Teman Baik dan Teman Buruk Menurut Ibnul Qayyim

Siapa yang paling sering bersama kita hari ini bisa ikut menentukan siapa diri kita di kemudian hari. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa maksiat dapat membuat seseorang menjauh dari orang-orang baik, lalu semakin dekat dengan lingkungan keburukan, bahkan hingga setan menjadi qarīn yang selalu menyertainya. Karena itu, memilih teman bukan sekadar memilih siapa yang nyaman diajak bersama, tetapi memilih ke arah mana hidup dan akhirat kita akan dibawa.
Pembahasan ini terutama dikembangkan dari poin “Maksiat Membuat Pelakunya Jauh dari Orang Baik” serta pembahasan tentang butanya hati dan qarīn dalam buku Dosa Itu Candu, yang merujuk pada Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’ karya Ibnul Qayyim.
Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang Baik
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu dampak maksiat:
الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَا سِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.
Artinya, “Ada rasa keterasingan yang muncul antara pelaku maksiat dengan manusia, terutama dengan orang-orang baik. Ia merasakan adanya jarak antara dirinya dengan mereka. Semakin kuat keterasingan tersebut, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari majelis mereka. Ia pun terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman. Keterasingan ini terus menguat hingga dapat terjadi antara dirinya dengan istrinya, anaknya, kerabatnya, bahkan antara dirinya dengan dirinya sendiri. Akhirnya, engkau melihatnya merasa asing terhadap dirinya sendiri.” (Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 85).
Perhatikan kalimat Ibnul Qayyim:
وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ
“Ia terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman.”
Ini menunjukkan bahwa dosa tidak berhenti pada rusaknya hubungan seorang hamba dengan Allah. Dosa dapat mengubah selera pergaulannya. Majelis orang baik mulai terasa berat, nasihat terasa mengganggu, sedangkan lingkungan yang dahulu ia hindari perlahan terasa nyaman.
Karena itu, bila seseorang mulai tidak betah bersama orang-orang saleh, jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka. Bisa jadi yang perlu diperiksa terlebih dahulu adalah keadaan hatinya sendiri.
Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain Aib
Dalam penjelasan lainnya, Ibnul Qayyim menyebut manusia yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Beliau berkata:
الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.
“Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka, yaitu orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah kebanyakan manusia. Melihat mereka menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati. Mereka membuat tempat terasa sempit dan harga-harga menjadi mahal. Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”
Kalimat terakhirnya patut direnungkan:
وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ
“Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”
Artinya, tidak setiap kebersamaan layak dipertahankan hanya karena sudah lama saling mengenal. Kita perlu menilai hasil dari sebuah pertemanan: apakah ia menambah ilmu, iman, akhlak, dan amal, atau justru membuat dosa semakin ringan dan rasa malu semakin hilang.
Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa Biasa
Pengaruh teman sering tidak datang dalam bentuk ajakan terang-terangan, “Mari bermaksiat.” Pengaruh itu bisa jauh lebih halus. Sesuatu yang dahulu dianggap buruk terus dilihat, didengar, dibicarakan, dan ditertawakan bersama sampai akhirnya terasa biasa.
Di sinilah bahayanya sebuah lingkungan. Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa sebagai dosa.
Seseorang mungkin pada awalnya merasa bersalah ketika meninggalkan shalat, membuka aurat, melihat yang haram, membicarakan aib orang lain, atau melakukan kemaksiatan lainnya. Namun ketika lingkungan menganggap semuanya biasa, sensitivitas hati perlahan berkurang.
Sebaliknya, duduk bersama orang yang menjaga agamanya membuat seseorang lebih sering mendengar nasihat, melihat teladan, dan merasa malu ketika hendak melanggar batas Allah. Pertemanan akhirnya menjadi salah satu benteng penjaga hati.
Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat Qarīn
Allah Ta‘ala berfirman,
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ
“Barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Hingga apabila ia datang kepada Kami, ia berkata, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman.’ Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,
فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ، قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.
“Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa yang berpaling dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah darinya, maka Allah menugaskan setan kepadanya sebagai hukuman atas sikap berpaling dari kitab-Nya. Setan itulah qarīn-nya yang tidak pernah berpisah, baik ketika menetap maupun dalam perjalanan. Ia menjadi pelindung dan teman dekatnya; sungguh ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk teman.”
Perhatikan urutannya. Seseorang berpaling dari petunjuk, lalu mendapat qarīn yang buruk. Qarīn tersebut kemudian semakin menghalanginya dari petunjuk, tetapi orang itu justru menyangka dirinya masih berada di jalan yang benar.
Ini jauh lebih menakutkan daripada sekadar melakukan kesalahan. Ia salah, tetapi tidak lagi merasa salah.
Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di Akhirat
Ibnul Qayyim melanjutkan,
ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: ﴿يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ﴾ كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.
“Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekat dan pengikutnya dari jalan yang mengantarkan kepada Allah dan menuju surga-Nya. Namun orang sesat yang dihalangi itu menyangka bahwa dirinya berada di jalan petunjuk. Hingga ketika kedua teman dekat itu datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Sungguh buruk engkau sebagai teman.’ Engkau dahulu menjadi temanku di dunia. Engkau menyesatkanku dari petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadaku, menghalangiku dari kebenaran, dan menyesatkanku hingga aku binasa. Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.”
Di dunia mungkin ia berkata, “Dia teman paling seru.” Namun di akhirat ia berkata, “Seandainya jarak antara aku dan engkau sejauh timur dan barat.”
