Beda Lupa, Beda Sengaja

Orang yang SENGAJA menunda shalat fardhu tanpa ada udzur, sampai keluar dari waktunya, diperselisihkan apakah bisa ditebus dengan mengqadhanya atau tidak.

Berbeda dengan orang yang tertidur atau terlupa, maka ia diberi udzur.

((مَن نَسِيَ صَلاةً أو نام عنها فكفَّارتُها أن يُصلِّيَها إذا ذَكرَها ))

Barang siapa yang terlupa atau tertidur dari shalatnya maka tebusannya adalah ia kerjakan ketika ingat. (HR Muslim)

Sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang melewatkan waktu shalat dengan sengaja, ia harus mengqadha. Alasannya, apabila orang yang memiliki udzur karena tertidur atau lupa saja harus mengqadha, maka orang yang tidak punya udzur, lebih wajib lagi.

Adapun sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa orang tersebut tidak ada kesempatan mengqadha sama sekali, dan seandainya ia mengqadha, maka tidak diterima. Jalan satu-satunya hanya bertaubat dengan sungguh-sungguh dan memperbanyak istighfar dan shalat-shalat sunnah.

Tidak dituntut qadha darinya bukan berarti lebih ringan urusannya dibanding dengan orang yang terlupa atau tertidur.

Argumen lain pendapat ini adalah pernyataan Nabi bahwa, barang siapa yang mendapat satu rakaat ashar sebelum tenggelam matahari, berarti ia dihitung mendapat shalat ashar sempurna.

Disini ada pembatasan minimal satu rakaat. Sehingga, menjadi berbeda hukumnya, jika kurang dari itu atau bahkan ia sengaja mengakhirkan sampai masuk waktu maghrib.

(Sumber : Taisir Alam)

Wallahu a’lam