Ibnu Taimiyyah Sumpiuh
Pondok Pesantren
Ibnu Taimiyyah Sumpiuh
Ilmu | Adab | Amal | Generasi Qur'ani
●Sumpiuh, Banyumas
Jawa Tengah
PSB 2027/2028 →
Akhlak dan Nasihat

Muslim dan Kebiasaan Membaca

●
AdminPonpes Ibnu Taimiyyah Sumpiuh

Daftar Isi

Bismillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala, salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengajarkan kita -melalui petunjuk Rabb-nya- prinsip-prinsip kehidupan untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Di antara ajaran mulia tersebut adalah anjuran untuk mempunyai kebiasaan ‘membaca’.

Saudaraku, Allah mentakdirkan kita hidup di era di mana informasi mengalir deras tanpa henti. Fenomena yang dulu terlihat aneh dan sangat jarang terlihat, tapi kini menjadi kenyataan yang biasa kita saksikan; ponsel yang selalu di genggaman, notifikasi datang silih berganti, video pendek menghibur dalam hitungan detik, dan media sosial menyajikan ribuan konten setiap harinya. Di tengah semua itu, banyak orang mengeluh, “Saya tidak punya waktu untuk membaca.”

Padahal, jika dihitung dengan jujur, berapa jam yang kita habiskan setiap hari untuk menggulir layar ponsel? Lima menit di sini, sepuluh menit di sana—lama-kelamaan menjadi berjam-jam. Lalu, mampukah kita menjawab pertanyaan ini:

Jika kita memiliki waktu untuk membuka ponsel setiap hari, mengapa kita merasa tidak memiliki waktu untuk membaca?

Sebuah pertanyaan tentang makna dari kata “prioritas”, tentang apa yang kita anggap penting dan apa yang kita korbankan. Saudaraku, kita ketahui bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah untuk membaca. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Perintah membaca ini merupakan fondasi peradaban karena mambaca adalah jendela dunia bagi setiap insan yang sebelumnya tidak tahu menjadi mengerti. Membaca juga adalah gerbang ilmu, dan ilmu adalah jalan menuju pengenalan kepada Allah Ta’ala (ma’rifatullah). Oleh karenanya, aktivitas membaca, di samping sebagai aktivitas intelektual kita sebagai seorang muslim, dengannya juga bisa jadikan sarana untuk ibadah dalam rangka upaya mendekatkan diri kepada-Nya.

Namun, hanya memiliki kebiasaan membaca saja, tentunya tidaklah cukup. Kita juga harus mengetahui apa yang paling layak dibaca dan bagaimana menyusun prioritas bacaan. Sebab, tidak semua bacaan itu setara. Tidak semua buku yang populer layak menjadi prioritas. Dan membaca yang banyak, tanpa arah yang benar, tidak otomatis mendatangkan banyak ilmu yang bermanfaat.

Kebiasaan yang perlu dibangun

Kita membaca berarti kita sedang mencerna informasi tertulis untuk memperoleh makna dan pengetahuan. Secara ilmiah, membaca melatih otak untuk berpikir kritis, memperluas wawasan, dan meningkatkan kemampuan analisis. Membaca secara teratur juga terbukti meningkatkan empati, kemampuan komunikasi, dan daya ingat. Namun, kebiasaan membaca tidak tumbuh dengan sendirinya. Akan tetapi, kebiasaan perlu dilatih, dibangun, dan dijaga.

Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022—yang masih menjadi rujukan terbaru—mencatat skor literasi membaca Indonesia di angka 359, turun dari 371 (2018), dengan peringkat ke-68 dari 81 negara. Hanya 25% siswa yang mencapai literasi dasar. Perlu dibedakan dengan kebiasaan membaca. Data terbaru Perpusnas/BPS (2025) mencatat Indeks Kegemaran Membaca (TGM) di angka 54,80 (kategori sedang), sedangkan Indeks Pembangunan Literasi (IPLM) hanya 40,6 (kategori rendah). Angka UNESCO 0,001% kerap dikutip, tetapi nilainya diperdebatkan dan perlu dicermati.

Rata-rata masyarakat hanya membaca 6 buku/tahun dengan durasi 129 jam, dan hanya 20,7% yang membaca setiap hari. Kecepatan baca kita pun masih tertinggal (270 kata/menit vs. rata-rata global 450). Fakta ini menunjukkan budaya baca kita masih perlu digalakkan, terutama di tengah gempuran konten digital instan yang tidak membangun pemahaman mendalam.

