Khotbah Jumat: Menjaga Ukhuwah dan Manajemen Konflik yang Harus Kembali Diperhatikan Umat

Daftar Isi
Khotbah pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا
أَمَّا بَعْدُ
عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
Jemaah sidang Jumat rahimakumullah, pertama-tama khatib mewasiatkan diri khatib pribadi dan juga jemaah sekalian untuk bertakwa kepada Allah.
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah, sudah menjadi sunnatullah, Allah Ta’ala menciptakan kita dalam keadaan berbeda-beda. Berbeda ras, berbeda pengalaman, berbeda budaya, berbeda pengalaman hidup, yang semua perbedaan ini membentuk karakter dan nilai yang berbeda. Ini merupakan sunnatullah (ketetapan Allah). Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Perbedaan itu memang sunnatullah. Tapi perbedaan bukan alasan untuk bercerai-berai. Justru sebaliknya, Allah meminta kita untuk saling mengerti dan memahami, maka Allah sebutkan لِتَعَارَفُوا ‘agar kalian saling memahami’. Para ulama juga memberi penafsiran agar timbul ‘irfan’ (kebijaksanaan) dan ‘urf’ (kesepakatan kebaikan) di tengah manusia. Di balik perbedaan ini, Allah juga memerintahkan kita untuk bersatu. Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan berpeganglah kalian semuanya pada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hati-hati kalian, sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103)
Ketika kedua ayat ini digabungkan, maka menghasilkan pesan yang sangat jelas. Kita memang diciptakan berbeda. Namun, perbedaan itu bukan sebab kita bercerai-berai, melainkan bersatu dalam satu ikatan, yaitu Islam. Persaudaraan Islam bagi kaum muslimin adalah sebuah nilai agama yang Islam ajarkan.
Jemaah yang dirahmati Allah, bahkan lebih dari itu, menjaga ukhuwah Islamiyah adalah bagian dari iman. Banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut. Di antaranya, Nabi ﷺ bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)
Perhatikan, dengan keras Nabi ﷺ menafikan iman dari orang yang tidak mencintai saudaranya. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan ukhuwah dalam Islam.
Iman seseorang juga diukur dari bagaimana ia memperlakukan tetangganya. Nabi ﷺ bersabda,
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman. Ditanya, ‘Siapa wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.’” (HR. Bukhari no. 6016)
Nabi ﷺ juga bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari no. 6018)
Dan beliau bersabda,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Muslim sejati adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40)
Semua dalil ini memberikan satu kesimpulan. Keimanan kita di antaranya ditunjukkan dengan interaksi sosial kita. Dalam artian, orang yang merusak persaudaraan, menyakiti saudaranya, memutus hubungan, dan menebar permusuhan, imannya sedang bermasalah.
Nabi ﷺ menggambarkan ikatan umat Islam seperti satu tubuh,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh mengeluh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim no. 2586)
Dan beliau juga bersabda,
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585) Lalu beliau menyilangkan jari-jemarinya sebagai gambaran betapa eratnya ikatan itu.
Saudara-saudaraku seiman, jika kita sudah memahami betapa agungnya kedudukan ukhuwah dalam Islam, maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana ketika konflik itu benar-benar terjadi di antara kita? Karena selama kita hidup bermasyarakat, gesekan pasti akan ada, perbedaan pendapat pasti muncul, perselisihan juga tidak bisa dihindari sepenuhnya. Maka, yang Islam ajarkan adalah mengelola perbedaan-perbedaan tersebut agar tidak merusak persaudaraan.
Jika kita memperhatikan berbagai bimbingan syariat dalam menghadapi perselisihan, setidaknya ada tiga sikap yang dapat kita tempuh:
Tingkatan pertama, ketika perselisihan yang terjadi masih bisa ditoleransi dan dikompromikan, maka yang diperintahkan adalah saling memaafkan dan taghaful (saling tidak terlalu mempermasalahkan). Allah Ta’ala berfirman,
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian suka bahwa Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)
Nabi ﷺ bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidak mengurangi harta. Allah tidak menambah seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Muawiyah bin Abi Sufyan,
العَقْلُ مِكْيَالٌ، ثُلُثُهُ الفِطْنَةُ، وَثُلُثَاهُ التَّغَافُلُ
“Akal itu seperti takaran; sepertiganya adalah kecerdasan (memahami keadaan), dan dua pertiganya adalah taghaful (pura-pura tidak tahu).” (Uyunul Akhbar oleh Ibnu Qutaibah)
Memaafkan bukanlah sebuah kelemahan, ia adalah kekuatan. Orang yang paling kuat adalah yang mampu menahan amarahnya ketika ia mampu membalas. Nabi ﷺ bersabda,
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat. Orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609)
Tingkatan kedua, ketika perselisihan tidak bisa diselesaikan dengan saling memaafkan saja karena menyangkut hak atau keputusan bersama, maka Islam memerintahkan musyawarah. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ
“Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)
Allah juga berfirman kepada Nabi-Nya,
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)
Nabi ﷺ yang merupakan manusia paling sempurna saja diperintahkan bermusyawarah. Beliau bermusyawarah dengan para sahabat sebelum perang Badr, sebelum perang Uhud, sebelum perang Khandaq, dan dalam banyak perkara lainnya. Musyawarah adalah tradisi agung yang sayangnya mulai banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin hari ini. Kita lebih sering memutuskan sendiri, memaksakan kehendak sendiri, lalu marah ketika orang lain tidak setuju. Padahal, Islam mengajarkan kita untuk duduk bersama, mendengarkan, dan mencari jalan keluar bersama.
