Abdullah bin Abi Umayyah: Penentang Islam yang Akhirnya Syahid

Ada orang yang bertahun-tahun menentang Islam, bahkan pernah menjadi sebab orang lain semakin jauh dari kalimat tauhid, tetapi Allah kemudian membalikkan hatinya. Itulah kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah radhiyallahu ‘anhu, seorang yang dahulu keras memusuhi Rasulullah ﷺ, lalu mendapatkan hidayah menjelang Fathu Makkah. Tidak lama setelah masuk Islam, ia membuktikan keimanannya hingga akhirnya gugur dalam Perang Thaif.
Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah?
Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin Makhzum Al-Makhzumi.
Ia merupakan saudara Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah ﷺ. Ibunya bernama ‘Atikah binti ‘Abdul Muththalib, salah seorang bibi Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, ‘Abdullah bin Abi Umayyah juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Nabi ﷺ.
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menyebut tentang dirinya,
وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ شَدِيدًا عَلَى الْمُسْلِمِينَ مُخَالِفًا مُبْغِضًا
“‘Abdullah bin Abi Umayyah dahulu bersikap sangat keras terhadap kaum muslimin, menentang, dan membenci mereka.”
Ia bukan sekadar belum menerima Islam. Pada masa awal dakwah, penentangannya terhadap Rasulullah ﷺ tergolong keras.
Pernah menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak beriman
Para ulama sirah menyebut bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah termasuk orang yang menuntut berbagai perkara luar biasa kepada Rasulullah ﷺ. Ia dikaitkan dengan ucapan yang disebutkan dalam Surah Al-Isra’,
وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا
“Mereka berkata, ‘Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami.’” (QS. Al-Isra’: 90)
Permintaan itu berlanjut dalam ayat berikutnya hingga permintaan agar Nabi ﷺ naik ke langit dan membawa kitab yang dapat mereka baca.
Adz-Dzahabi ketika membahas ‘Abdullah bin Abi Umayyah menyebut bahwa ia dahulu sangat keras terhadap kaum muslimin dan disebut sebagai orang yang mengucapkan tuntutan tersebut. Namun, kehidupannya ternyata tidak berakhir dalam keadaan seperti itu.
Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhid
Salah satu bagian paling terkenal dari kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah terjadi ketika Abu Thalib berada di penghujung hidupnya.
Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Thalib dan mengajaknya mengucapkan kalimat tauhid. Beliau bersabda,
يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illallah.’”
Namun, ketika itu Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berada di samping Abu Thalib. Keduanya berkata,
يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau hendak meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib?”
Rasulullah ﷺ terus menawarkan kalimat tauhid kepada pamannya, sementara keduanya terus mengulangi perkataan tersebut. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal tetap berada di atas agama ‘Abdul Muththalib dan tidak mengucapkan laa ilaaha illallah.
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Allah kemudian menurunkan,
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)
Menariknya, ayat ini bukan hanya mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada Abu Thalib. Kisah selanjutnya menunjukkan bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah yang ketika itu justru menghalangi Abu Thalib dari Islam, kelak malah mendapatkan hidayah dari Allah.
Hidayah datang menjelang Fathu Makkah
Bertahun-tahun berlalu.
Pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah ﷺ bersama para sahabat bergerak menuju Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah.
Ketika itulah terjadi perubahan besar pada kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah.
Ia bersama Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib menemui Rasulullah ﷺ di Tsaniyyatul ‘Uqab, suatu tempat antara Makkah dan Madinah. Keduanya meminta izin bertemu Nabi ﷺ.
Akan tetapi, Rasulullah ﷺ pada awalnya enggan menerima mereka. Sebab, keduanya memiliki sejarah panjang menyakiti beliau.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha lalu berbicara kepada Rasulullah ﷺ mengenai keduanya. Ia mengingatkan hubungan kekerabatan mereka dengan Nabi ﷺ.
Rasulullah ﷺ menjelaskan alasan keberatan beliau. Tentang ‘Abdullah bin Abi Umayyah, beliau mengingat perkataan keras yang dahulu pernah diucapkannya di Makkah.
Namun, akhirnya Rasulullah ﷺ melunakkan hati dan menerima keduanya. Mereka pun masuk Islam. Riwayat ini dibawakan secara panjang oleh Ibnu Ishaq dan dinukil pula oleh Al-Baihaqi serta IslamQA.
Karena itu, waktu masuk Islamnya ‘Abdullah bin Abi Umayyah dapat disebut dengan lebih tepat:
Ia masuk Islam pada tahun 8 H, sesaat sebelum Fathu Makkah, ketika Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan menuju Makkah.
Sebagian kitab menyebut secara ringkas bahwa ia “masuk Islam pada hari Fathu Makkah”, sedangkan sumber sirah yang lebih terperinci menerangkan bahwa ia telah menemui Nabi ﷺ dalam perjalanan sebelum beliau memasuki Makkah. Islamweb juga menyebut,
ثُمَّ أَسْلَمَ قَبْلَ فَتْحِ مَكَّةَ بِيَسِيرٍ، وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ
“Kemudian ia masuk Islam tidak lama sebelum Fathu Makkah, dan keislamannya menjadi baik.”
Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baik
Inilah bagian indah dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah.
Para ulama tidak hanya mencatat bahwa ia masuk Islam, tetapi mengatakan,
وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ
“Dan keislamannya menjadi baik.”