Apa pun angka yang kita pegang, satu hal yang jelas bahwa budaya membaca di Indonesia masih perlu terus dibangun. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk memilah dan memahami informasi justru belum berkembang seiring berjalannya waktu. Masyarakat lebih banyak mengonsumsi konten pendek, media sosial, dan informasi instan. Hasilnya, kita menjadi konsumen informasi yang pasif, bukan pembelajar yang aktif. Di sinilah peran membaca yang serius dan terarah menjadi penting. Bukan sekadar membaca apa pun yang muncul di linimasa, tetapi membaca dengan kesadaran dan tujuan.

Muslim dan prioritas membaca

Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu. Janji Allah kepada penuntut ilmu amatlah mulia, yaitu surga yang dimudahkan bagi penuntutnya. Dan ilmu itu diperoleh salah satunya dengan membaca. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Ilmu itu bertingkat-tingkat. Ada ilmu yang wajib dipelajari, ada yang sunah, dan ada yang mubah. Memahami hal itu, maka tentu jika kita membaca tanpa prioritas yang benar bisa membuat seseorang sibuk dengan hal-hal yang kurang bermanfaat dan cenderung mengabaikan yang lebih penting. Prinsip dasar yang perlu kita pegang adalah bahwa prioritas pertama dalam menuntut ilmu adalah mempelajari Al-Qur’an, kemudian hadis Nabi ﷺ karena hadis merupakan penjelas bagi Al-Qur’an.

Perlu pula kita pahami, banyak membaca tidak otomatis berarti banyak ilmu. Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku, tetapi jika yang dibaca adalah hal-hal yang tidak meningkatkan keimanan, tidak memperbaiki akhlak, dan tidak menambah pemahaman tentang agama, maka ia telah kehilangan banyak kesempatan untuk meraih kebaikan yang lebih besar. Oleh karenanya, seorang Muslim perlu menyusun prioritas bacaannya dengan bijak, dimulai dari yang paling utama, secara bertahap, dan sesuai dengan tingkat kemampuan serta bimbingan guru yang terpercaya.

Baca juga: Ingin Betah Membaca Al-Qur’an? Tadabur Kuncinya

Lantas, apa yang Seharusnya Dibaca?

Al-Qur’an

Tidak ada bacaan yang lebih utama bagi seorang Muslim selain Al-Qur’an. Firman Allah Ta’ala yang diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mendatangkan pahala berlimpah sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: {الم} حَرْفٌ، وَلَكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi, dalam Sunan-nya no. 2910, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, tentang keutamaan dan kedudukan Al-Qur’an,

الْقُرْآنُ هُوَ الشِّفَاءُ التَّامُّ مِنْ جَمِيعِ الْأَدْوَاءِ الْقَلْبِيَّةِ وَالْبَدَنِيَّةِ، وَأَدْوَاءِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَا كُلُّ أَحَدٍ يُؤَهَّلُ وَلَا يُوَفَّقُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِهِ

“Al-Qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, serta penyakit dunia dan akhirat. Tidak semua orang diberi kemampuan dan taufik untuk berobat dengannya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan bahwa di antara manusia terdapat empat tingkatan dalam hubungannya dengan Al-Qur’an dan keimanan. Beliau menyebutkan bahwa orang yang diberikan anugerah untuk men-tadabburi (merenungkan) Al-Qur’an tentu lebih utama daripada orang yang diberi anugerah banyak dan cepat dalam membaca Al-Qur’an, padahal tidak disertai perenungan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab yang sama,

وَأَنَّ مَنْ أُعْطِيَ التَّدَبُّرَ فِي الْقُرْآنِ أَفْضَلُ مِمَّنْ أُعْطِيَ كَثْرَةَ الْقِرَاءَةِ وَسُرْعَتَهَا بِغَيْرِ تَدَبُّرٍ

“Siapa yang diberikan anugerah untuk merenungkan (mentadabburi) Al-Qur’an, maka ia lebih utama daripada orang yang diberi anugerah banyak dan cepat dalam membaca Al-Qur’an tanpa disertai perenungan.”

Setiap Muslim hendaknya memiliki waktu khusus setiap hari untuk membaca Al-Qur’an. Bisa setelah Subuh, bisa di malam hari, atau di waktu-waktu lain yang memungkinkan. Yang terpenting adalah konsistensinya, pun dengan niat memperbanyak kuantitas bacaannya juga merupakan hal yang baik untuk dipertahankan.

