Search for:
Donasi Pembangunan 4 Ruang

PROGRAM WAKAF RUANG KELAS

PONDOK PESANTREN IBNU TAIMIYYAH SUMPIUH

TAHUN 2022

 

Bismillah,

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)

Berkat rahmat dan karunia Allah Ta’ala, Pondok Pesantren Ibnu Taimiyyah Sumpiuh membuka Program Wakaf Pembangunan Gedung Kelas tahap I.

Mengingat kebutuhan mendesak pembangunan lokal kelas Pondok Pesantren Ibnu Taimiyyah Sumpiuh sebagai Pondok Yang memadukan Pendidikan Formal ( Ula, Wustho, Ulya) dan Non Formal ( LPBA dan Tarbiyyatun Nisa), Maka Pondok Pesantren Ibnu Taimiyyah Sumpiuh Membutuhkan ruang kelas sebagai fasilitas kegiatannya.

Pentingnya fungsi ruang kelas dalam kegiatan pembelajaran dan mendesaknya kebutuhan yang diperlukan oleh Pondok Pesantren Ibnu Taimiyyah Sumpiuh, untuk itu Kami mengajak Saudara kaum muslimin dimanapun berada, untuk ikut berpartisipasi dalam Wakaf Donasi Ruang Kelas Pondok Pesantren Ibnu Taimiyyah Sumpiuh sebagai amal jariyah yang tidak terputus yang sangat kita butuhkan di akhirat kelak.

Adapun kebutuhan dana pembangunan lokal kelas tahap kedua, dibutuhkan biaya sekitar 278.800.000,00. dengan Rincian sebagai berikut :

Kami mengajak saudara semua untuk dapat membantu Program Wakaf Ruang Kelas Pondok Pesantren Ibnu Taimiyyah, sehingga kegiatan belajar mengajar untuk para santri di Pondok Pesantren Ibnu Taimiyyah dapat berjalan dengan baik.

Atas bantuan dana dan doa yang saudara berikan kami ucapkan Jazakumullah khoiron katsiron. Mudah-mudahan Allah Ta’ala berkenan menerima amal jariyah kita, dan memberikan pahala dari segala bentuk amal soleh yang saudara lakukan.

Wakaf Donasi Pembangunan Ruang Kelas Tahap kedua

Pondok PesantrenPesantren Ibnu Taimiyyah dapat disalurkan melalui:

Rekening BNI

(009)3991399139

a/n Yayasan Ibnu Taimiyyah Sumpiuh

Konfirmasi Transfer

0852 2661 2654

Ustadz Akhmad Yuswaji, Lc

Dengan Format : WKKelas*Nama*alamat*tanggal*nominal transfer

Jika tidak konfirmasi akan dimasukkan ke donasi umum Pondok Pesantren Ibnu Taimiyyah Sumpiuh

Jika tidak mampu membantu dana Wakaf Ruang Kelas, saudara bisa menyebarkan pesan ini, semoga tetap akan menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus pahalanya, amin.

___

 

Sumpiuh, 29 Januari 2022

Pimpinan Yayasan Ibnu Taimiyyah

ttd

Ustadz Akhmad Yuswaji, Lc

Update Proses Pembangunan

Update Dana Pembangunan
27/01/2022

  1. Hamba Allah Rp 100.000,00
  2. Hamba Allah Rp 500.000,00
  3. Hamba Allah Rp 250.000,00
  4. Hamba Allah Rp 350.000,00
  5. Hamba Allah Rp 100.000,00

    Total Sementara Rp 1.300.000,00

Doa

Dari Aisyah radhiallahu anha sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada beliau doa ini:

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآَجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ، وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ تَقْضِيهِ لِي خَيْرًا

رواه أحمد في مسنده، رقم 24498، وابن ماجة في سننه، رقم 3846 ، وصححه الألباني في صحيح الجامع، رقم 1276

