Ibnu Taimiyyah Sumpiuh
Pondok Pesantren
Ibnu Taimiyyah Sumpiuh
Ilmu | Adab | Amal | Generasi Qur'ani
●Sumpiuh, Banyumas
Jawa Tengah
PSB 2027/2028 →
Biografi

Pelajaran dari Bal’am bin Ba’ura dan Para Penyihir Fir’aun

●
AdminPonpes Ibnu Taimiyyah Sumpiuh

Daftar Isi

Bismillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala, selawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengajarkan kita -melalui petunjuk Rabb-nya- prinsip-prinsip kehidupan untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Di antara ajaran mulia tersebut adalah anjuran untuk mempelajari dan mengambil ibrah dari faidah kisah-kisah di dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah kisah Bal’am bin Ba’ura dan para penyihir Fir’aun.

Saudaraku, mari kita mulai dengan menelaah dua kisah hamba Allah Ta’ala yang sangat kontras: ada seorang alim yang doanya selalu dikabulkan, yang hafal dan memahami kitab-kitab Allah, bahkan dikenal memiliki kedudukan spiritual yang tinggi. Masyarakat menghormatinya, dan namanya harum di mana-mana. Di sisi lain, ada pula sekelompok tukang sihir yang hidup dalam kekufuran, menghabiskan hari-hari mereka dengan mempelajari ilmu hitam untuk melawan para Nabi. Siapa yang lebih berpeluang selamat di akhirat? Logika kita mungkin akan menjawab sang alim. Namun, takdir Allah Ta’ala seringkali berada di luar dugaan manusia.

Kisah Bal’am bin Ba’ura dan para penyihir Fir’aun yang diabadikan dalam Al-Qur’an menyajikan pelajaran yang sangat mencengangkan. Sang alim yang penuh ilmu justru tersesat dan berakhir dalam kesesatan, sementara para tukang sihir yang awalnya kafir justru mendapatkan hidayah dan mati dalam keadaan syahid. Sungguh, ini adalah bukti nyata bahwa kesalehan lahiriah tidak ada artinya sama sekali jika batin dan hati telah rusak. Hati adalah raja, dan anggota badan adalah pengikutnya. Mari kita renungkan dua kisah ini dengan seksama.

Bal’am bin Ba’ura

Siapa sebenarnya Bal’am bin Ba’ura?

Ia adalah seorang ulama Bani Israil yang hidup pada masa Nabi Musa ‘alaihis salam. Sebagian besar ulama ahli tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim dan Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya, berpendapat bahwa firman Allah dalam surah Al-A’raf ayat 175 merujuk kepada sosok bernama Bal’am ini.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Dan bacakanlah kepada mereka (Muhammad) berita tentang orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. Al-A’raf [7]: 175)

Bal’am dikenal memiliki doa yang mustajab karena mengetahui Ismul A’dzam (nama Allah yang agung). Ia rajin beribadah dan sangat alim. Namun, ketika Bani Israil di bawah pimpinan Nabi Musa hendak memasuki negeri kaumnya, para pembesar dan raja-raja di negeri itu merasa terancam. Mereka datang kepada Bal’am dan memintanya untuk mendoakan keburukan atas Musa dan kaumnya, dengan imbalan hadiah dan kedudukan yang tinggi. Awalnya Bal’am menolak, tetapi bisikan dunia dan rayuan harta akhirnya meluluhkan hatinya. Ia pun berdoa melawan Musa, dan karena doanya dikabulkan, ia justru terjerumus ke lembah kekufuran yang paling dalam.

Inilah tragedi terbesar seorang alim: ilmunya tidak menyelamatkannya karena hatinya telah terbelenggu oleh cinta dunia. Ia lebih memilih kursi kekuasaan dan tumpukan emas daripada rida Allah Ta’ala. Na’udzubillahi min dzalik. Pelajaran berharga di sini adalah bahwa kedudukan tinggi di mata manusia, karomah, dan ilmu yang melangit tidak akan berguna jika hati condong kepada kemaksiatan.