Kita bisa memulainya dengan memperbaiki kemampuan dalam membaca Al-quran, benar makharijul huruf dan tajwidnya. Sembari menghapal ayat-ayat pendek, dan menambah hapalan sedikit demi sedikit. Dalam waktu bersamaan juga secara pelan-pelan juga mempelajari tafsirnya. Dan yang paling penting adalah komitmen -dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan – untuk menerapkan setiap perintah-perintah Allah di dalamnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Pastikan Anda memiliki Al-Qur’an fisik, juga digital. Letakkan di tempat-tempat yang mudah dijangkau. Bila perlu, miliki lebih dari satu beserta terjemahan. Al-Qur’an digital juga sebaiknya diletakkan di layar utama, dimana saat membuka hp, yang Anda lihat pertama kali adalah app Al-Qur’an dan bertekadlah untuk senantiasa membukanya. Minimal membaca setengah lembar tiap kali membukanya. Gabut saat membuka hp, bukalah app Al-Qur’an terlebih dahulu dari app lainnya.

Hadis Nabi ﷺ

Setelah Al-Qur’an, bacaan yang paling penting adalah hadis Nabi ﷺ. Hadis menjadi penjelas dan penerapan praktis dari ajaran Al-Qur’an. Akan menjadi tidak utuh jika kita memahami Al-Qur’an tapi mengesamping mempelajari hadis dengan benar.

Mungkin dulu, sebelum begitu canggihnya teknologi, kita mengeluh betapa rumitnya mengakses kitab-kitab hadis. Tapi, saat ini, hampir semuanya bisa diakses dengan mudah. Bahkan hanya dalam genggaman, semua kitab-kitab hadis bisa kita peroleh. Hanya dengan menyimpan sebuat situs seperti https://shamela.ws/ ribuan referensi hadis kita bisa peroleh.

Apabila dibandingkan dengan para salafus saleh terdahulu, betapa sulitnya mereka untuk memperoleh hadis-hadis. Harus melalui perjalanan panjang bahkan berbulan-bulan baru mendapatkan hadis dengan segala halangan dan rintangannya. Sementara kini, cukup dengan tekad untuk mempelajari agama ini dengan benar kemudian berikhtiar dengan mencari informasi sumber-sumber hadis sahih dengan menghadiri majelis-majelis kajian hadis, memiliki kitab-kitab hadis dengan harga terjangkau, hingga mengaksesnya melalui internet.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Untuk pembaca awam, ada beberapa kitab hadis yang sangat dianjurkan, di antaranya:

  1. Riyadhus Shalihin, karya Imam An-Nawawi — kumpulan hadis tentang adab, akhlak, dan ibadah yang sangat cocok untuk pemula.
  2. Al-Arba’in An-Nawawiyyah, (40 Hadis Nawawi) — juga karya Imam An-Nawawi, menghimpun hadis-hadis pokok dalam Islam.
  3. Umdatul Ahkam karya Abdul Ghani Al-Maqdisi — kumpulan hadis tentang hukum fikih.
  4. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani — kitab hadis hukum yang lebih luas.
  5. Untuk tingkat lanjut, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah rujukan utama setelah Al-Qur’an.

Tentu saja, daftar ini bukan berarti seseorang harus langsung membaca semuanya. Pilihlah sesuai tingkat kemampuan dan, yang terpenting, dengan bimbingan guru yang terpercaya. Membaca kitab hadis tanpa pemahaman yang benar dari para ulama bisa menimbulkan kesalahan pemahaman.

Kitab-kitab ulama ahlus sunah

Setelah Al-Qur’an dan hadis, seorang Muslim perlu membaca kitab-kitab ulama yang menjelaskan keduanya. Prioritaskan kitab-kitab yang membangun fondasi agama: tauhid, akidah, ibadah, fikih, adab dan akhlak, tazkiyatun nafs, tafsir, dan hadis. Berikut adalah rekomendasi kitab secara bertahap:

Tingkat pemula:

  1. Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Tiga Landasan Utama) — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  2. Al-Qawa’idul Arba’ (Empat Kaidah) — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  3. Al-Adab Al-Mufrad — Imam Al-Bukhari (dengan penjelasan ulama).
  4. Riyadhus Shalihin — Imam An-Nawawi.
  5. Al-Arba’in An-Nawawiyyah — Imam An-Nawawi.