“Ya Allah, saya memohon kepadaku semua kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda. Apa yang saya ketahui maupun tidak saya ketahui. Saya berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui. Ya Allah, sungguh saya memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad sallallahu alai wa sallam kepada-Mu dan saya berlindung kepada-Mu dari apa yang diminta perlindungan oleh hamba dan nabi-Mu. Ya Allah, saya memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan saya berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan atau perbuatan. Dan saya memohon kepada-Mu semua takdir yang Engkau tentukan baik untukku.” (HR. Ahmad di Musnad, 24498. Ibnu Majah di Sunannya, 3846. Dinyatakan shahih oleh Albani dalam kitab Shohih Al-Qur’anJami’, 1276)

Dua Kontradiksi

Berkata para ulama,
“Sesungguhnya ada hamba yang jatuh dalam dosa, tapi ga dengan itu dia masuk surga. Dan ada yang melakukan kebaikan, namun dengan itu dia masuk neraka.”

Bagaimana bisa ?

Penjelasannya, hamba tersebut mengerjakan dosa. Kemudian dosa itu selalu terbayang di pelupuk matanya. Ia merasa takut, menyesal, menangis dan malu kepada Allah. Ia pun tertunduk kepalanya di hadapanNya. Sehingga jatuhnya ia dalam dosa itu menjadi lebih bermanfaat daripada seandainya dia melakukan ketaatan yang banyak. Hal itu karena penyesalan-penyesalan yang muncul, yang menyebabkan dia meraih kebahagiaannya.

Sehingga dosa yang dia lakukan itu menjadi sebab ia masuk ke dalam surga.

Sebaliknya. Hamba melakukan kebaikan. Namun ia merasa telah memberi karunia kepada Tuhannya. Ia merasa sombong, merasa hebat, kagum terhadap dirinya dan melampaui batas. Bisa jadi dia mengatakan, “Saya sudah melakukan ini dan itu.”
Dia sombong, bangga diri dan melampaui batas. Sehingga dengan itu, ia celaka.

Nah, bila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba lemah ini, Allah akan timpakan perkara yang bisa membuatnya merasa rendah dan kecil dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Namun apabila Allah menghendaki yang sebaliknya, maka Allah biarkan ia merasa sombong, merasa besar dan bangga diri. Inilah bentuk Allah menelantarkannya, hingga dengan itu ia pun binasa.

Wallahu A’lam (lihat : Al Wabilus Shoyib, Ibnul Qoyyim)

Sebagian tlah membiarkan ia terlantar berdiri tak sempat membukakan pintu
Sebagian mempersilakan ia duduk tanpa sempat menjamu.
Sebagian duduk menemani, namun ia hanya memberi sisa-sisa waktu.
Sebagian benar-benar menyiapkan perhatian dan waktunya, demi hak sang tamu.

Dan akhirnya, mereka semua hanya bisa terpaku di ambang pintu, menyaksikan ia berlalu…

Apakah sesal dan malu atas segala kekurangan dalam sambutan dan jamuan..
Ataukah merasa berjasa dan bangga telah memberi karunia..
—————————

Karena Hidayah


ولتكبروا الله على ما هداكم

Dan hendaklah kalian mengagungkan  Allah atas hidayah yang Dia berikan kepada kalian".

(QS. Al Baqarah:185)

Syaikh Ibnu Utsaimin _rahimahullah_ berkata :

فالإنسان إذا صام رمضان وأكمله فقد من الله عليه بهدايتين: هداية العلم وهداية العمل.

"Jika seseorang   berpuasa di bulan Ramadhan dan menyempurnakannya, maka sungguh Allah telah mengaruniakan dua hidayah kepadanya, yaitu hidayah ilmu dan hidayah beramal".


(Tafsir surat Al Baqarah)

Barakallahufikum.


Oleh : Abu Unaisah Tamim _hafizhahullah_

Dua Sayap Menuju-Nya

Siapa yang Allah inginkan untuknya kebaikan, maka Allah jadikan ia melihat dirinya hina, tak berdaya, selalu menghiba dan butuh kepada Allah, penuh cela, bodoh dan tak patuh. Dan bersamaan itu, ia mempersaksikan kebaikan tuhannya, kebaikan, kasih, kemurahan, kebaikan, kekayaan dan kemuliaanNya.

Ahlu ma’rifat, para hamba yang mengenal-Nya, mereka berjalan menuju Allah di antara dua sayap ini. Tak akan mampu hamba menempuh jalan tanpa keseimbangan keduanya. Siapa yang kehilangan salah satunya, akan seperti burung yang kehilangan satu sayapnya.