Karena itu, ukuran teman bukan hanya seberapa banyak ia membuat kita tertawa, membantu urusan dunia, atau menemani saat kesepian. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah lama bersamanya, ke mana agama kita bergerak?
Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi Menghibur
Ada orang yang merasa ringan melakukan keburukan karena banyak orang melakukan hal yang sama. “Teman-teman saya juga begitu,” katanya. Kebersamaan itu seolah menjadi pembenaran.
Ibnul Qayyim menerangkan,
وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً.
“Orang yang tertimpa musibah, apabila ada orang lain yang mengalami musibah bersamanya, biasanya mendapatkan sedikit keringanan dan hiburan karena ada orang lain yang bernasib sama. Namun Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Seorang qarīn tidak memperoleh kenyamanan, bahkan tidak sedikit pun kegembiraan, karena qarīn-nya juga diazab bersamanya, meskipun musibah dunia apabila menimpa banyak orang biasanya menjadi penghibur.”
Kemudian Ibnul Qayyim berkata,
فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:
﴿وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾
“Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman, ‘Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.’” (QS. Az-Zukhruf: 39).
Betapa penting pelajaran ini. Banyaknya orang yang melakukan kesalahan tidak pernah mengubah kesalahan menjadi kebenaran. Dan banyaknya teman dalam sebuah maksiat tidak akan membuat akibat maksiat menjadi lebih ringan di akhirat.
Kaidah Penting dalam Memilih Teman
Dari penjelasan Ibnul Qayyim di atas, ada beberapa kaidah kehidupan yang layak terus diingat:
- Temanmu hari ini bisa menjadi arah hidupmu esok hari. Pertemanan tidak hanya mengisi waktu, tetapi perlahan membentuk selera, kebiasaan, cara berpikir, dan pilihan hidup.
- Teman yang baik bukan hanya membuatmu nyaman bersamanya, tetapi membuatmu nyaman dalam ketaatan. Ukur pertemanan dari pengaruhnya terhadap hubungan kita dengan Allah.
- Jika nasihat mulai terasa mengganggu dan lingkungan maksiat justru terasa nyaman, periksalah hatimu.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksiat dapat menimbulkan wahsyah terhadap ahlul-khair.
- Apa yang terus dilihat akan terasa biasa, dan siapa yang terus ditemani akan ikut membentuk diri. Karena itu, lingkungan dapat mengubah standar tentang apa yang dianggap baik dan buruk.
- Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa buruk. Ketika rasa bersalah menghilang, benteng hati mulai runtuh.
- Teman sejati bukan selalu yang membenarkan kita, tetapi yang membantu kita kembali kepada kebenaran.Nasihat yang tidak enak didengar terkadang jauh lebih berharga daripada pujian yang menjerumuskan.
- Jangan hanya menjauhi teman buruk; carilah lingkungan baik sebagai penggantinya. Kosongnya lingkungan baik mudah memberi ruang kepada lingkungan yang buruk.
- Jangan hanya bertanya siapa yang membuat kita tertawa, tetapi siapa yang menjaga kita agar tidak menangis di akhirat. Kenyamanan dunia bukan ukuran terakhir sebuah persahabatan.
- Sebelum mencari teman yang membawa kita kepada kebaikan, jadilah teman yang membawa orang lain kepada kebaikan. Tanyakan: setelah orang lain berteman dengan kita, apakah agamanya menjadi lebih baik?
- Pertemanan layak dipertahankan selama tidak mengorbankan agama. Tidak semua yang disebut loyalitas adalah kebaikan jika akhirnya membuat seseorang semakin jauh dari Allah.
Maka satu pertanyaan sederhana bisa menjadi alat evaluasi pertemanan: “Setelah sering bersamanya, saya semakin mudah taat atau semakin mudah bermaksiat?”
Jawabannya sering kali sudah cukup untuk menunjukkan apakah sebuah pertemanan perlu didekatkan, dibatasi, atau diperbaiki.
Jangan Salah Memilih Teman Perjalanan
Kita hidup pada masa ketika “teman” tidak lagi hanya orang yang duduk bersama secara fisik; apa yang terus kita ikuti, tonton, dengarkan, dan baca setiap hari juga dapat membentuk hati sebagaimana lingkungan pergaulan. Karena itu, jangan merasa aman hanya karena tidak mempunyai teman buruk di sekitar kita, sementara hati setiap hari ditemani konten yang membuat dosa terasa ringan. Teman yang baik akan membantu kita pulang kepada Allah ketika mulai jauh, sedangkan teman yang buruk bisa membuat kita merasa baik-baik saja ketika sebenarnya sedang tersesat. Jangan hanya mencari teman yang membuat kita tertawa di dunia; carilah teman yang tidak membuat kita menyesal di akhirat.
Semoga Allah memberi kita teman-teman yang menjadi sebab bertambahnya iman dan ketaatan. Kita dapat berdoa:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صُحْبَةَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ، وَأَعِذْنَا مِنْ قُرَنَاءِ السُّوءِ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.
Allāhummarzuqnā ṣuḥbataṣ-ṣāliḥīn, waj‘alnā minaṣ-ṣāliḥīn, wa a‘idznā min quranā’is-sū’, wahdinā subulas-salām.
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami persahabatan dengan orang-orang saleh, jadikanlah kami termasuk orang-orang saleh, lindungilah kami dari teman-teman yang buruk, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.”
—-
@ Soekarno Hatta, 17 September 2026
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
Sumber: Rumaysho.com