Kenormalan Baru

Saat melewati Ramadhan, banyak dari kita menyiapkan dan menerapkan pola hidup yang ‘berbeda’. Intensitas Ibadah dan ketaatan yang cenderung meningkat. Pengelolaan emosi yang lebih terkendali. Kecenderungan jiwa berbuat baik yang lebih tinggi. Dan seperti itulah, seorang mukmin di bulan itu terkondisi. Dan itu adalah sangat wajar alias sangat normal.

Namun Ramadhan adalah satu bulan, tersisa setelahnya sebelas bulan yang lain. Ia adalah zona karantina. Layaknya kehidupan madrasah dengan segala fasilitas pendidikannya, di luar sana, ada kehidupan lebih panjang, dengan segala tantangannya.

Seorang mukmin, ia mengambil kesempatannya. Ia pun menikmati bagaimana rasanya menjadi ‘orang yang lebih baik’ , di bulan ini.

يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ
“Wahai pecinta kebaikan, majulah. Wahai pecinta kejelekan tahanlah…” (HR. Tirmidzi)

Namun ketika Ramadhan berlalu, mereka terpilah. Sebagian kembali lagi seperti sebelumnya, dan sebagian memilih untuk menjaga semangat ketaatan di Ramadhan, ia terapkan pada bulan-bulan setelahnya sebagai sebuah ‘kenormalan baru.’

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan tetap sembahlah Rabbmu, sampai kematian mendatangimu.” (QS. Al Hijr:99)

Oleh:
Abu Ismail Bambang