Berkata Syaikhul Islam,

العارف يسير إلى الله بين مشاهدة المنة و مذالعة عيب النفس و العمل.
“Ahlu ma’rifat berjalan kepada Allah di antara mempersaksikan karuniaNya dan mengakui kekurangan diri dan amalnya.”
(Al Wabilus-Syoyib)

Dua Wafat

Sekilas, hidup nampaknya rutinitas biasa. Siang hari bekerja, mengumpulkan apa yang menjadi kebutuhannya, berupaya untuk lebih maju, mengejar harapan cita-cita.
Adapun saat malam tiba, tubuh telah ditimpa penatnya, sementara harapan-harapan baru masih menunggu. Maka kegelapannya menjadi selimut yang menenangkannya, untuk mengurai ketegangannya, agar tubuh menemukan kembali kekuatannya, beraktivitas lagi esok harinya. Demikian putaran kesibukan anak Adam, sampai datang ajalnya. Lalu ia pun diwafatkan.

Sekedar itukah ? Allah Al Hakiim, syariat dan perbuatanNya yang penuh hikmah, tak mungkin sedangkal itu hakikat kesibukkan manusia. Padahal untuk bekal hidup mereka, Dia telah ciptakan apa yang ada di bumi seluruhnya.

Ada hikmah yang tinggi dan maksud yang besar dibelakang semua itu.
Allah berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُّسَمًّى ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ [الأنعام 60]

Dan Dialah yang mewafatkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari. Kemudian Dia menjadikanmu terjaga dan beraktifitas pada siang hari untuk disempurnakan umur yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.
””'”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””
# Allah memegang jiwa orang ketika matinya. Dan Dia memegang jiwa orang yang belum mati, di waktu tidurnya.
Maka Dia tahan jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain, sampai waktu yang ditetapkan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS AzZumar : 42)

——————————————
MARI MENEBAR SUNNAH, BERBAGI FAIDAH bersama Grup WA Semilir Sumpiuh

Bingkisan dan Bungkusan

ألا أهدي لك هدية

“Maukah engkau aku kasih hadiah?”

Demikian tawaran lembut Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu kepada murid beliau Ibnu Abi Laila rahimahullah.

Hadiah apa yah kira-kira? Bonus, THR, atau bingkisan dan bungkusan oleh-oleh lebaran?

Kalau itu yang kita kira, berarti kita keliru menduga.

Ternyata hadiah yang dimaksudkan beliau jauh lebih bernilai, yaitu sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

قُولُوا اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ… الحديثَ

“Ucapkanlah: Ya Allah bershalawatlah Engkau atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad”, … dan seterusnya.
(HR. Al Bukhari)

( Jalaul Afham hal. 8 )

Jazakumullahu khairan wahai para ustadz dan guru. Bingkisan antum teramat banyak dan bermutu.

Doakan kami agar bisa memanfaatkan bingkisan itu, hingga kain kafan membungkus raga saat ruh kami berpindah ke alam yang baru.

Allahumma inna nas-aluka husnal khatimah.

Oleh:
Abu Unaisah Tamim

Kenormalan Baru

Saat melewati Ramadhan, banyak dari kita menyiapkan dan menerapkan pola hidup yang ‘berbeda’. Intensitas Ibadah dan ketaatan yang cenderung meningkat. Pengelolaan emosi yang lebih terkendali. Kecenderungan jiwa berbuat baik yang lebih tinggi. Dan seperti itulah, seorang mukmin di bulan itu terkondisi. Dan itu adalah sangat wajar alias sangat normal.

Namun Ramadhan adalah satu bulan, tersisa setelahnya sebelas bulan yang lain. Ia adalah zona karantina. Layaknya kehidupan madrasah dengan segala fasilitas pendidikannya, di luar sana, ada kehidupan lebih panjang, dengan segala tantangannya.

Seorang mukmin, ia mengambil kesempatannya. Ia pun menikmati bagaimana rasanya menjadi ‘orang yang lebih baik’ , di bulan ini.

يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ
“Wahai pecinta kebaikan, majulah. Wahai pecinta kejelekan tahanlah…” (HR. Tirmidzi)

Namun ketika Ramadhan berlalu, mereka terpilah. Sebagian kembali lagi seperti sebelumnya, dan sebagian memilih untuk menjaga semangat ketaatan di Ramadhan, ia terapkan pada bulan-bulan setelahnya sebagai sebuah ‘kenormalan baru.’

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan tetap sembahlah Rabbmu, sampai kematian mendatangimu.” (QS. Al Hijr:99)

Oleh:
Abu Ismail Bambang

Maju Mundur

Saat Ramadhan semangat hati berlipat. Tak sekedar ibadah wajib yang harus didapat, yang sunnah pun berusaha agar tak terlewat.

Kini Ramadhan berlalu, bisa jadi baca Qur’an, qiyamullail mudah ditinggalkan seiring suasana hati yang pudar semangatnya.

Itulah kita dan hati yang sangat cepat berubah, kadang maju kadang mundur, pasang dan surut dalam ketaatan.

Umar _radhiyallahu ‘anhu_ pernah berpesan :

أن لهذه القلوب إقبالا وإدبارا، فإذا أقبلتْ فخذوها بالنوافل، وإذا أدبرت فألزموها الفرائض

Makna bebas ucapan beliau tersebut kurang lebih :

"Sungguh hati ini memiliki semangat yang kadang mengencang dan   mengendur.

Bila sedang mengencang, maka manfaatkanlah untuk memperbanyak amalan sunnah.

Saat sedang  mengendur, maka paksa ia untuk tetap menjalankan  kewajiban ".

( Tahdzib hal. 449 )

Mumpung sisa semangat masih ada, semoga sunnah di bulan Syawwal bisa tertunaikan.

Jika memang lagi mundur, semoga yang wajib tetap dipertahankan, maksiat terhindarkan.

Barakallahufikum.

Oleh:
Abu Unaisah Tamim

Waspada Di Hari Bahagia

Gangguan pencernaan, keluhan kebanyakan mereka yang duduk di ruang tunggu dokter di hari-hari lebaran. Sebenarnya, bukan cuma mereka. Karena sebagian yang lain punya keluhan sama, hanya saja, cukup dengan penanganan obat tradisional seadanya atau obat warung terdekat dengan rumahnya. Yang jelas, kurang berhati-hati di masa peralihan, berdampak buruk bagi kesehatan. Di sini, perlunya pendampingan adab Islam dalam hidup keseharian.

Kata para ulama, menikmati makanan dan minuman penuh selera, bukan terlarang dalam agama. Karena bagaimanapun kita bertahan hidup dengannya. Yang dilarang adalah berlebihan dalam mengkonsumsinya.

وكلوا و اشربوا ولا تشرفوا (الاعراف ٣١)
_”Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan.”_ (QS. Al A’raf:31)

Berkata Imam Ibnu Katsir _rahimahullah_,
_”Berlebihan dalam makan itu berpengaruh buruk terhadap akal dan badan”_

Berkata Abu Darda’ _radhiyallahu ‘anhu_,
_” Diantara tanda kecerdasan seorang, tidak berlebihan dalam gaya hidup keseharian”_

Ahli Fikih, mereka menyatakan _makruh_ nya makan kekenyangan. Sebagian mereka, malah menganggapnya _haram_ .

Berkata, Syaikhul Islam,
_” Makan berlebihan itu tercela.”_

Tak ketinggalan, para ahli kesehatan sepakat bahwa hidup sehat akan didapat dengan mengurangi makan kenyang. Makan kenyang justru akan melemahkan badan, menjadikannya lesu dan malas, menjadikan hati keras, mengganggu kecerdasan, mengundang kantuk, melemahkan gairah ibadah, memicu berbagai potensi penyakit dan hilangnya semangat muda.

Menutup penjelasannya, Syaikh Abdullah Al Fauzan menambahkan,
_” Berlebihan itu kadarnya relatif. Antar individu, bisa berbeda. Demikian pula satu tempat dan tempat lainnya, satu daerah dengan daerah lainnya. Patokannya adalah ketika ia telah melampaui batas wajarnya.”_
( _Minhatul Alam_ )

Oleh:
Abu Ismail Bambang