Para penyihir Fir’aun

Sekarang, alihkan pandangan kita pada rombongan para penyihir Fir’aun. Mereka adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya bergelimang dosa, mempelajari sihir untuk melawan agama Allah. Fir’aun mengumpulkan mereka dari seluruh penjuru negeri, menjanjikan hadiah dan jabatan jika mereka berhasil mengalahkan Musa. Ini adalah momen puncak adu kekuatan antara kebenaran dan kebatilan.

Namun, yang terjadi sungguh di luar nalar. Ketika tongkat Musa berubah menjadi ular besar dan melahap semua tali serta tongkat sihir mereka, para penyihir ini tidak menunggu sedetik pun. Mereka langsung menjatuhkan diri dalam sujud dan berkata,

ءَامَنَّا بِرَبِّ هَٰرُونَ وَمُوسَىٰ

“Kami beriman kepada Tuhan Harun dan Musa.” (QS. Thaha: 70)

Dan ketika Fir’aun mengancam akan memotong tangan dan kaki mereka serta menyalib mereka, mereka menjawab dengan keteguhan yang mengharu biru,

لَن نُّؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلْبَيِّنَٰتِ وَٱلَّذِى فَطَرَنَا ۖ فَٱقْضِ مَآ أَنتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِى هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَآ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا

“Kami tidak akan memilih engkau daripada bukti-bukti yang nyata yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan dalam kehidupan dunia ini. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami.” (QS. Thaha: 72-73)

Saudaraku, kira-kira apa rahasia di balik hidayah secepat kilat ini?

Sebelum adu mukjizat dimulai, mereka mendengarkan nasihat Nabi Musa. Nasihat itu meresap ke dalam hati mereka yang masih memiliki fitrah suci. Meskipun mereka melakukan sihir, masih ada secercah kebaikan dan kejujuran yang tersisa di hati mereka. Ketika kebenaran tampak jelas di hadapan mata, mereka tidak berdebat atau menyombongkan diri, mereka langsung menerimanya. Berbeda dengan Fir’aun yang hatinya sudah tertutup rapat oleh kesombongan, mereka masih memiliki kerendahan hati untuk mengakui kekeliruan.

Amalan zahir yang tak berguna

Perbandingan dua kisah ini mengajarkan kita satu prinsip fundamental dalam Islam bahwa amal lahiriah tidak ada nilainya jika hati dipenuhi oleh penyakit-penyakit seperti riya (ingin dipuji), ujub (merasa hebat), takabur (sombong), dan hasad (dengki).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.” (HR Muslim no. 91)

Saudaraku, lihatlah bahwa kesombongan sekecil biji sawi pun dapat menghalangi seseorang memasuki surga, apalagi jika penyakit itu telah tumbuh subur dan menjalar ke seluruh relung hati.

Bal’am bin Ba’ura termasuk dalam kategori orang yang terserang penyakit syahwat (cinta dunia), sementara banyak dari kita mungkin tidak sadar bahwa kita juga sedang dihinggapi virus syubhat (keraguan) yang terus meneror. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin  menjelaskan,

الْقَلْبُ يَعْتَرِضُهُ مَرَضَانِ يَتَوَارَدَانِ عَلَيْهِ، إِذَا اسْتَحْكَمَا فِيهِ كَانَ هَلَاكُهُ وَمَوْتُهُ، وَهُمَا: مَرَضُ الشَّهَوَاتِ، وَمَرَضُ الشُّبُهَاتِ، وَهَذَانِ أَصْلُ دَاءِ الْخَلْقِ إِلَّا مَنْ عَافَاهُ اللَّهُ

“Hati itu dihinggapi dua penyakit yang silih berganti menyerangnya. Apabila kedua penyakit ini telah menguasainya, maka itulah kebinasaan dan kematiannya. Keduanya adalah: penyakit syahwat (nafsu) dan penyakit syubhat (keraguan). Kedua penyakit inilah sumber dari seluruh penyakit manusia, kecuali orang yang diberi keselamatan oleh Allah.”

