Diangkat di Empat Tempat

Pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabiin dan generasi setelahnya, termasuk Imam Syafii dan Imam Ahmad tentang disunnahkannya mengangkat tangan ketika takbir dalam shalat, pada tiga tempat seperti disebut dalam hadits,

عْنِ عبداللَّهِ بن عمر : «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، وَكَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ

Dari Abdullah bin Umar, bahwa rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau mengangkat tangan setinggi bahu jika membuka shalat dan ketika bertakbir untuk ruku. Dan juga ketika mengangkat kepala bangkit dari ruku, sambil mengucap,
‘Sami’allahu li man hamidah.
Rabbana wa lakal hamdu’

Dan ketika sujud, beliau tidak melakukannya. (HR Bukhari Muslim)

Mengangkat tangan juga disunnahkan di tempat yang keempat menurut sebuah riwayat dari Imam Ahmad dan juga dari Imam Syafii dan yang lainnya berdalil hadits Abu Humaid,

ثُمَّ إِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ

…kemudian jika bangkit dari dua rakaat, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya setinggi bahu. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Sehingga disunahkan mengangkat tangan ketika
– takbiratul ihram
– ketika turun untuk ruku
– ketika bangkit dari ruku, dan
– ketika bangkit dari duduk tahyat awwal.

Wallahu a’lam

(sumber : Taisirul Alam)