Ibnu Taimiyyah Sumpiuh
Pondok Pesantren
Ibnu Taimiyyah Sumpiuh
Ilmu | Adab | Amal | Generasi Qur'ani
●Sumpiuh, Banyumas
Jawa Tengah
PSB 2027/2028 →
Fatwa Ulama

Fatwa Ulama: Hukum Berbicara ketika Salat karena Lupa

●
AdminPonpes Ibnu Taimiyyah Sumpiuh

Daftar Isi

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:

Apabila seseorang berbicara ketika salat karena lupa, apakah salatnya batal?

Jawaban:

Apabila seorang Muslim berbicara ketika salat karena lupa atau tidak tahu, maka salatnya tidak batal, baik salat tersebut adalah salat fardu maupun salat sunah, sebagaimana firman Allah ﷻ,

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami apabila kami lupa atau bersalah.” (QS Al-Baqarah: 286)

Dan terdapat hadis yang sahih dari Nabi ﷺ, bahwa Allah ﷻ berfirman,

قَدْ فَعَلْتُ

“Sungguh Aku telah melakukannya.” [1] 

Dan di dalam Shahih Muslim, dari Muawiyah bin Hakam as-Sulami radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau pernah mendoakan orang yang bersin ketika salat dalam keadaan tidak mengetahui hukum syar’i seputar hal tersebut. Maka orang-orang yang ada di sekitar beliau mengingkarinya dengan berisyarat. Lantas beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal tersebut, dan Nabi ﷺ tidak memerintahkan beliau untuk mengulang salatnya [2]. Orang yang lupa itu seperti dan orang yang tidak tahu, bahkan lebih kuat alasan untuk memakluminya.

Selain itu, Nabi ‘alaihi as-shalatu was salam pun juga pernah berbicara ketika salat belum usai dalam kondisi lupa, dan beliau ﷺ tidak mengulangi salatnya, melainkan tetap menyempurnakan salat hingga salam, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih, di antaranya hadis Ibnu Mas’ud, ‘Imran bin Hushain, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum.

Adapun berisyarat ketika salat, tidak mengapa apabila ada kebutuhan yang mendorongnya.

– Fatwa Selesai [3] – 

Catatan penerjemah:

Bicara yang membatalkan salat adalah bicara yang termasuk dalam kategori kalamu bani Adam atau kalamunnas, yaitu perkataan yang ditujukan kepada selain Allah ﷻ. Sebagai contoh kasus, ketika ada orang yang bersin lantas mengucap “Alhamdulillah”, maka ucapan tahmid ini adalah pujian kepada Allah ﷻ sehingga tidak membatalkan salat. Dan dalam fatwa yang lain, Syekh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan bahwa hukum mengucapkannya ketika salat tetaplah disunahkan [4]. Adapun doa yang diucapkan ketika mendengar orang yang bersin setelah ia mengucap “Alhamdulillah” (tasymit), yaitu:

يَرْحَمُكَ اللَّهُ

“Semoga Allah merahmatimu.”

Ini adalah doa yang kita ucapkan kepada orang lain, sehingga dapat membatalkan salat. Akan tetapi, jika ucapan doa ini terucap karena lupa atau karena belum tahu hukumnya, maka salat kita tidak batal.

Kemudian, disebutkan dua hadis yang mengisahkan momen ketika Nabi ﷺ pernah berbicara ketika salat belum selesai dalam kondisi lupa. Beliau ﷺ lupa bahwa salatnya belum sempurna (rekaatnya) dan berbicara dengan jemaah. Setelah mengetahui hal tersebut, Nabi ﷺ tidak mengulang salatnya, melainkan menyempurnakan salat tersebut. Berikut hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ إِبْرَاهِيمُ: لَا أَدْرِي زَادَ أَوْ نَقَصَ – فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَحَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ؟ قَالَ: “وَمَا ذَاكَ؟” قَالُوا: صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا، فَثَنَى رِجْلَيْهِ، وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، فَلَمَّا أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ: “إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ لَنَبَّأْتُكُمْ بِهِ، وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي، وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ، ثُمَّ يَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

“Nabi ﷺ pernah salat –Ibrahim berkata: Aku tidak tahu apakah beliau menambah atau mengurangi rekaat– dan ketika beliau selesai salam, ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah terjadi sesuatu (perubahan) dalam salat?” Beliau menjawab, “Apa itu?” Mereka berkata, “Anda salat begini dan begitu.”

Beliau pun melipat kedua kakinya, menghadap kiblat, lalu sujud dua kali (sujud sahwi), kemudian salam. Ketika beliau menghadapkan wajahnya kepada kami, beliau bersabda, “Sesungguhnya jika terjadi suatu perubahan dalam salat, niscaya aku akan memberitahukannya kepada kalian. Namun, sungguh aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, aku lupa sebagaimana kalian lupa. Jika aku lupa, ingatkanlah aku. Dan jika salah seorang dari kalian ragu dalam salatnya, hendaklah ia mencari yang benar lalu menyempurnakannya, lalu salam, kemudian sujud dua kali.” [5]

