Waspada Di Hari Bahagia

Gangguan pencernaan, keluhan kebanyakan mereka yang duduk di ruang tunggu dokter di hari-hari lebaran. Sebenarnya, bukan cuma mereka. Karena sebagian yang lain punya keluhan sama, hanya saja, cukup dengan penanganan obat tradisional seadanya atau obat warung terdekat dengan rumahnya. Yang jelas, kurang berhati-hati di masa peralihan, berdampak buruk bagi kesehatan. Di sini, perlunya pendampingan adab Islam dalam hidup keseharian.

Kata para ulama, menikmati makanan dan minuman penuh selera, bukan terlarang dalam agama. Karena bagaimanapun kita bertahan hidup dengannya. Yang dilarang adalah berlebihan dalam mengkonsumsinya.

وكلوا و اشربوا ولا تشرفوا (الاعراف ٣١)
_”Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan.”_ (QS. Al A’raf:31)

Berkata Imam Ibnu Katsir _rahimahullah_,
_”Berlebihan dalam makan itu berpengaruh buruk terhadap akal dan badan”_

Berkata Abu Darda’ _radhiyallahu ‘anhu_,
_” Diantara tanda kecerdasan seorang, tidak berlebihan dalam gaya hidup keseharian”_

Ahli Fikih, mereka menyatakan _makruh_ nya makan kekenyangan. Sebagian mereka, malah menganggapnya _haram_ .

Berkata, Syaikhul Islam,
_” Makan berlebihan itu tercela.”_

Tak ketinggalan, para ahli kesehatan sepakat bahwa hidup sehat akan didapat dengan mengurangi makan kenyang. Makan kenyang justru akan melemahkan badan, menjadikannya lesu dan malas, menjadikan hati keras, mengganggu kecerdasan, mengundang kantuk, melemahkan gairah ibadah, memicu berbagai potensi penyakit dan hilangnya semangat muda.

Menutup penjelasannya, Syaikh Abdullah Al Fauzan menambahkan,
_” Berlebihan itu kadarnya relatif. Antar individu, bisa berbeda. Demikian pula satu tempat dan tempat lainnya, satu daerah dengan daerah lainnya. Patokannya adalah ketika ia telah melampaui batas wajarnya.”_
( _Minhatul Alam_ )

Oleh:
Abu Ismail Bambang