى سَيْرِهِ إِلَيْهَا وَاشْتَغَلَ بِهَا حَتَّى تَلُوحَ لَهُ مَنْزِلَةٌ أُخْرَى.
Poros seluruh ibadahnya adalah mencari keridaan Allah. Karena itu, ia terus berpindah dari satu bentuk penghambaan menuju bentuk penghambaan yang lain.
Setiap kali muncul di hadapannya satu bentuk penghambaan yang harus ditunaikan, ia segera mengerjakannya dan menempuh jalan menuju amal tersebut. Ia terus melakukannya sampai muncul bentuk penghambaan lainnya yang lebih sesuai dengan keadaan saat itu.
فَهَذَا دَأْبُهُ فِي السَّيْرِ حَتَّى يَنْتَهِيَ سَيْرُهُ.
Demikianlah perjalanan hidupnya sebagai seorang hamba sampai perjalanan hidupnya berakhir.
فَإِنْ رَأَيْتَ الْعُلَمَاءَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْعُبَّادَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْمُجَاهِدِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الذَّاكِرِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْمُتَصَدِّقِينَ الْمُحْسِنِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ أَرْبَابَ الْجَمْعِيَّةِ وَعُكُوفِ الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ.
Jika engkau melihat para ulama, engkau akan menjumpainya bersama mereka.
Jika engkau melihat orang-orang yang tekun beribadah, engkau akan menjumpainya bersama mereka.
Jika engkau melihat para mujahid, engkau akan menjumpainya bersama mereka.
Jika engkau melihat orang-orang yang banyak berzikir, engkau akan menjumpainya bersama mereka.
Jika engkau melihat orang-orang yang gemar bersedekah dan berbuat baik, engkau pun akan menjumpainya bersama mereka.
Dan jika engkau melihat orang-orang yang memusatkan hati mereka kepada Allah, engkau pun akan mendapatinya bersama mereka.
فَهَذَا هُوَ الْعَبْدُ الْمُطْلَقُ، الَّذِي لَمْ تَمْلِكْهُ الرُّسُومُ، وَلَمْ تُقَيِّدْهُ الْقُيُودُ، وَلَمْ يَكُنْ عَمَلُهُ عَلَى مُرَادِ نَفْسِهِ، وَمَا فِيهِ لَذَّتُهَا وَرَاحَتُهَا مِنَ الْعِبَادَاتِ، بَلْ هُوَ عَلَى مُرَادِ رَبِّهِ، وَلَوْ كَانَتْ رَاحَةُ نَفْسِهِ وَلَذَّتُهَا فِي سِوَاهُ.
Inilah hamba yang memiliki penghambaan secara menyeluruh. Ia tidak dikuasai oleh pola dan kebiasaan ibadah tertentu, serta tidak terikat oleh bentuk-bentuk tertentu saja.
Ia tidak beramal mengikuti apa yang paling disukai oleh dirinya sendiri atau memilih ibadah yang paling memberikan kenyamanan dan kenikmatan bagi jiwanya.
Sebaliknya, ia beramal sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rabbnya, meskipun kenyamanan dan kesenangan dirinya sebenarnya terdapat pada amal yang lain.
فَهَذَا هُوَ الْمُتَحَقِّقُ بِـ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ حَقًّا، الْقَائِمُ بِهِمَا صِدْقًا.
Inilah orang yang benar-benar mewujudkan makna firman Allah,
﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
Ia mewujudkan kedua makna tersebut dengan sebenar-benarnya dan menjalankannya dengan penuh kejujuran.
لْبَسُهُ مَا تَهَيَّأَ، وَمَأْكَلُهُ مَا تَيَسَّرَ، وَاشْتِغَالُهُ بِمَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِوَقْتِهِ، وَمَجْلِسُهُ حَيْثُ انْتَهَى بِهِ الْمَكَانُ وَوَجَدَهُ خَالِيًا.
Pakaiannya adalah apa yang tersedia. Makanannya adalah apa yang mudah didapat. Kesibukannya adalah mengerjakan apa yang Allah perintahkan pada setiap waktu sesuai tuntutan waktunya.
Ia duduk di tempat mana pun yang tersedia baginya tanpa sibuk mencari kedudukan atau tempat khusus.
لَا تَمْلِكُهُ إِشَارَةٌ، وَلَا يَتَعَبَّدُهُ قَيْدٌ، وَلَا يَسْتَوْلِي عَلَيْهِ رَسْمٌ، حُرٌّ مُجَرَّدٌ، دَائِرٌ مَعَ الْأَمْرِ حَيْثُ دَارَ، يَدِينُ بِدِينِ الْآمِرِ أَنَّى تَوَجَّهَتْ رَكَائِبُهُ.
Ia tidak dikuasai oleh simbol-simbol tertentu, tidak diperbudak oleh ikatan kebiasaan tertentu, dan tidak dikuasai oleh ritual atau pola ibadah tertentu.
Ia bebas dari keinginan dirinya sendiri. Ia selalu mengikuti perintah Allah ke mana pun perintah itu mengarah.
Agamanya adalah menaati Sang Pemberi perintah, ke mana pun perjalanan penghambaan membawanya.
إِلَى آخِرِ كَلَامِهِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى. اهـ.
Demikian sebagian perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah hingga akhir penjelasan beliau.
Inti pelajaran
Dari penjelasan Ibnul Qayyim ini dapat dipahami bahwa ibadah terbaik tidak selalu berupa satu amal yang sama dalam setiap keadaan. Ibadah terbaik adalah amal yang paling Allah cintai dan paling dituntut pada waktu tersebut.
Karena itu, orang yang memahami penghambaan kepada Allah tidak hanya bertanya, “Amal apa yang paling banyak pahalanya?” Ia juga bertanya, “Apa yang Allah tuntut dariku saat ini?”
Ada waktunya shalat lebih didahulukan. Ada waktunya belajar atau mengajar. Ada waktunya melayani tamu. Ada waktunya membantu orang yang kesusahan. Ada waktunya mengurus pasangan dan keluarga. Ada pula waktu untuk berkhalwat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.
Dengan demikian, kesempurnaan penghambaan bukan hanya banyaknya amal, tetapi ketepatan memilih amal sesuai tuntutan syariat, waktu, dan keadaan.
Baca juga: Prioritas Muslimah: Ibadah kepada Allah, Lalu Suami
—-
Selesai ditulis di Masjid Mina Jakal Jogja (Majelis Taklim Saudah), 8 Sep 2026
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
Sumber: Rumaysho.com