Dan berikut hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيِ العَشِيِّ – قَالَ ابْنُ سِيرِينَ: سَمَّاهَا أَبُو هُرَيْرَةَ وَلَكِنْ نَسِيتُ أَنَا – قَالَ: فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، فَقَامَ إِلَى خَشَبَةٍ مَعْرُوضَةٍ فِي المَسْجِدِ، فَاتَّكَأَ عَلَيْهَا كَأَنَّهُ غَضْبَانُ، وَوَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى، وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ، وَوَضَعَ خَدَّهُ الأَيْمَنَ عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ اليُسْرَى، وَخَرَجَت السَّرَعَانُ مِنْ أَبْوَابِ المَسْجِدِ، فَقَالُوا: قُصِرَت الصَّلَاةُ، وَفِي القَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ، وَفِي القَوْمِ رَجُلٌ فِي يَدَيْهِ طُولٌ، يُقَالُ لَهُ: ذُو اليَدَيْنِ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَسِيتَ أَمْ قُصِرَت الصَّلَاةُ؟ قَالَ: “لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ” فَقَالَ: أَكَمَا يَقُولُ ذُو اليَدَيْنِ؟ فَقَالُوا: نَعَمْ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى مَا تَرَكَ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ، ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ، فَرُبَّمَا سَأَلُوهُ: ثُمَّ سَلَّمَ؟ فَيَقُولُ: نُبِّئْتُ أَنَّ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ قَالَ: ثُمَّ سَلَّمَ

“Rasulullah ﷺ memimpin kami salat pada salah satu dari dua salat petang (Zuhur atau Ashar) —Ibnu Sirin berkata: Abu Hurairah menyebutkan nama salatnya, tetapi saya lupa— Beliau salat bersama kami dua rekaat saja lalu salam. Kemudian beliau berdiri menuju sebatang kayu yang melintang di dalam masjid, lalu bersandar padanya seolah-olah beliau sedang marah. Beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dan menjalin jari-jarinya, serta meletakkan pipi kanannya di atas punggung telapak tangan kirinya. Orang-orang yang tergesa-gesa segera keluar dari pintu-pintu masjid seraya berkata, “Salat telah diqasar (diperpendek).”

Di antara jemaah terdapat Abu Bakar dan Umar, namun keduanya segan untuk berbicara kepada beliau. Di antara mereka ada juga seorang laki-laki yang tangannya panjang, yang dijuluki Dzul Yadain. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda lupa ataukah salat memang diqasar?” Beliau menjawab, “Aku tidak lupa dan salat tidak diqasar.” Beliau bertanya (kepada jemaah lain), “Benarkah apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain?” Mereka menjawab, “Iya.”

Beliau pun maju, lalu salat menyempurnakan rakaat yang tertinggal, kemudian salam. Setelah itu, beliau bertakbir, lalu sujud seperti sujud biasa atau lebih lama, kemudian mengangkat kepalanya dan bertakbir. Kemudian beliau bertakbir lagi, lalu sujud seperti sujud biasa atau lebih lama, kemudian mengangkat kepalanya dan bertakbir. Terkadang orang-orang bertanya kepada Ibnu Sirin, “Apakah beliau kemudian salam?” Maka ia menjawab, “Aku mendapat kabar bahwa Imran bin Husain berkata: Kemudian beliau salam.” [6]

Adapun dalam hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, isi hadis tidak menyebutkan Nabi ﷺ berbicara. Beliau ﷺ beranjak dari tempat salat, lalu kembali untuk menyempurnakan salat ketika telah mengetahui salatnya kurang satu rakaat.

سَلَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَلَاثِ رَكَعَاتٍ مِنَ الْعَصْرِ، ثُمَّ قَامَ فَدَخَلَ الْحُجُرَاتِ، فَقَامَ رَجُلٌ بَسِيطُ الْيَدَيْنِ، فَقَالَ: أَقُصِرَتِ الصَّلَاةُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَخَرَجَ مُغْضَبًا، فَصَلَّى الرَّكْعَةَ الَّتِي كَانَ تَرَكَهَا، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ، ثُمَّ سَلَّمَ

“Rasulullah ﷺ pernah salam pada rekaat ketiga salat Ashar, kemudian beliau berdiri dan masuk ke dalam kamar-kamarnya. Lalu berdirilah seorang laki-laki yang panjang kedua tangannya (bergelar Dzul Yadain) dan bertanya, “Apakah salat telah diqasar (diperpendek), wahai Rasulullah?” Maka beliau keluar dalam keadaan marah, lalu beliau salat satu rekaat yang tadi ditinggalkannya, kemudian salam, lalu sujud sahwi dua kali, kemudian salam kembali.” [7] 

Baca juga: Kesalahan-Kesalahan yang Sering Dijumpai ketika Salat

***

Penerjemah: Reza Mahendra

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

[1] HR. Muslim no. 126 dan At-Tirmidzi no. 2992.

[2] Dimuat dalam surat kabar Al-Bilad edisi no. 10.935, Rabu, 13 Muharam 1415 H (Majmu‘ Fatawa wa Maqalat Asy-Syaikh Ibnu Baz, 11: 157). Lihat: https://binbaz.org.sa/fatwas/4105/

[4] Website resmi Syekh Ibnu Baz, https://binbaz.org.sa/fatwas/13275/

[5] HR. Bukhari no. 401.

[6] HR. Bukhari no. 482 dan Muslim no. 573.

[7] HR. Muslim no. 574.


Sumber: Muslim.or.id

Share