Fenomena ini sangat terasa di zaman kita. Banyak orang yang rajin salat dan bersedekah, namun di saat yang sama ia gemar mencaci maki ataupun menggibah saudaranya, hatinya penuh dendam, dan ia merasa lebih baik dari orang lain. Jika ibadahnya tidak membuatnya rendah hati dan penyayang, maka waspadalah, bisa jadi itu adalah riya atau penyakit hati lainnya yang menggerogoti pahala.

Delapan kunci menjaga hati dan hidayah

Lantas, bagaimana cara kita menjaga hati agar tidak bernasib seperti Bal’am, dan membuka pintu hati seperti para penyihir Fir’aun? Para ulama telah memberikan resep jitu yang perlu kita amalkan setiap hari. Kami mencoba menyimpulkan beberapa poin sebagai tips praktis yang kiranya dapat kita lakukan sebagai ikhtiar untuk menjaga hati agar tetap mendapatkan hidayah.

1) Kita harus selalu mensyukuri nikmat hidayah. Sadari bahwa keimanan yang kita miliki hari ini adalah karunia Allah semata, bukan hasil kepintaran kita sendiri. Tanpa pertolongan-Nya, kita bisa tersesat dalam sekejap.

2) Perbanyaklah doa memohon keteguhan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sering membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, “Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik”; yang artinya, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Hati manusia sangat labil, bisa berubah dalam sekejap mata, maka rajutlah hubungan dengan Allah melalui doa ini setiap pagi dan petang.

3) Biasakan membaca dan merenungkan kisah para Nabi serta orang saleh. Al-Qur’an penuh dengan kisah-kisah yang mengandung pelajaran (ibrah) agar kita tidak lengah.

4) Introspeksi amalan hati. Jangan hanya sibuk menghitung rekaat salat, tetapi periksalah apakah di dalam hati tersimpan rasa iri, bangga diri, atau pandangan merendahkan orang lain.

5) Rutin menghadiri majelis ilmu untuk memperbarui iman.

6) Waspadalah terhadap pujian berlebihan dari orang lain serta hindari riya di media sosial. Jangan sampai kita beramal hanya untuk mendapatkan like dan komentar.

7) Amalkan ilmu yang didapat. Sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan.

8) Jauhkan diri dari syubhat (pemikiran menyesatkan) dan syahwat (kemaksiatan). Jangan biarkan telinga dan mata kita tercemar dengan hal-hal yang melunturkan keimanan.

Akhir hayat sebagai penentu

Saudaraku, perjalanan hidup kita tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan atau seberapa banyak gelar akademik yang kita punya. Tapi diukur dengan kondisi hari kita saat ajal menjemput. Bal’am bin Ba’ura gagal di ujung jalan, sementara para penyihir Fir’aun justru meraih kemenangan di akhir peperangan. Inilah bukti bahwa yang paling berbahaya adalah tipu daya setan yang merayap masuk melalui celah-celah hati kita.

Kisah ini juga mengajarkan kita untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Siapa pun kita, bahkan jika dosa telah menumpuk setinggi langit, pintu tobat selalu terbuka. Para penyihir Fir’aun adalah bukti nyata bahwa rahmat Allah Ta’ala lebih luas dari segala bentuk dosa. Namun, di sisi lain, jangan pernah merasa aman dari azab Allah Ta’ala. Orang yang paling saleh sekalipun, seperti Bal’am, bisa tergelincir jika ia lengah dan mendahulukan dunia di atas akhirat.

Marilah kita berdoa kepada Allah agar diberikan hati yang bersih, selalu terbuka kepada kebenaran, dan dijauhkan dari kesombongan serta cinta dunia. Semoga kita termasuk orang-orang yang di akhir hayatnya diberi husnul khatimah (akhir yang baik), bukan mereka yang sesat setelah diberi petunjuk. Aamīn ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id


Sumber: Muslim.or.id

Share