Dua Kontradiksi

Berkata para ulama,
“Sesungguhnya ada hamba yang jatuh dalam dosa, tapi ga dengan itu dia masuk surga. Dan ada yang melakukan kebaikan, namun dengan itu dia masuk neraka.”

Bagaimana bisa ?

Penjelasannya, hamba tersebut mengerjakan dosa. Kemudian dosa itu selalu terbayang di pelupuk matanya. Ia merasa takut, menyesal, menangis dan malu kepada Allah. Ia pun tertunduk kepalanya di hadapanNya. Sehingga jatuhnya ia dalam dosa itu menjadi lebih bermanfaat daripada seandainya dia melakukan ketaatan yang banyak. Hal itu karena penyesalan-penyesalan yang muncul, yang menyebabkan dia meraih kebahagiaannya.

Sehingga dosa yang dia lakukan itu menjadi sebab ia masuk ke dalam surga.

Sebaliknya. Hamba melakukan kebaikan. Namun ia merasa telah memberi karunia kepada Tuhannya. Ia merasa sombong, merasa hebat, kagum terhadap dirinya dan melampaui batas. Bisa jadi dia mengatakan, “Saya sudah melakukan ini dan itu.”
Dia sombong, bangga diri dan melampaui batas. Sehingga dengan itu, ia celaka.

Nah, bila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba lemah ini, Allah akan timpakan perkara yang bisa membuatnya merasa rendah dan kecil dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Namun apabila Allah menghendaki yang sebaliknya, maka Allah biarkan ia merasa sombong, merasa besar dan bangga diri. Inilah bentuk Allah menelantarkannya, hingga dengan itu ia pun binasa.

Wallahu A’lam (lihat : Al Wabilus Shoyib, Ibnul Qoyyim)

Sebagian tlah membiarkan ia terlantar berdiri tak sempat membukakan pintu
Sebagian mempersilakan ia duduk tanpa sempat menjamu.
Sebagian duduk menemani, namun ia hanya memberi sisa-sisa waktu.
Sebagian benar-benar menyiapkan perhatian dan waktunya, demi hak sang tamu.

Dan akhirnya, mereka semua hanya bisa terpaku di ambang pintu, menyaksikan ia berlalu…

Apakah sesal dan malu atas segala kekurangan dalam sambutan dan jamuan..
Ataukah merasa berjasa dan bangga telah memberi karunia..
—————————