Setelah bertahun-tahun menjadi penentang Rasulullah ﷺ, ia tidak menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk berada di pinggir perjuangan. Ia justru hadir bersama Rasulullah ﷺ dalam peristiwa-peristiwa besar setelah keislamannya.
Ia mengikuti Fathu Makkah, Perang Hunain, dan pengepungan Thaif.
Inilah bukti bahwa taubat yang jujur bukan hanya meninggalkan masa lalu, tetapi juga memperbaiki masa depan.
Dari penghalang hidayah menjadi pejuang Islam
Perubahan ‘Abdullah bin Abi Umayyah benar-benar besar.
Dahulu, ketika Abu Thalib hampir mengucapkan kalimat tauhid, ia berada di sisi Abu Jahal dan terus mengingatkan Abu Thalib kepada agama ‘Abdul Muththalib.
Namun, beberapa tahun kemudian, orang yang sama berjalan bersama Rasulullah ﷺ sebagai seorang muslim.
Dahulu ia menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak beriman.
Kemudian ia sendiri datang mencari Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keimanannya.
Dahulu ia termasuk orang yang keras terhadap kaum muslimin.
Kemudian ia berperang bersama kaum muslimin.
Hati manusia benar-benar berada di tangan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati. Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)
Karena itulah kita tidak boleh terlalu cepat berputus asa terhadap seseorang hanya karena hari ini ia masih jauh dari kebaikan.
Baru masuk Islam, kemudian gugur di Thaif
Setelah Fathu Makkah dan Perang Hunain, Rasulullah ﷺ bergerak menuju Thaif.
‘Abdullah bin Abi Umayyah ikut bersama beliau.
Dalam pengepungan Thaif, ia terkena lemparan anak panah. Luka tersebut menyebabkan kematiannya. Ibnu Hisyam memasukkan namanya di antara para sahabat Rasulullah ﷺ yang gugur pada peristiwa Thaif.
Ibnu Hajar rahimahullah menyebut,
وَاسْتُشْهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بِالطَّائِفِ، أَصَابَهُ سَهْمٌ فَقَتَلَهُ
“‘Abdullah gugur sebagai syahid di Thaif. Ia terkena anak panah yang menyebabkan kematiannya.”
Betapa cepat perubahan itu terjadi.
Pada awal tahun 8 H, ia masih memiliki masa lalu panjang dalam permusuhan terhadap Islam. Menjelang Fathu Makkah, Allah membuka hatinya. Kemudian ia menyaksikan Fathu Makkah, ikut dalam Hunain, dan tidak lama setelah itu gugur di Thaif.
Yang menentukan bukan bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi bagaimana Allah memberinya taufik untuk menutup kehidupannya.
Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah
Pertama, hidayah benar-benar milik Allah. Orang yang dahulu sangat keras memusuhi Islam dapat berubah menjadi pembela Islam.
Kedua, jangan berputus asa dari hidayah seseorang. Jika melihat keluarga, sahabat, atau orang yang kita kenal masih jauh dari agama, teruslah mendoakan dan mendakwahinya dengan cara yang baik.
Ketiga, masa lalu yang buruk tidak menghalangi seseorang untuk memiliki akhir kehidupan yang baik. Ketika seseorang benar-benar bertaubat, pintu kebaikan tetap terbuka baginya.
Keempat, taubat sejati perlu dibuktikan dengan amal. ‘Abdullah bin Abi Umayyah tidak sekadar mengucapkan syahadat. Ia hadir bersama Rasulullah ﷺ di medan perjuangan.
Kelima, jangan merasa aman dengan keadaan iman kita saat ini. Orang yang hari ini terlihat baik tetap membutuhkan taufik Allah sampai akhir hayat, sedangkan orang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja Allah bukakan hatinya esok hari.
Jangan pernah memvonis akhir seseorang
Kita sering menilai manusia hanya dari satu potongan perjalanan hidupnya. Ada orang yang kita kenal dengan masa lalunya, lalu kita merasa mustahil ia akan berubah. Kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah mengajarkan bahwa selama seseorang masih hidup, pintu hidayah dan taubat belum tertutup. Karena itu, teruslah meminta keteguhan untuk diri sendiri dan jangan berhenti berharap kebaikan untuk orang lain.
Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah ﷺ adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.
“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Semoga Allah memberikan kepada kita hidayah, menjaga hati kita tetap istiqamah, memberikan hidayah kepada orang-orang yang kita cintai, dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.
Aamiin.
Referensi
- Al-Baihaqi. Dalā’il An-Nubuwwah, bab masuk Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits.
- Ibnu ‘Abdil Barr. Al-Istī‘āb fī Ma‘rifat Al-Ashāb, biografi ‘Abdullah bin Abi Umayyah.
- Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Fath Al-Bārī, Kitab Al-Maghazi, bab Perang Thaif.
- Ibnu Hisyam. As-Sīrah An-Nabawiyyah, para syuhada kaum muslimin pada Perang Thaif.
- IslamQA. (2020). Syarh hadits: “Adapun anak pamanku telah merusak kehormatanku, sedangkan anak bibiku adalah orang yang dahulu berkata kepadaku di Makkah …”
- IslamQA. (2023). Bagaimana hubungan Nabi ﷺ dengan pamannya Abu Thalib?
- Rumaysho.Com. Syarhus Sunnah: Belajar Akidah, Agar Selamat dari Pemahaman Sesat.
- Rumaysho.Com. Faedah Sirah Nabi: Wafatnya Abu Thalib.
—–
Malam Jumat, 17 September 2026 @ Palembang
Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
Sumber: Rumaysho.com