Tingkat menengah:

  1. Kitab At-Tauhid — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  2. Umdatul Ahkam — Abdul Ghani Al-Maqdisi.
  3. Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani.
  4. Aqidah Al-Wasithiyyah — Syekhul Islam Ibnu Taimiyah.
  5. Taisir Al-Karimir Rahman — Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.

Tingkat lebih lanjut:

  1. Tafsir Ibnu Katsir
  2. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
  3. Zaadul Ma’ad — Ibnul Qayyim
  4. Ad-Da’ wad Dawa’ — Ibnul Qayyim
  5. Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah — Syekhul Islam Ibnu Taimiyah

Penting pula untuk dicatat bahwa daftar kitab-kitab di atas bukanlah satu-satunya list yang wajib dibaca. Prioritas dapat berbeda sesuai kebutuhan, tingkat ilmu, kemampuan bahasa Arab, dan bimbingan ustaz/guru. Prinsip belajar secara bertahap (tadarruj) dan mengambil ilmu dari guru yang terpercaya menjadi hal yang harus diutamakan. Hindari membaca secara otodidak kemudian menyimpulkan sendiri terhadap suatu perkara/hukum tertentu.

Buku-buku bermanfaat di luar kitab keislaman

Setelah fondasi agama terbangun, seorang Muslim juga perlu membaca buku-buku yang memberikan manfaat duniawi dan menunjang kemaslahatan hidup. Misalnya: sejarah, biografi tokoh, ekonomi dan keuangan, sains, kesehatan, parenting, psikologi, komunikasi, kepemimpinan, kebijakan publik, teknologi, dan keterampilan profesional. Namun, tetap terapkan kaidah selektif. Tidak semua buku yang bagus harus dibaca, dan tidak semua buku yang populer layak menjadi prioritas.

Tanyakan pada diri sendiri sebelum membaca sebuah buku:

  1. Apa manfaat buku ini?
  2. Apakah isinya benar?
  3. Apakah sesuai dengan kebutuhan saya?
  4. Apakah ada bacaan yang lebih prioritas?
  5. Apakah waktu saya cukup untuk membacanya?

Sehingga dengan pertanyaan-pertanyaan ini, kita dapat menyaring bacaan dan fokus pada yang benar-benar bermanfaat. Terhindar dari berbagai pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari akidah dan manhaj yang benar karena kita telah menerapkan skala prioritas dalam menentukan bacaan-bacaan kita.

Memulai kebiasaan membaca

Bagi yang merasa kesulitan memulai kebiasaan membaca, berikut langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan:

  1. Mulai dari 10–15 menit sehari. Tidak perlu langsung membaca berjam-jam. Mulailah dengan waktu yang pendek tetapi konsisten.
  2. Tentukan waktu tetap setiap hari. Misalnya, 15 menit setelah Subuh atau 15 menit sebelum tidur. Dengan waktu yang tetap, membaca akan menjadi kebiasaan.
  3. Jauhkan ponsel saat membaca. Notifikasi dan godaan media sosial adalah musuh utama konsentrasi. Saat membaca, matikan ponsel atau letakkan di ruangan lain.
  4. Mulai dari kitab atau buku yang sesuai dengan level. Jangan langsung membaca kitab tingkat lanjut jika belum paham dasarnya. Belajarlah secara bertahap.

Budaya membaca tidak perlu dimulai dengan target ambisius “menamatkan 50 buku setahun”. Cukup mulai dengan sederhana, seperti satu mushaf yang dibaca setiap hari, satu kitab yang dipelajari dengan benar, dan beberapa halaman buku bermanfaat yang dibaca secara rutin. Yang dicari bukan sekadar “banyak membaca”, tetapi ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang benar, dan amal yang semakin baik. Karena hal yang penting untuk kita pahami dari inti membaca ini adalah bahwa membaca merupakan sarana, bukan tujuan. Tujuan kita adalah mengenal Allah, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Mari kita bangun kebiasaan membaca—dengan prioritas yang benar, dengan niat yang lurus, dan dengan komitmen untuk mengamalkan apa yang kita baca. Semoga Allah memudahkan kita semua.

Ya Allah, limpahkanlah kepada kami manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat bagi kami, dan tambahkanlah kepada kami ilmu. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan. (Aamīn)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Baca juga: Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas Membaca

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id


Sumber: Muslim.or.id

Share