Tingkatan ketiga, ketika hati benar-benar belum bisa menerima dan perlu waktu, maka Islam membolehkan untuk menjaga jarak, tapi dengan satu syarat mutlak, yaitu harus dikomunikasikan terlebih dahulu.
Perhatikan bagaimana Nabi ﷺ menangani kasus Wahsyi bin Harb. Wahsyi adalah orang yang membunuh Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Nabi ﷺ yang sangat beliau cintai. Ketika Wahsyi masuk Islam dan datang menemui Nabi ﷺ, beliau tidak langsung menolak atau mengusirnya. Beliau menerimanya dan mengakui keislamannya. Tapi beliau berkata kepada Wahsyi,
أَوَ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي؟
“Bisakah engkau tidak menampakkan wajahmu di hadapanku?” (HR. Bukhari secara mu’allaq dalam kitab al-Maghazi, dan diriwayatkan secara maushul oleh al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah)
Perhatikan apa yang dilakukan Nabi ﷺ. Para ulama menjelaskan, di antara bentuk kedewasaan dan keluasan hati Nabi ﷺ, ketika berhadapan dengan orang yang hatinya ﷺ belum bisa berdamai dengan orang tersebut. Beliau tidak diam begitu saja, juga tidak tiba-tiba memutus hubungan tanpa penjelasan. Beliau mengkomunikasikan dan berterus terang bahwa hatinya masih sakit, dan beliau meminta Wahsyi untuk tidak sering menampakkan wajahnya. Kisah ini menunjukkan bahwa seseorang dapat menjaga jarak dari orang yang menimbulkan luka di hatinya, tanpa harus memusuhi orang tersebut.
Tentu ini sangat berbeda dengan konsep silent treatment yang belakangan sedang marak dipraktikkan oleh sebagian manusia, bahkan kaum muslimin. Silent treatment yang banyak dipraktikkan hari ini, yaitu mendiamkan seseorang tanpa penjelasan, memutus akses tanpa sebab yang jelas, menghilang begitu saja, tentu itu bukan ajaran Islam. Itu adalah kezaliman terhadap sesama muslim. Karena Nabi ﷺ melarang kita mendiamkan saudara muslim kita lebih dari tiga hari, tanpa alasan yang syar’i atau hanya karena konflik internal yang dapat diselesaikan. Beliau bersabda,
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ
“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai salam.” (HR. Bukhari no. 6077 dan Muslim no. 2560)
Beliau juga bersabda,
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan hari Kamis. Maka diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali seorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan dua orang ini sampai keduanya berdamai.’” (HR. Muslim no. 2565)
Bayangkan, jemaah. Ampunan Allah ditunda hanya karena kita berseteru dengan sesama muslim. Pintu surga terbuka, tapi kita terhalang masuk karena dendam yang kita simpan.
Jemaah rahimakumullah, kita hidup di zaman di mana umat Islam sudah menjadi minoritas yang lemah di banyak tempat. Kita terpecah-belah oleh perkara yang seharusnya bisa diselesaikan dengan duduk bersama. Kita saling memboikot, saling menggibahi, saling menjatuhkan, padahal musuh-musuh Islam bersatu untuk melemahkan kita. Di saat seperti inilah, perintah Allah untuk bersabar bersama kaum muslimin menjadi sangat relevan. Allah Ta’ala berfirman,
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari dengan mengharapkan wajah-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena menginginkan perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Bersabarlah bersama kaum muslimin. Meskipun mereka tidak sempurna. Meskipun mereka punya kekurangan. Meskipun mereka pernah menyakiti. Karena kekuatan umat ini ada pada persatuannya, bukan hanya pada kesempurnaan individu-individunya.
Maka maafkanlah ketika bisa dimaafkan. Bermusyawarahlah ketika perlu dimusyawarahkan. Komunikasikanlah ketika hati belum bisa menerima. Tapi jangan pernah memutus tali persaudaraan.
Karena pada akhirnya, ukhuwah Islamiyah bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Namun, ketika terjadi perselisihan, seorang muslim dituntut untuk tetap adil, menahan ego, dan mencari jalan yang dapat menjaga kebenaran sekaligus persaudaraan. Ukhuwah Islamiyah adalah soal apakah kita rela mengorbankan ego kita demi menjaga barisan umat ini tetap kuat.
أَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ؛ فَاسْتَغْفِرُوهُ، وَتُوبُوا إِلَيْهِ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khotbah kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُسْلِمِينَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّحْنَاءِ وَالْبَغْضَاءِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفُرْقَةِ وَالِاخْتِلَافِ
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَلَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلَى رَعَايَاهُمْ
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
أَقِيمُوا الصَّلَاةَ
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Muslim.or.id
Sumber: Muslim.or.id